BNN

Pameran Temporer di Museum Lambung Mangkurat

  • Bagikan
Kadisdikbud Kalsel Muhamad Yusuf Effendi membuka resmi pameran temporer. (Sumber Foto: Humas Museum Lambung Mangkurat/koranbanjar.net)

Museum Lambung Mangkurat mengadakan pameran temporer di ruang pamer di museum kebanggaaan Kalimantan Selatan tersebut.

BANJARBARU,koranbanjar.net – Pameran berlangsung sejak tanggal 7 sampai 26 September 2021, menyajikan lukisan perjuangan tempo dulu dan lukisan sejarah yang menarik lainnya.

Pameran temporer Dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) Drs Muhammad Yusuf Effendi MAP, ditandai dengan pemotongan pita.

“Pameran yang dilaksanakan ini sebagai upaya untuk terus menjaga kesenian di tengah masyarakat,” katanya.

Pameran Temporer mengangkat judul: Bingkai Sejarah Banua Banjar. Bertema: Kedamaian, Perjuangan dan Kebebasan.

Membuka lembaran sejarah Kota Banjarmasin, maka Kesultanan Banjarmasin berdiri pada tanggal 24 september 1525/6 Zulhijjah 932 H, merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Hujung Tanah.

Sejak zaman kuno hingga abad 15, daerah ini dikenal sebagai satu satunya penghasil intan di Indonesia. Ditambah dengan kekayaan alam berupa rotan,anyaman,kayu ulin, meranti, getah damar, emas dan lain-lain.

Terutama lada (sahang) yang menjadi komoditas utama jalur laut perdagangan nusantara, membawa Kerajaan Banjar memasuki era keemasan di abad 17, monopoli perdagangan dilakukan oleh bangsa-bangsa asing terutama Belanda (VOC) melemahkan Kesultanan Banjarmasin.

Kontrak-kontrak dagang berdampak pada ekonomi kerajaan dan kekuasaan sultan. Kegaduhan politik dan intrik istana dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Puncaknya penandatangan perjanjian 1787 dilakukan Susunan Nata Alam, Sultan Sulaiman dan Sultan Adam Al Wasik Billah, menjadikan Banjarmasin daerah vasal saja.

Perjanjian yang dilakukan susunan Nata Alam terdiri dari Acte van Afstand 13 Agustus 187, Tractaat 13Agustus 1787, Proclamatie 1 Oktober 1787 dan Sep.Articul her Tractaat van 13 Agustus 1787, serta perjanjian 22 April 1789.

Inilah titik balik dari kebesaran bangsa Banjar sebagai kerajaan pinjaman, wilayahnya diperkecil dengan melepaskan negeri-negeri pasir dengan wilayah takluknya, Pulau Laut, Tabunio, gunung-gunung serta separo dari Dusun Tatas dan Dayak-dayaknya(Mendawai, Sampit, Pembuang, Kotawaringin).

Perebutan tahta kerajaan dan kepentingan dagang Belanda(VOC), membuat ketentraman tanah Banjar bergolak. Pemberontakan dan perampokan kapal dagang Belanda terjadi, akibat ketidak puasan rakyat terhadap campur tangan dalam politik dan ekonomi kerajaan.

Terlebih setelah Sutan Adam meninggal 1857 lebih memperburuk situasi, Perjanjian tahun 1826 yang isinya antara lain “Syarat-syarat pengukuhan (pelantikan) pergantian pejabat tahta Kesultanan Banjarmasin harus memicu perang terbuka antara rakyat yang dipimpin Pangeran Antasari dengan Belanda menyerbu pertambangan batu bara “ORANG NASSAU.”

Perlawanan bangsa Banjar mempertahankan harga diri, kebencian terhadap penindasan, kemiskinan dan perusakan moral yang tidak sesuai dengan budaya agama, serta adat istiadat, menguatkan tekat bersatu dalam kebebasan dalam kedaulatan.

Perlawanan rakyat terus berkobar sampai tahun 1905, walaupun Kesultanan Banjarmasin dihapuskan tahun 1860.

Banyak peristiwa penting terjadi pada masa Kesultanan Banjarmasin sebagai bangsa yang besar penuh dinamika. Semua itu ditampilkan pada Pameran Temporer Ke -1 TA 2021 Museum Lambung Mangkurat, dengan judul BINGKAI SEJARAH BANUA BANJAR “Perjuangan dan Kebebasan”. (museumlambungmangkurat/dya)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − 10 =