Baznas

Mau Coba Mie Bancir ala Chef Agus? Ternyata Begini Ramuannya….

  • Bagikan

BANJARMASIN – Mie bancir adalah salah satu makanan khas Banjar yang namanya sudah tak asing lagi di telinga masyarakat banua. Mie bancir dulunya hanya bisa dinikmati di pasar tradisional atau di warung pinggir jalan. Namun berkat sentuhan kreatif sang jebolan Master Chef Indonesia yaitu Agus Sasirangan, mie bancir kini bisa dinikmati dengan nuansa yang lebih modern.

Pemuda Asli Banjarmasin yang bernama asli Agus Gazali Rahman, S.Pd inilah yang telah mengkreasikan dan membuat brand Mie Bancir sebagai mie khas Banjar untuk lebih dikenali dan dicintai para pecinta kuliner khususnya warga Banua.

Setelah menjadi runner up Master Chef Indonesia tahun 2011, aktivitas Agus Sasirangan lebih banyak mengisi acara off air dan on air seperti demo memasak, juri kompetisi memasak dan mengisi program acara televisi, sehingga belum terpikir untuk membuat sebuah usaha kuliner.

“Setelah selesai di Master Chef tahun 2011 aku merasa seperti buah yang belum matang jadi belum terpikirkan untuk membuka sebuah usaha. Namun setelah 3 tahun berjalan dan dirasa sudah punya banyak link dan sedikit rezeki untuk membuka usaha, akhirnya tahun 2014 tanggal 15 November baru aku bikin usaha rumah makan mie bancir ini. Kenapa memilih mie bancir ? Karena itu adalah salah satu makanan favorit aku dan aku pikir disini kok mie bancir belum ter-branding dengan baik dan pengen kuangkat agar populer karena yang khas belum tentu populer kan, ya contohnya seperti mie bancir ini,” ujarnya.

Agus menerangkan dia tidak ingin membuat rumah makan dengan nama dia yang sudah dikenal oleh banyak orang, tetapi dia ingin mengangkat makanan khas daerah menjadi sebuah brand sehingga ketika orang menyebut mie bancir orang terpikir bahwa itu mie bancir yang dikreasikan dan dipopulerkan Chef Agus Sasirangan. Mie bancir sendiri sudah populer sejak dulu yang berasal dari celetukan para pedagang, Agus menerjemahkan bahwa mie bancir ini adalah mie yang nanggung, di antara mie kuah dan mie goreng.

“Aku berpikir untuk mencoba mengangkat mie bancir yang kesannya dari kaki lima tapi dibuat ke dalam konsep semi resto sehingga orang makan mie bancir di tempat yang nyaman dan bersih. Selain itu, kita juga menyediakan hidangan lain yang nggak hanya mie bancir namun ada juga makanan khas banjar lainnya. Konsep untuk ke depan Mie Bancir Agus Sasirangan seperti rumah makan terkemuka lainnya dan mie bancir akan menjadi sebuah restoran khas Banjarmasin,” ucapnya.

Rumah makan ini mempunyai sebanyak 5 Outlet, yang pertama di Kayu Tangi Banjarmasin, yang kedua di Jalan Panglima Batur Banjarbaru, yang ketiga di Food Court Q Mall Banjarbaru, yang keempat Food Court Duta Mall Banjarmasin, dan yang kelima di Kota Samarinda dengan sistem cabang yang dikelola sendiri oleh Agus.

“Namun ke depan kami ingin membuka sistem kemitraan kepada investor yang ingin bekerja sama dan mempopulerkan mie bancir sebagai masakan khas Banjar. Sebab sudah banyak  masukan dari teman artis untuk buka cabang di luar Kalimantan,” terangnya.

Dalam mengelola outlet, Agus mengamalkan ilmu manajemen restoran yang dulu dia pelajari saat kuliah di Malang. Berbekal ilmu tersebut, Agus bisa membuat SOP dan memenej atau mengatur karyawannya dengan baik. Setiap bulan Agus mengadakan briefing untuk para karyawan. Sekarang karyawan di semua outlet kurang lebihnya 50 orang. Alur keuangan pun terkelola dengan baik. Omset perharinya pun cukup fantastis, yaitu penghasilan kotornya sekitar 5 juta perhari saat weekday, tetapi saat weekend bisa mencapai 7 sampai 10 juta.

Pengunjung Rumah makan Mie Bancir  terdiri dari semua kalangan. Menurut Agus mie bancir ini tidak identik dengan makanan yang mahal, sehingga baik mahasiswa atau keluarga bisa makan disini dengan harga yang terjangkau. Dan juga ada promo khusus setiap bulan yaitu paket Mantan (Masih seenak dan semanis yang dulu) dengan harga hanya Rp19.999 sudah termasuk minum dan lebih hemat sekitar 10 ribuan dari harga normal dan dibuka mulai hari senin sampai Jum’at.

“Untuk bisa menjangkau para customer kita mulai dari harga dua puluh ribu sampai tiga puluh ribuan. setiap momen hari libur nasional kita selalu mengeluarkan paket istimewa agar berusaha menjangkau teman-teman mahasiswa dan pelajar agar bisa menikmati makanan ini dan tidak terhalang oleh harga, tapi sebenarnya mie bancir agus sasaringan juga bermain di kualitas.

Maksudnya kita pakai bahan-bahan yang khas dari Kalimantan Selatan, telurnya pakai telur itik alabio dan ayam kampung asli serta limaunya harus pakai limau kuit, jadi kita nggak merubah standar itu, yang merupakan bahan khasnya mie bancir, gitu” jelasnya.

Agus menjelaskan, setelah dia membuka rumah makan mie bancir ini, banyak yang mencoba untuk ikut-ikutan. Bisa dikatakan itu adalah kompetitor atau ikut-ikutan membuat masakan yang sama walaupun dengan brand yang berbeda. Tetapi Agus tak ambil pusing untuk itu, dia senang jika produknya banyak menginspirasi orang banyak dan dia berfikir positif bahwa orang-orang itu juga peduli dengan makanan khas daerahnya sendiri dan ikut melestarikannya.

“Aku tu sampai saat ini masih fokus sama konten lokal. Banyak temen-temen yang nanya sama aku, gimana komentarnya tentang kue kekinian punya artis. Ya, sebenernya nggak ada yang ngelarang untuk berbisnis, cuma sebenernya akan lebih bangga atau lebih salut dengan mereka yang mengangkat khas daerah, atau minimal ketika tidak bisa mengangkat khas daerah kita memanfaatkan bahan baku lokal daerah dan menjadi suatu produk yang akan khas dari daerah itu sendiri. Jadi bukan berarti mengadopsi kue-kue kekinian dari luar kemudian dijual disebuah daerah hanya untuk memanfaatkan nama besar mereka,” terangnya.

“ Terus mereka nanya lagi, mas Agus nggak bikin kue kekinian nih. Menurut aku nggak segampang itu, latahan orang bikin terus ikut bikin ini juga. Segala sesuatunya butuh analisa produk apa yang disukai pasar, dan bisnis tu nggak bisa setahun atau dua tahun aja kan. Setelah kita melahirkan sebuah usaha, kita tu kayak ngelahirin anak, umur setahun udah bisa jalan umur dua tahun udah bisa lari.

Nah, seperti itu juga bisnis, mau kita bawa kemana usaha ini untuk terus bertahan dan berkembang, setahun atau dua tahun udah bisa buka berapa cabang, jadi kalau cuma stak di satu tempat kan berarti nggak ada perkembangan dalam sebuah bisnis, gitu” terangnya lagi.

“Sebenernya aku selalu motivasi temen-temen di daerah, yuk kita yuk lebih aware sama apa yang ada disekitar kita. Karena sebenernya banyak banget potensi lokal daerah kita, kepikir nggak sih ngebranding lempeng di Duta Mall, yang selama ini kan lempeng tu ukurannya besar, kebayang nggak bikin lempeng mini dengan kemasan yang menarik kemudian bikin beberapa varian rasa. Atau kebayang nggak makan intalu karuang di mall dengan cup yang menarik, atau bahkan menanak apam di mall.

Itu tu unik banget, jadinya nggak selalu yang khas daerah itu disajikan dengan kemasan yang lokal banget. Artinya kita nggak mengubah bahan baku kita nggak mengubah rasa, tapi kita berikan sentuhan inovasi sehingga anak muda tu lebih tertarik dengan di lokal tadi. Karena sekarang orang-orrang daerah aja kurang aware sama makanan khas daerah apalagi untuk menikmati itu, makanya itu butuh sentuhan inovasi,” jelasnya.

“Banyak banget makanan khas daerah kita yang belum terbranding dengan baik. Coba deh, tengok kanan kiri, 41 macam wadai khas Banjar itu belum terbranding dengan baik. Sampai sekarang juga belum ada suatu cafe yang menyajikan wadai-wadai khas Banjar, kebayang nggak nongkrong di cafe sambil makan kekoleh, lupis atau ngopi-ngopi khas lokal seperti kopi laba-laba atau kopi-kopi khas Banjar. Karena wisatawan yang datang kesini pun nggak mungkin kan nyari donat atau pizza, mereka pasti nyari apa yang khas di Banjarmasin,” ujarnya

“Jadi aku bilang sama temen-temen, ayolah kita sama-sama menjadi tuan rumah di daerah kita sendiri. Jangan sampai kita nggak bisa menjadi tuan rumah yang baik di bidang kuliner. Dan juga kita harus bisa menjadi raja di kandang sendiri.

Jangan sampai justru daerah kita di rajai oleh kuliner dari luar. Karena ekonomi kreatif nomor satu di Indonesia itu adalah kuliner, yang kedua fashion, jadi ketika kita menjadi kota pariwisata, kita harus siap dalam hal kuliner khas daerahnya. Dan juga kuliner kan berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat, karena tamu yang datang pasti makan, cari oleh-oleh dan jajanan, gitu,” pungkasnya. (ana/ezp)

  • Bagikan