oleh

Demi Kuliah Sang Anak, Orangtuanya Rela Utang Uang dan Jual Harta

BISA meraih cita-cita yang didambakan tentu menjadi kebanggaan bagi setiap orang. Terlebih bagi orangtua yang berhasil menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Namun bagaimana jika dalam proses meraih cita-cita itu banyak memerlukan biaya?

Laporan Jurnalis Koranbanjar.net, YULI KUSUMA W – Banjarbaru

Begitulah yang dialami Aan Damaiyanti, seorang mahasiswi di sebuah akademi kebidanan di Banjarbaru, beserta kedua orangtuanya.

Dalam meraih cita-citanya menjadi seorang bidan, tak sedikit uang yang telah digelontorkan ayah dan ibunya. Jika sedang tak ada uang, ayah dan ibunya bahkan terpaksa harus meminjam uang ke bank untuk melunasi biaya semester kuliah sang anak tercinta.

Maklum, sebagai pekerja swasta, tentu pasang surut ekonomi keluarga menjadi hal yang kerap dialami orangtua Aan Damaiyanti. Ayah Aan bekerja sebagai pengusaha batako kecil-kecilan. Sedangkan ibunya, ibu rumah tangga (IRT).

“Orangtua saya harus menyediakan uang Rp 20 juta lebih untuk biaya kuliah saya setiap semester. Itupun belum termasuk biaya lainnya,” ujar gadis yang akrab disapa Aan itu kepada koranbanjar.net.

Kalau lagi kepepet, diceritakan Aan, apapun akan dilakukan kedua orangtuanya demi bisa mencukupi biaya kuliah Aan. Termasuk telah menjual dua sepeda motor dan emas milik ibunya.

“Begitulah orangtua saya bila lagi kepepet. apapun rela mereka lakukan demi pendidikan saya. Jatuh bangun usaha bapak saya sudah biasa bagi kami,” tuturnya dengan nada haru.

Awalnya, bercita-cita menjadi seorang bidan bukanlah kehendak orangtuanya.  Ibu Aan lebih menghendaki putrinya kuliah di jurusan pendidikan agar kelak bisa menjadi seorang guru. Namun lantaran tak ada minat menjadi seorang guru, Aan sendiri lebih memilih kuliah di kebidanan.

“Karena saya tidak berminat jadi guru jadi orangtua saya tidak memaksa juga. Mereka takut kalau saya dipaksa kuliah di jurusan pendidikan, saya jadi tidak semangat kuliahnya,” katanya.

Dikisahkannya, cita-cita menjadi seorang bidan mulai ada sejak ia membantu ibunya yang saat itu sedang hamil, tetapi kemudian mengalami pendarahan di usia tujuh bulan kehamilan. Akibatnya, sang ibu tercinta melahirkan seorang bayi prematur di usia kehamilan delapan bulan. Waktu itu, Aan masih duduk di bangku SMP.

“Mulai dari situ saya berkeinginan kuliah bidan. Bahkan saking inginnya, saya sudah membeli buku tentang kebidanan dengan cara mencicil saat saya masih sekolah kelas 2 SMA,” kisahnya.

Jika sudah lulus kuliah nanti, Aan sudah memiliki rencana melanjutkan kuliahnya ke jurusan kesehatan masyarakat (kesmas) melalui jalur ekstensi. Memang tak linier dengan kuliah bidannya saat ini. Alasannya, karena menurutnya peluang bekerja menjadi bidan saat ini sudah tak begitu besar lagi dibanding kesmas.

“Jika sudah lulus di kuliah kebidanan dan dapat surat tanda registrasi (STR) pun masih saja banyak yang menganggur. Bahkan ada banyak yang dapat kerja tidak sesuai dengan ilmu kebidanan dan menjadi tenaga kerja sukarela tanpa gaji,” ungkapnya.

Saat ini, Aan tengah sibuk mempersiapkan wisudanya yang akan digelar September mendatang. Ia sangat bersyukur sebentar lagi kuliah D3 kebidannya segera berakhir. Segala pengalaman dan jasa kedua orangtuanya dalam memperjuangakan kuliahnya pun akan segera terbayar.

“Nanti, sembari kuliah di kesmas setelah lulus dari kuliah bidan ini, saya akan mencari pekerjaan sampingan,” ucapnya. (dny)

Komentar

Jangan Lewatkan