Bayi Prematur 1,7 Kg Tidak Dilayani di RSUD Hadji Boejasin, Keluarga Terpaksa Rawat di Rumah

PANYIPATAN – Suasana haru sedih, tangis ketakutan pecah pada Senin (12/2) malam disalah satu rumah di Jalan Mustafa Idham RT.3 Desa Batakan Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Wanita paruh baya didalam rumah tersebut sambil menangis terisak mencoba mengguncang tubuh mungil bayi berusia 7 hari yang tidak bergerak dengan kondisi sekujur tubuh membiru.

Seorang pria tampak tegang  langsung bergegas keluar dari rumah untuk mendatangi rumah bidan setempat meminta bantuan. Seisi rumah pun diselimuti kegaduhan bercampur suara tangis kesedihan.

Sekitar setengah jam suasana tegang akhirnya berganti tenang sesaat setelah tangis bayi pecah ditengah ke khawatiran seisi rumah.

Susi (28) sambil menangis sedih merenungi nasib buah hatinya yang lahir pada Selasa (5/2) tadi dalam kondisi prematur dengan berat hanya 1,7 kilogram sejak sehari setelah dilahirkan dibantu bidan setempat mengalami hal tidak biasa yaitu tubuhnya membiru dan tubuhnya tidak bergerak.

Susi mengaku sempat membawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hadji Boejasin Pelaihari pada Rabu (7/2) malam untuk dirawat secara medis dengan harapan yang terbaik untuk anak keduanya, namun ditolak pihak perawat rumah sakit dengan alasan cukup dirawat jalan di poli anak dan disuruh membawa pulang.

“Saya takut anak saya kenapa-kenapa jadi saya bawa ke rumah sakit karena badannya membiru dan tidak bergerak tapi sampai di rumah sakit sama perawat disuruh rawat jalan saja dan disuruh bawa pulang,” tuturnya kecewa.

Susi dan sang suami, Fahrullazi (29) terpaksa hanya merawat sang buah hati di rumah layaknya anak ayam yang baru lahir ditempatkan disebuah kasur dengan diberi dua buah bola lampu diatasnya untuk menghangatkan bayi mungilnya.

“Saya sama suami terpaksa rawat anak kami di rumah seadanya diatas kasur bayi kami beri dua bola lampu untuk menghangatkannya,” pasrahnya.

Susi mengaku hanya bisa pasrah dan menangis sedih kala buah hatinya tersebut kembali mengalami tubuh membiru dan tampak seperti orang pingsan tidak bergerak. Susi dan keluarga hanya bisa memberikan pertolongan seadanya dengan mengguncang tubuh anaknya hingga menangis.

“Saya bingung harus berbuat apa saat anak saya tubuhnya membiru dan tidak bergerak jadi saya coba guncang tubuhnya sampai dia menangis karena cuma itu yang bisa saya lakukan,” cemasnya.

Susi juga mengaku tidak tau apa penyebab anaknya mengalami gal seperti itu lantaran tidak pernah diperiksa secara medis. Selain tidak punya uang untuk membawa berobat dan cuma bermodal surat keterangan tidak mampu (SKTM), Susi juga merasa takut tidak dilayani seperti pertama membawa anaknya ke rumah sakit.

“Saya tidak tau apa penyebab anak saya seperti ini karena tidak pernah diperiksa secara medis, selain tidak punya uang untuk membawa berobat, hanya dengan modal surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari kepala desa saya takut ditolak lagi sama rumah sakit,” sedihnya.(pri)