oleh

Balanting; Budaya Masyarakat Menjadi Pariwisata Unggulan

Anugerah alam dan budaya di Loksado membawa berkah dalam sumber penghidupan. Keunggulan sungai berarus deras dengan pemandangan alam menawan, beserta budaya kendaraan rakit bambu yang biasa disebut lanting, kini menjadi pariwisata unggulan.

Muhammad Hidayat, Loksado

Desir air Sungai Amandit tak lelah berbisik, menjadi roh kehidupan masyarakat semenjak zaman nenek moyang. Bahkan sungai Amandit menjadi penggerak ekonomi masyarakat Loksado dan sekitarnya, salah satunya lewat pariwisata.

Di Dermaga Desa Loksado, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), terlihat masyarakat sedang sibuk merakit lanting dan bersiap batanjak (mengemudi lanting, red) membawa wisatawan mengarungi sungai.

Saat naik lanting, wisatawan dapat menyusuri keindahan dan tantangan di sungai dari Loksado hingga dermaga di tugu Proklamasi, Kampung Niih, Desa Hulu Banyu.

Waktu tempuh menyesuaikan keadaan alam, jika air surut maka akan lambat jalannya. Kadang kadang memakan waktu 2 hingga 3 jam. Tetapi saat air pasang bisa hanya satu setengah jam, tetapi ini akan menguras tenaga dan konsentrasi tinggi.

Keahlian batanjak tidak sembarang orang bisa, harus sudah terbiasa dan menguasai medan agar tidak karam, tersangkut dan terbalik.

“Di arus deras, kalau lanting miring ke kiri, maka semua yang naik di atasnya harus melawan dengan berdiri di kanan agar tidak terbalik,” ucap salah seorang joki lanting, Rudi yang mengaku sudah mahir batanjak sejak masih remaja itu.

Joki Balanting Panen Rezeki

Saat musim libur tiba, dermaga Loksado berjejer ratusan bambu yang sudah dirakit menjadi Lanting. Merakit lanting hanya memerlukan waktu setengah jam, jika semua peralatan dan bahan sudah siap.

Joki aktif untuk wisata balanting di Loksado berjumlah sekitar 50 orang, dan semuanya akan kebagian rezeki seperti sekarang saat libur akhir tahun.

“Ramai sekali saat ini, kami di sini sampai kewalahan menyediakan. Semua joki saat libur natal kemarin jalan semua,” ujar pria yang mengaku bernama asli Daniel tersebut.

Hal itu ibarat musim panen, sebab di hari-hari biasa kadang saat akhir pekan saja yang ramai wisatawan menyewa jasa lanting. Sedangkan bukan akhir pekan, kebanyakan yang memakai jasa lanting dari turis mancanegara.

“Kadang kalau hari biasa, saya biasa 2 hingga 3 hari sekali baru dapat giliran membawa wisatawan. Karena di sini kan jokinya banya, jadi harus bergantian,” ungkap Rudi.

Saat ini ia mengaku belum memiliki langganan tetap, namun beberapa orang rekannya sudah punya pelanggan tetap. Pelanggan yang biasanya merupakan seorang pemandu wisata atau guide akan memesan lebih dahulu lewat telepon, agar joki bisa mempersiapkan lantingnya.

Satu buah lanting beserta joki untuk 3 penumpang, wisatawan bisa menyewa dengan harga 330 ribu rupiah. “Harganya memang dahulu 300 ribu rupiah, tetapi sekarang ada kesepakatan dengan Dinas Pariwisata, menjadi 330 ribu rupiah dengan disediakan pelampung 3 buah,” beber warga Desa Loksado Rt 3 tersebut.

Bayaran itu tidak mutlak ia genggam sepenuhnya, Sebab lanting yang sampai di Dermaga Tugu Proklamasi Niih akan diangkut kembali denggan jalur darat ke Loksado menggunakan jasa angkutan mobil pick-up.

Lanting diangkut untuk digunakan lagi hingga sepuluh kali. Sekali angkut seharga 60 ribu rupiah, yakni 20 ribu rupiah untuk upah angkut dari sungai ke mobil dan 40 ribu rupiah untuk upah angkut mobil.

Belum lagi jika pengguna jasanya melalui orang lain atau calo, maka sang joki akan memberi calo tersebut, “ Tidak enak juga kan kalau tidak dibagi rezeki kita, seringnya diberi 20 ribu rupiah,” ucap pria yang sudah berusia 52 tahun itu.

Pun demikian memperoleh bambu untuk lanting, jika tak memiliki kebun bambu sendiri, harus membeli dengan harga 10 ribu rupiah per batang. Jumlah bambu yang dibutuhkan tergantung kedalaman air, jika air sedang surut 10 hingga 15 batang pun jadi.

Asal-usul Balanting

Balanting kisahnya, merupakan sarana transportasi yang digunakan masyarakat Loksado dan sekitarnya sekak zaman dahulu, untuk mengangkut hasil tani dan kebun seperti kemiri, kayu manis, pisang dan sebagainya menuju Kota Kandangan.

Zaman dahulu belum ada jalan raya seperti saat ini, sehingga ujarnya transportasi utama adalag sungai. Dari Loksado menuju Kota Kandangan dengan lanting memakan waktu seharian, “Kembali ke Loksado dengan jalan kaki seharian lagi,” tambahnya.

Sedangkan kendaraan lanting mereka juga dijual di Kandangan, yang bisa digunakan menjadi reng dan sebagainya. Saat ini penjual bambu untuk reng pun rata-rata sudah menggunakan jalur darat, tinggal masyarakat Dusun Kandihin, Desa Halunuk yang masih jalur sungai.

Hingga saat ini meski transportasi darat sudah nyaman, budaya tersebut diabadikan menjadi pariwisata sejak dekade awal 2000 an. Bahkan saat ini balanting dalam Festival Loksado, masuk dalam kalender 100 event nasional. (*)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: