Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Mengungkap Cerita Anak Yatim Jelang Lebaran Tanpa Orang Tua Kandung

- Tak Berkategori
  • Bagikan

Momen lebaran Idul Fitri 1442 H adalah merupakan momen yang paling bahagia bagi umat muslim, terutama bagi anak-anak. Karena di momen itulah mereka akan berkumpul dengan orang tua maupun keluarga. Namun bagaimana perasaan yang dialami para anak yatim menyambut lebaran tanpa orang tua kandung?

TANAH BUMBU, koranbanjar.net – Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah sudah semakin dekat. Meski dirayakan tanpa bersama dengan kedua orang tua kandung, namun sejumlah anak panti asuhan di Tanah Bumbu ini tetap merasa berbahagia.

Kebahagian itu diutarakan salah satu anak masih berusia 10 tahun ini kepada awak media Koranbanjar.net saat disambangi di pondok pesantren Darul Azhar atau yayasan Istana Anak Yatim di Tanah Bumbu, Sabtu (1/4/2021).

“Saya gembira bersama orang tua ada saat ini, walaupun bukan orang tua kandung tapi seperti orang tua kandung atau ayah bagi saya” tutur satu anak yatim di Darul Azhar.

Setiap tahun momen lebaran, ia mengaku tidak jauh berbeda dengan orang lain pada umumnya, yakni berkumpul bersama keluarga.

“Biasanya dihabiskan kumpul bersama dengan keluarga, dan bercengkrama saling berbagi cerita,” bebernya.

Menanggapi cerita adik santrinya itu, Mahasantri, Mubarok (30) mengatakan, memang demikian, tapi tentu ada suka dukanya juga.

“Dahulu sewaktu masih waktu kecil, ketika lebaran selalu iri sama orang karena mereka bisa bercengkrama kepada kedua orang tuanya, tapi sekarang saya tidak merasakan itu lagi. Karena setiap lebaran bersama ayah (dr HM Zairullah Azhar) dan bunda (Hj. Wahyu Windarti Azhar) di istana, dan kami tidak dibedakan satu sama lain,” ungkap santri lulusan Hadramaut ini.

Meski demikian, dia mengaku, memang perbandingan tahun lalu pada saat lebaran, tidak terlalu begitu terasa, lantaran banyak keluarga dari Istana Anak Yatim tidak datang karena Covid-19.

Sekedar diketahui, Istana Anak Yatim didirikan dr. HM Zairullah Azhar ini banyak para santrinya yang disekolahkan ke luar daerah seperti ke Gontor, bahkan ke luar negeri di Hadramaut, Yaman.

Mereka bersekolah di sana, ada yang menghafal Quran, dan belajar bahasa Arab dan lainnya.

Pria ini sudah tinggal selama 15 tahun di Istana Anak Yatim ini, sedikitnya berharap agar tempat yang ditinggalinya saat ini bisa terus menjadi tempat kebahagian banyak anak yatim lainnya nanti.

“Harapan saya semoga istana anak yatim ini kedepan lebih bagus lagi, dan menjadi contoh di seluruh indonesia,” tutup Mubarok.(ags/sir)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *