MTQ Nasional Kalsel

Undang Stakeholders , PLN Ingin Sukseskan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan

BALIKPAPAN, KORANBANJAR.NET – Pakar Ekonomi Nasional, Akhmad Akbar Susanto, mengatakan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan akan tenaga listrik merupakan hal yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada kondisi yang ideal, pertumbuhan listrik dan pertumbuhan ekonomi seharus berada pada level yang seimbang.

Hal itu ia ungkapkan saat acara Multi Stakeholders Forum (MSF) di Balikpapan, Senin  (14/05). Acara temu stakeholders dengan tema ‘Peran PLN dalam Mendukung Kemudahan Berinvestasi dan Melistriki Daerah Terdepan, Teluar, Tertinggal (3T)’ ini, hadir jajaran stakeholders PLN dari pemerintahan, aparatur negara, akademisi, asosiasi, LSM, mitra kerja, hingga pelanggan.

“Pada Triwulan I tahun 2018, ekonomi di Kalimantan Timur tumbuh 1.77%. Angka ini masih berpotensi untuk meningkat hingga 0.7% dengan bertambahnya suplai listrik yang ada saat ini,” ujar Akbar Susanto.

Dalam upaya pemenuhan tenaga listrik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, PLN tentunya membutuhkan dukungan dari seluruh jajaran stakeholders.

Sebagaimana yang diutarakan oleh General Manager PLN Wilayah Kaltim dan Kaltara, Riza Novianto Gustam, bahwa dalam proyek 35000 MW Kaltim dan Kaltara bertanggung jawab atas proyek sebesar 790 MW.

“Proyek pengembangan infrastruktur tenaga listrik yang saat ini tengah berjalan sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018 – 2022 tentunya tidak akan berjalan dengan lancar tanpa ada dukungan dari pemerintahan, aparatur negara dan stakeholders lainnya,” kata Reza.

Saat ini, lanjut Reza, pihaknya sedang menyelesaikan proyek interkoneksi antara Sistem Mahakam di Kaltim dengan Sistem Barito di Kalsel yang rencananya bulan Mei ini sudah mulai menyambung interkoneksinya.

“Kami targetkan pada 2020 Kaltim, Kaltara, dan Kalsel sudah sepenuhnya dalam sistem interkoneksi. Jika ini berjalan maka dipastikan listrik andal dan lebih siap mendukung pertumbuhan ekonomi dari Kaltim hingga Kaltara,” uajr Riza.

Cadangan daya sebesar 200 MW pada sistem Mahakam tentunya menunjukkan kesiapan PLN dalam mendukung industri dan kemudahan berinvestasi. Selain pemasaran agresif, PLN juga menyatakan kesiapannya untuk melistriki kawasan industri, baik di Kaltim maupun Kaltara.

“Kami ingin menghidupkan kawasan industri. Kenyataan di lapangan saat ini ada satu kawasan industri yang listriknya belum siap. Karena alasan regulasi, PLN belum dapat masuk kesana. Inilah yang menjadi perhatian dan kami memohon dukungan dari pemerintah daerah untuk menjembatani kemudahan masuk ke dalam kawasan industri ini”, sambungnya.

Menyoal rasio elektrifikasi (RE), Riza mengatakan bahwa RE di Kaltim dan Kaltara saat ini adalah 92.17%. Tahun 2018 ini target RE adalah 93,92%. Sedangkan tahun 2020, target RE adalah 100%.

Sementara itu terkait upaya melistriki daerah 3T, PLN mengatakan bahwa saat ini pada tahun 2018 100% desa di Kaltim dan Kaltara sudah berlistrik.

“Desa berlistrik terdiri dari PLN dan non PLN. Tentunya ini masih merupakan tanggung jawab kami untuk memperluas jaringan pada desa-desa yang belum tersentuh PLN. Utamanya juga pada desa yang saat ini masih belum 24 jam beroperasi listriknya, akan menjadi perhatian khusus dari kami”, lanjut Riza.

Dalam upaya untuk menerangi lokasi 3T, tentunya perjuangan PLN tidak dikatakan mudah. Medan jalan yang berat dan kendala akses transportasi seperti jalanan ambles, becek, hingga menyebrangi sungai yang berjeram adalah tantangan yang sehari-hari dihadapi tim PLN di lapangan.

Mengatasi kesulitan tersebut, Riza mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah merancang untuk memanfaatkan kearifan lokal yang dapat membantu mempercepat kehadiran listrik di daerah 3T. Salah satunya dengan membangun sistem kelistrikan lokal di sana dengan menggunakan solarcell, PLTS, atau komponen-komponen lainnya yang mendukung energi baru terbarukan.

“Akan kita upayakan langkah-langkah tadi untuk memenuhi kebutuhan listrik lokasi yang sulit terjangkau tadi. Upaya ini tentunya untuk mewujudkan pemerataan dan listrik yang berkeadilan, bahwa seluruh warga harus mendapatkan listrik secara layak. Untuk itu kami butuh support dari Pemda dan TNI Polri sebab kami tahu bahwa stakeholders memiliki kekuatan dan kemampuan untuk sama-sama bersinergi mengatasi tantangan-tantangan ini”, pungkast Riza.

Mewakili Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Asisten II Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Ichwansyah, juga berhadir membuka acara. Dalam sambutannya, Ichwansyah mengatakan infrastruktur kelistrikan memiliki peran yang sangat penting terhadap kelancaran kegiatan penunjang mobilitas masyarakat dan distribusi komoditi ekonomi. Untuk itu, pihaknya menyambut baik tekad PLN untuk melistriki daerah 3T seperti yang diusung dalam tema MSF 2018 ini.

“Sudah pasti tekad PLN untuk melistriki daerah 3T akan mendukung kemudahan berinvestasi di Kaltim. Beberapa waktu yang lalu saya sempat ke Maratua. Di sana sudah mulai tumbuh bisnis perhotelan, villa dan restoran” ungkap Ichwansyah.

Ia melanjutkan, di daerah perbatasan seperti Mahakam Ulu sudah ada rumah sakit dan Puskesmas yang membutuhkan ketersediaan listrik.

“Saya pikir sangat tepat jika PLN dapat memperkuat ketersediaan listrik di pulau-pulau terluar dan potensial untuk pengembangan industri disana,” terang Ichwansyah. (sya/dra)