Luaskan Pemasaran UMKM Binaan, Adaro Kembangkan Digitalisasi Pemasaran

Ajang seleksi bagi pelaku UMKM di Tabalong yang diinisiasi CSR Department Adaro. (Sumber Foto: Vit/Koranbanjar.net)
Ajang seleksi bagi pelaku UMKM di Tabalong yang diinisiasi CSR Department Adaro. (Sumber Foto: Vit/Koranbanjar.net)

Hari Jadi Kabupaten Tabalong, turut mendatangkan berkah pelaku UMKM lokal, bagaimana tidak tidak kurang dari 300 lembar kain batik Tabalong dengan perpaduan corak Langsat, Sasirangan, serta ornamen khas Dayak, dipersiapkan untuk memenuhi pesanan pemerintah setempat.

TABALONG, koranbanjar.net salah satu pelaku UMKM, Erina yang bersama 8 anggotanya di Kelompok Pengrajin Sasirangan dan Batik Padang Panjang, merasakan bagaimana berjibaku dengan waktu, demi memenuhi pesanan.

“Selain itu, 300 lembar lainnya, juga disiapkan untuk kami tempatkan di Pusat oleh-oleh khas Tabalong (Pokta). Jadi yang tidak kebagian jatah pesanan Pemda, bisa beli kainnya di Pokta,” ujar Erina saat ditemui di beranda rumahnya, yang sekaligus menjadi wadah produksi kelompok.

Kemampuan menghasilkan sasirangan hingga batik, diawali Erina saat mengikuti pelatihan yang digelar pada 2019 lalu. Meski tak punya dasar terkait pengolahan kain Sasirangan dan batik, saat mengikuti pelatihan dasar itu, Erina mengaku ketertarikannya lantas menguat.

“Saya juga berpikir pak, kalau usai pelatihan ini, lantas didiamkan saja, kan sayang. Mulailah saya membuat produksi kecil-kecilan dengan menghimpun teman-teman peserta pelatihan. Awalnya, sekitar 20 orang,” jelas Erina.

Pemasaran pun, lanjutnya, masih mengandalkan informasi dari mulut ke mulut, juga lingkungan terdekat. Seiring waktu, jumlah anggota turut berkurang, karena pasang surut usaha. Saat ini, kelompok usaha Sasirangan Padang Panjang, mampu bertahan dengan 8 orang anggota.

Kala pandemi menghantam, Erina mengaku, produksi mengalami sedikit penurunan, namun ia bersama kelompoknya bisa bertahan dengan meluaskan jejaring pemasaran melalui media sosial.

“Pasti terdampak pak, tapi kita berupaya tetap bertahan melalui perluasan pasar, juga pengembangan motif,” katanya.

Hal senada turut diungkapkan Ayu Fitri Wantira, pemilik usaha kerajinan pembuatan aksesoris perempuan, pemilik rumah produksi Syaber, Mabuun, Tabalong.

Sebelum fokus pada usaha aksesoris, Fitri sempat menekuni pembuatan fashion muslimah, berupa kerudung dan busana.

“Usaha Fashion itu, sempat mulai berkembang, namun disaat pandemi, penjualan sangat sepi. Padahal, waktu itu kami sudah stok bahan baku, dengan modal yang cukup besar. Karena penjualan sepi, barang tidak terjual, kami akhirnya merugi,” ujar Fitri.

Ia lantas banting setir, bangkit kembali dengan mencoba peruntungan produksi aksesoris dan hiasan dinding.

Persentuhan Fitri bersama CSR PT Adaro Indonesia, diawali ketika ia mengikuti even Adaro Spektrapreneur, sebuah ajang seleksi bagi pelaku UMKM di Tabalong yang diinisiasi CSR Department Adaro.

Pun demikian dengan Erina, saat badai pandemi, ia terjaring pantauan program CSR Adaro.

Para pelaku UMKM ini, secara intensif mendapat pendampingan, baik pelatihan maupun pendanaan.

Teranyar, mereka juga diarahkan untuk memasarkan produknya melalui kanal online, dengan program kolaborasi Adaro, bersama salah satu platform online shop besar di Indonesia.

Alhasil, perluasan pasar mulai mewujud, baik Erina maupun Fitri mengakui, produk mereka tak hanya beredar di seputaran wilayah Tabalong.

Seperti diungkapkan Fitri, yang produknya hingga melintasi antar provinsi.

“Untuk wilayah jauh lebih luas, seperti Samarinda, Balikpapan, hingga Sulawesi,” akunya.

Menyambut Era Digital

Hampir semua lini, kian tak lepas dari sentuhan teknologi, pun demikian dengan kebiasaan dalam transaksi jual beli.

Menurut pendamping pada program pemberdayaan UMKM dari CSR Department PT Adaro Indonesia, Muhammad Saputra, tak mungkin bisa menghindar dari sentuhan era digital saat ini.

Jadilah, usai sederet program pemberdayaan, mulai Adaro Spektra, hingga UMKM Tangguh yang dilakukan Adaro, guna memaksimalkan kemampuan olah produk, dan pemasaran, pelaku UMKM binaan Adaro menuju digitalisasi pemasaran.

Dari program tersebut, Putra ia karib disapa, mengatakan, pelaku UMKM wajib membagikan ilmunya pada pelaku UMKM lainnya, hingga terbentuk jejaring yang saling membantu.

Program kolaborasi Adaro bersama salah satu platform online shop yang memberikan ruang bagi pelaku UMKM binaan Adaro meluaskan sayap bisnisnya itu, terang Putra, akan berjalan 3 bulan, yang dimulai pada Oktober lalu.

“Antusiasme binaan kita sangat tinggi, untuk tahap awal ini, ada 60 UMKM yang terlibat di wilayah Tabalong, program ini juga memberikan pendampingan bagaimana memaksimalkan platform toko online untuk berjualan,” katanya.

Selain itu, para pelaku UMKM tak lagi terbatas ruang dan waktu, dalam hal pemasaran.

Program ini, lanjut Putra, sekaligus memberi solusi pada pelaku UMKM yang selama ini terkendala pemasaran.

Namun, tantangan awal saat program ini diperkenalkan ada pada pola pikir, banyak yang tidak pernah menggunakan dan tidak tahu tentang aplikasi.

“Pada fase inilah, mereka harus berjuang, dunia digital tidak bisa ditolak,” ungkap Putra.

Kedepan, upaya pemerataan program di 6 kabupaten lainnya, pada wilayah operasional Adaro, menjadi target.

“Keinginan kita sejalan dengan misi perusahaan, berusaha meningkatkan ekonomi bagi masyarakat sekitar wilayah operasional, pun selaras dengan upaya pemerintah setempat,” pungkasnya. (vit/dya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *