Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Belajar Bersama di Museum Lambung Mangkurat, Menjalin Kain Menjadi Benang

  • Bagikan
Dibuka oleh Muhammad Taufik Akbar, S.APKasubbag TU Museum Lambung Mangkurat. (Sumber Foto: Museum Lambung Mangkurat/koranbanjar.net)

Pelaksanaan kegiatan belajar bersama di Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru, kali ini bertema Menjalin Kain Menjadi Benang. Dilaksanakan Senin (18/10/2021) dan dibuka Kasubag Tata Usaha Muhammad Taufik Akbar SAP mewakili Plt Kepala Museum Lambung Mangkurat H Abdul Rahim SSos MPd.

BANJARBARU,koranbanjar.net – Kegiatan ini dihadiri Kordinator Fungsional, Narasumber dari Jantera Wastra Jakarta, guru pendamping dan siswa SMKN 1 Banjarbaru jurusan tekstil, karyawan karyawati serta panitia belajar bersama Museum Lambung Mangkurat Provinsi Kalimantan Selatan.

Pelaksanaan kegiatan Belajar Bersama di museum kebanggaan banua, ini didanai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik tahun 2021.

Mengapa mengambil topik kain?

Muhammad Taufik Akbar menjelaskan, kain merupakan benda budaya hasil karya manusia yang secara umum dikenal sebagai hasil tenunan di buat untuk pakaian.

“Mulanya kain yang berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca panas dan dingin. Kemudian fungsi kain menjadi lebih beragam,” katanya.

Yakni, menutup aurat dan sebagai pelengkap upacara mengandung nilai – nilai tertentu dan sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan.

Indonesia terkenal sebagai salah satu negeri terbesar penghasil kain tradisional yang indah, bervariasi penuh kreasi dan terkait dengan unsur sistem budaya suku bangsa masing-masing.

Khususnya Kalimantan Selatan yang dikenal dengan kain sasirangan dan tenun lokalnya  memiliki motif atau ornamen khas daerah Kalimantan Selatan sendiri yaitu perairan atau dikenal seribu sungainya, yang memiliki makna – makna tertentu di masyarakat kalsel khususnya suku banjar baik untuk upacara adat.

Nara sumber Beny Gratha selaku Kurator independen Jantera Wastra Jakarta. (Sumber Foto: Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru/koranbanjar.net)

Di Museum Lambung Mangkurat memiliki hampir 500 koleksi kain dari berbagai kabupaten kota yang ada di Kalsel koleksinya. Antara lain kain sasirangan, tenun Pagatan, tenun Sungai Tabukan, kain Mandar dan kain kulit kayu.

“Dengan ini museum sebagai pelestari sejarah dan kebudayaan, dimana ada tim konservasi preparasi dan tim koleksi edukasi mengundang peserta dari dewan guru dan adik-adik jurusan tekstil,” kata dia.

Tujuannya, sama-sama saling belajar dan berbagi ilmu dalam masalah kain mengkain ini. Didatangkannya nara sumber yang ahli dibidang kain, dari Jantera Wastra Jakarta, untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam meng konservasi kain.

Oleh karena itu untuk meningkatkan apresiasi masyarakat dan generasi muda  terhadap warisan sejarah, budaya dan juga permuseuman itu sendiri. Museum Lambung Mangkurat melaksanakan  kegiatan Belajar Bersama di Museum ke-4.

Harapannya, kegiatan ini dapat berjalan dengan aman, lancar dan sukses. Diingatkannya pengunjung dan tamu undangan untuk tetap melaksanakan Protokol Covid 19 yaitu jaga jarak, sering mencuci tangan dan menggunakan masker.

“Tak lupa kami sampaikan ucapan terimakasih yang tidak terhingga atas bantuan dan kerjasama berbagai pihak di dalam menyiapkan dan melaksanakan kegiatan ini. Meminta maaf sebesar-besarnya apabila dalam pelaksanaan ada hal-hal yang kurang berkenan,” ucap Muhammad Taufik Akbar. (dya)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *