oleh

Kisah Kampung Kambang Besar, Melihat Kota Kandangan dari Atas

HSS, KORANBANJAR.NET – Kembang Kenanga segar yang dirangkai identik dengan tradisi keagamaan ziarah kubur sejak zaman dahulu kala, khususnya di Kalimantan Selatan. Biasanya rangkaian kembang diletakkan di makam yang diziarahi.

Setiap daerah di Kalsel memiliki masing-masing perkampungan pusat pembuatan rangkaian kembang kenanga itu. Seperti di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), ada satu kampung bernama Kambang Basar atau biasa orang Kandangan menyingkat Kambas.

Terletak di Desa Tabihi, Kecamatan Padang Batung, kaum perempuan di kampung itu sejak dahulu turun-temurun memproduksi rangkaian kembang, baik sendiri-sendiri namun kebanyakan mereka bergotong royong.

Menurut penuturan warga setempat, nama Kampung Kambang Basar ada kaitannya dengan tradisi merangkai kembang.

Pohon dari kembang kenanga zaman dahulu berukuran besar ada yang sampai berdiameter 1 meter dan tinggi lebih 10 meter, jadi memetik kembangnya harus dengan cara memanjat.

“Memang banyak pohon kembang yang besar di kampung ini, jadilah dinamakan Kambang Basar. Konon ceritanya saking besarnya, jika naik ke atasnya sampai bisa terlihat kota Kandangan,” ujar Kepala Desa Tabihi Muhammad Jani Lisar saat ditemui di rumahnya.

Saat ini tidak banyak lagi pohon yang berukuran besar karena banyak ditebangi, dan masyarakat sudah banyak berkebun cangkokannya sehingga lebih kecil dan tidak perlu sampai menaiki lagi.

“Dulu banyak yang jatuh saat menaiki pohon kenanga yang besar, kadang pemanjat pusing karena saat menaiki bisa terputar-putar,” ungkapnya.

Warga di kampung tersebut tidak tahu pasti sejak tahun berapa mulai memanfaatkan kembang Kenanga, yang pasti sudah turun-temurun dari zaman nenek moyang beberapa generasi.

Kembang rangkai yang bisa bertahan sampai dua-tiga hari tersebut ada yang mengepul untuk dijual ke pasar Kandangan, dan setiap harinya paling banyak menjual ke pasar Negara.

“Di Negara selain untuk tradisi tertentu, mereka juga meletakan di kelambu untuk mengharumkan kamar saat tidur, jadi jualan di sana setiap hari laku keras,” kata Rabiatul Adawiah sambil merangkai kembang bersama kerabat-kerabatnya.

Penjualan hanya di seputaran HSS, sebab masing-masing daerah punya pengrajin sendiri, dan sudah ada perjanjian tak tertulis untuk menjual tidak ke luar daerah.

“Pernah dulu ada masuk kembang dari luar daerah yang menjual di Kandangan, itu sangat merugikan kami,” ucapnya lagi.

Kaum perempuan di Kambang Basar pada jam tertentu berkumpul di pelataran rumah maupun pekarangan untuk merangkai kembang Kenanga. Pekerjaan yang mereka lakoni sebagai perangkai kembang bukan lah yang utama, melainkan sebagai tambahan penghasilan selain bertani dan berdagang.

Pembuatannya tidak susah, kembang kenanga yang sudah mulai berwarna kuning dipetik kemudian dicuci lalu disisipkan pada sebuah janur sekitar 20 sentimeter yang dibelah menjadi delapan bagian di ujungnya.

Dalam sehari satu orang bisa merangkai sekitar 30 sampai 50 kupak yang dilakukan saat waktu luang. Kupak merupakan sebutan untuk satuan jumlah kembang yang mereka rangkai.

Hari biasa satu kupak laku di pasar seharga seribu rupiah, tetapi ketika hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri atau Idul Adha bisa mencapai lima ribu rupiah.

Saat melalui kampung Kambang Besar, setiap halaman rumah atau samping rumah banyak ditemukan pohon kembang Kenanga cangkokan masing-masing selain mereka memiliki kebun khusus, sementara keberadaan pohon yang masih besar sudah jarang meskipun masih ada. (yat/dra)

Komentar

Berita Terkini