Baznas

In Memorian Guru Sekumpul, Mengetahui Isi Lubuk Hati sebelum Diucapkan

- Tak Berkategori
  • Bagikan

Keistimewaan atau karomah yang dimiliki Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul sudah seringkali ditemui murid, kerabat atau orang terdekat dia lainnya. Salah satu karomah Guru Sekumpul juga pernah dijumpai tokoh ulama asal Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, KH Muhammad Yazidi.

M HUSEN AL MADANI, Pengaron

Tahun 1978 silam, Kepala Sekolah Madrasah Fi’talimil Awlad Pengaron, KH Muhammad Yazidi masih menuntut ilmu dii Pondok Pesantren Darussalam. Waktu itu, dia masih berusia 25 tahun.

Dalam kisahnya, dia bersama 3 rekannya yang lain sesama santri Ponpes Darussalam, antara lain KH Abdul Hadi dan KH Mawardi, bermaksud ingin menjumpai Guru Sekumpul yang saat itu masih tinggal di Kelurahan Keraton. Mereka berniat ingin belajar cara membaca surah Al Fatihah yang benar.

“Saat itu rumah beliau masih di Keraton dan  masih berdampingan dengan rumah ayah beliau. Kami ber-empat duduk di pelatar rumah beliau. Sewaktu kami duduk di pelatar, ayah beliau, (Abdul Ghandi) mempersilakan kami masuk. Tidak lama kemudian, Guru Izai (Guru Sekumpul) membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk,” ujar Guru Zidi —demikian KH Muhammad Yazidi sering disapa, Red—kepada koranbanjar.net.

“Apa hajat kalian ke sini?” begitulah Guru Sekumpul bertanya saat Guru Zidi dan rekannya berada di dalam rumah.

Saat ditanya seperti itu rombongan Guru Zidi sempat terdiam dan tidak menjawab apa-apa.

“Karena kami mengira satu sama lain, pasti ada yang menjawab, namun ternyata tidak ada,” ujar Guru Zidi.

Kemudian, lanjut Guru Yazidi, bersamaan itu datang seorang lelaki yang umurnya sekitar 55 tahun, selanjutnya Guru Sekumpul meninggalkan rombongan pergi ke dalam kamar dan keluar membawa dua cangkir kopi hitam dan memberikan satu gelas kepada orang tua tersebut.

“Setelah mereka berdua selesai ngobrol lalu Guru Izai (Guru Sekumpul) memberikan kopi sisa beliau kepada saya, dan menyuruh saya memberikan kepad kawan-kawan yang bertiga tadi,” tutur Guru Yazidi.

Selang beberapa lama orang tua yang bersama Guru Sekumpul beranjak pulang dan berpamitan.

Kemudian datang lagi dua orang yang membawa dua ikat besar buah rambutan yang sudah metang. Dua orang langsung berjalan ke dapur rumah Guru Sekumpul.

“Lalu, Abah Guru Sekumpul menyapa dua orang itu, kenapa lama tidak kemari,” ujar Guru Zidi mencontohkan ucapan Guru Sekumpul kala itu.

“Kalian ke sini mau belajar Al Fatihah iya ‘kan? Tedahulu mulut saya mengatakan ketimbang kalian,” ujar Guru Sekumpul kepada rombongan Guru Zidi.

Singkat cerita setelah rombongan Guru Zidi selesai belajar membaca Al Fatihah kepada Guru Sekumpul, lalu  Guru Sekumpul berpesan, kalau nanti selesai menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Darussalam, maka mereka harus belajar langsung kepadanya.

Berikutnya, saat rombongan Guru Zidi mau pulang, Guru Sekumpul memberikan amalan.

“Jadi amalan itu adalah Asmaul Husna Ya Mubdi Ya Kholik sebanyak seratus kali dan sholawat, namun sholawat itu panjang jadi saya kurang ingat,” tutur Guru Zidi.(*)

  • Bagikan