oleh

BPTH Siapkan Lahan Persemaian Bibit Tanaman Baru

BANJARBARU,KORANBANJAR.NET – Mendung tak berarti hujan. Ungkapan ini terasa pas pada cuaca terakhir belakangan ini. Budi Agung selaku pelaksana teknis MH2T (Miniatur Hutan Hujan Tropika) seperti biasa mengawali paginya dengan segelas kopi yang menurutnya sebagai sumber inspirasi. Sembari memulai kegiatan rutin, tak berselang lama turun perintah dari Ainun Jariah, Kepala Balai BPTH (Balai Perbenihan Tanaman Hutan) agar bersiap untuk mengawal alat berat, dozer milik Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel untuk pengerjaan lahan calon persemaian modern seluas 15 hektare di Desa Bangkal Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru.

Ia bergegas mengumpulkan personel untuk pengawalan itu, diantaranya Toniansyah, staf BPTH dan Alfi, tenaga kontrak BPTH yang turut dengannya. Mengawal alat berat ke lokasi dimaksud, Rabu (12/06/2019). Tak lupa, koordinasi dilakukan dengan Erwin, staf aset Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, yang berwenang menggerakkan alat itu.

Budi mengatakan, pengawalan harus dilakukan secara hati–hati, karena truk trailer yang membawa alat terbilang panjang dan lebar. “Kita selalu koordinasi ke dinas, yang berkaitan dengan alat berat”, ujarnya.

Memasuki lokasi calon persemaian, Bayu, sopir truk trailer menunjukkan skill-nya menyeimbangkan truk dan muatan, karena medan untuk mencapai lokasi tergolong ekstrem dan melewati lokasi pengerukan tanah yang jalannya bergelombang.

Toniansyah, yang sebelumnya pernah ikut survei ke lokasi persemaian ini, mengatakan bahwa jalan bisa dilalui oleh truk trailer ini adalah yang terbaik. “Sebenarnya ada jalan bagus selain di sini, tetapi harus melalui perkampungan, takutnya truk tidak bisa bermanuver,” tuturnya.

Sesampainya di lokasi, dozer pun diturunkan. Sebelum memulai pengerjaan, Budi memberikan arahan kepada Deni, operator dozer dan menjelaskan peta kerja sebagai dasar pengerjaannya. ”Tahap awal pengerjaan ini kita men-dozer pinggirannya saja untuk membuat border,” tandasnya.

Diteruskan oleh Budi, pembuatan batas ini dilakukan sebagai proses awal agar batas lahan persemaian dengan lahan warga yang berada di sekitar lokasi terlihat jelas. “Diharapkan di kemudian hari tidak menimbulkan masalah perbatasan,” tutup Budi. (dishutkalsel)

Komentar

Berita Terkini