Kisah Hikmah (17); KH.Ahmad Nawawi Marfu, Ahli Fiqih yang Lembut dan Penyayang

  • Bagikan
Ulama Tanah Banjar, KH. Ahmad Nawawi Marfu, seorang ulama ahli fiqih asal Kota Martapura, Kalimantan Selatan. (foto: dok Ponpes Hidayatullah)
Ulama Tanah Banjar, KH. Ahmad Nawawi Marfu, seorang ulama ahli fiqih asal Kota Martapura, Kalimantan Selatan. (foto: dok Ponpes Hidayatullah)

KH. Ahmad Nawawi Marfu merupakan satu dari tiga ulama yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai pendiri Ponpes Hidayatullah Martapura, Kalimantan Selatan. Dua sahabat serangkainya yang lebih mendahuluinya menghadap kehadirat Allah yakni, KH.M. Hasyim Mochtar El Husaini dan KH.Nashrun Thahir. KH.Nawawi Marfu juga terkenal sebagai ulama yang menjadi rujukan tentang Ilmu Fiqih serta Hafizd Quran di Kalimantan Selatan khususnya.

MARTAPURA, koranbanjar.net – KH.Ahmad Nawawi Marfu adalah anak dari pasangan Marfu dengan Hj. Aluh Amas (nama gelar), yang lahir di Keraton Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 4 Juni 1921.

Menutut Ilmu di Makkah

Masa anak-anak, KH. Ahmad Nawawi Marfu belajar di SD Benteng selama 6 tahun, kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Setelah belajar 2 tahun di Pondok tersebut, dia menimba ilmu ke Makkah bersama temannya pada tahun 1937 untuk belajar di sana, kemudian bermukim di rumah Syekh Ali Abdulah Banjar.

Selama berada di Makkah, KH. Ahmad Nawawi Marfu sekolah di Ma’had Darul Ulum selama 2 tahun, kemudian pindah ke Ma’had Fakhriah Utsmaniyah selama 3 tahun dan di Ma’had Sholatiyah kurang lebih 2 setengah tahun, sambil menghapal Qur’an hingga menjadi hafidz. Malam hari, dia belajar di Kulliyatul Masjidil Haram, Makkah.

Di antara guru-guru KH. Ahmad Nawawi Marfu, antara lain, Syekh KH. Kasyful Anwar, Syekh Sayyid Amin Qutby, Syekh Ali Abdullah Banjar, Syekh Hasan Masyad, Syekh Umar Hamdan, Syekh Sayyid Alwi Makki, Syekh Abdul Qodir Almandzili, Syekh Abdul Qodir Ilyas, Syekh Zubair, Syekh Arif, Syekh Daud Fathoni, Syekh Hasan Arabi, Syekh M. Mirdad dan Syekh Fadil Maghribi.

Tahun 1949, dia dan kawan-kawan mengakhiri kegiatan belajar di sana dan kembali ke Martapura. Setelah 3 tahun pulang dari sana, KH. Ahmad Nawawi Marfu menikah dengan seorang perempuan bernama Hj. Zubaidah Dulasman dan dikaruniai 8 anak, yaitu Hj. Israiyah, Hj. Awaliyah, Hj. Bashiroh, Hj. Khaldaniyah, H. Basyirullah, Hj. Majmuah, Hj. Nurul Hikmah, dan Hj Sundusiyah.

Tak Pernah Menolak

Ahmad Nawawi Marfu juga sempat menjadi Pimpinan Umum Ponpes Hidayatullah Martapura, setelah KH. Nashrun Thahir. Selain itu, KH. Nawawi Marfu juga mengajar ilmu fiqih, salah satu di antaranya mengajarkan Kitab Fiqhul Waadih. Keseharian ulama ini sangat lembut dan penyayang kepada siapa saja, termasuk para santri Ponpes Hidayatullah Martapura. Tidak terkecuali kepada orang tua, pemuda maupun anak kecil. Bahkan dia hampir-hampir tidak pernah menolak siapa pun yang datang berhajat untuk keperluan berbagai keperluan yang mau datang ke rumah, maupun mengundang untuk hajatan.

Meski mengajar di Ponpes Hidayatullah, di rumah KH. Nawawi Marfu kerap diminta untuk memberikan pengesahan/ijazah hafal Alquran oleh para ulama maupun para tahfizul Quran dari berbagai lulusan pondok pesantren.

Wafat

Ahmad Nawawi Marfu tercatat sebagai ulama yang hafidz qur’an dan pandai menulis kaligrafi. Umur beliau terbilang panjang, wafat di usia 95 tahun pada 24 Shafar 1435 H/28 Desember 2013 M dan dimakamkan di komplek Pekuburan Mangun Jaya, Pasayangan Martapura.(sir)

Sumber: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan via alif.id.

 

 

NEWS STORY
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *