oleh

Sempat Down Menjalankan Bisnisnya, Kini Omzet Mahasiswa Kesehatan Ini Mengejutkan

Sasirangan, merupakan kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun sejak abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa Kota Amuntai. Cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan adalah bahwa kain Sasirangan pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu. Konon, kain Sasirangan juga dipercaya mampu mengobati penyakit atau batamba. Siapa sangka anak muda di zaman milenial saat ini ternyata masih ada yang menyenangi kain khas banjar tersebut.

YULIANDRI KUSUMA WARDANI, Banjarbaru

Irwan Zasir, seorang pengusaha muda yang mulai merintis usahanya dari nol. Mulanya, Zasir tertarik dengan kain sasirangan mulai dari asal usul hingga sejarah yang ia pelajari. Walaupun berasal dari Dipa Kota Amuntai, tetapi menurut pria kelahiran Amuntai tersebut saat ini sasirangan di sana tidak menjadi tren yang dominan bahkan bisa dikatakan tidak berkembang.

“Dulu saat saya sedang merintis dan alhamdulillah sudah pernah ada gambaran dan menginginkan memiliki toko sendiri di Kota Amuntai. Namun orang tua saya terkena serangan stroke, sehingga rencana untuk membuat toko pun, untuk sementara belum terlaksana. Sempat down, karena bagaimanapun orang tua adalah prioritas yang utama,”ujarnya kepada koranbanjar.net, Kamis (17/10/2019) pagi.

Ia menjelaskan, bahkan sempat vakum (istirahat) berbisnis sasirangan selama beberapa bulan karena hal tersebut.

“Setelah beberapa bulan, kondisi orang tua saya membaik. Saya coba menawarkan sasirangan lagi ke anak-anak komunitas dan sekolah-sekolah, bisa dibilang tanpa modal karena pada saat itu saya mengandalkan uang DP 50 persen dari mereka untuk membeli bahan-bahan membuat sasirangan. Alhamdulillah, saat itu ada 100 pesanan pertama setelah saya vakum beberapa bulan dan kehabisan modal. Bahkan, saat itu saya sempat berada pada kondisi keuangan yang tidak stabil,” ungkap pria yang akrab disapa Zasir.

Untuk jiwa berbisnis, diakuinya sejak kelas 5 SD menyenangi berjualan.”Mulai dari jualan mainan seperti kartu mainan yogi dan mainan lainya. Bahkan, saat SMP saya sudah mulai buka usaha online shop untuk pakaian remaja,” tuturnya.

Dibeberkannya, awal dirinya merintis sasirangan hanya bermodalkan Rp. 400 ribu. Saat ini, omzet yang dihasilkan sudah bisa berkali-kali lipat.

“Alhamdulillah, untuk omzet sekarang perbulan kisaran Rp.14-16 juta dan setiap tahun terjadi peningkatan omzet. Kalau saat memasuki masa perpisahan sekolah biasanya bisa sampai Rp. 50-70 juta. Bersyukur sampai sekarang masih jalan,” katanya.

Termotivasi bisnis ini, lanjutnya, karena sebagai putra daerah asli Hulu Sungai Utara merupakan kewajibannya untuk berkontribusi bagi kemajuan Kota Amuntai dalam menyebarluaskan informasi mengenai cerita pada zaman dulu. Terutama sejarah sasirangan untuk perekonomian di Hulu Sungai Utara, agar terciptanya lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Usut punya usut, Zasir merupakan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Banjarmasin jurusan gizi, yang notabene berbanding terbalik antara kesukaannya dengan dunia bisnis dan jurusan kuliah yang ia tekuni.

“Mengenai latar belakang saya sebagai mahasiswa kesehatan, alhamdulillah saya juga ada bekerjasama dengan CV Mafaza Grup yaitu sebuah CV yang mengadakan acara seminar kesehatan, event organizer, katering dan percetakan. Saya ikut membantu dan lumayan untuk pemasukan, saya juga merupakan distributor untuk buku kesehatan di Banjarbaru yang saya beri nama zaszas.id kalau di instagram @zaszas.id,” katanya.

Menurutnya, antara bisnis dan kesehatan yang saat ini ditekuninya seirama. Karena bisnis bisa dimulai dari mana saja. Aktivitasnya saat ini, selain fokus sasirangan, terkadang di saat weekend jika ada tawaran job MC juga diambil namun tergantung situasi dan kondisi.

“Rencananya, nanti mau mencari beberapa orang buat membantu dalam proses pembuatan sasirangan karena visi saya sendiri dengan brand ‘Zasirangan’ sedikit banyaknya semoga dapat bermanfaat bagi orang banyak,” harapnya.

Label ‘Zasirangan’ ternyata terinsiprasi dengan namanya sendiri, yang diberikan oleh orang tuanya dengan makna pemberani.

“Ada beberapa filosofi dari logo zasirangan. Pola berbentuk roda, di bagian atasnya ada lambang jukung atau perahu yang menggambarkan transformasi khas dari Kalimantan Selatan, Banjarmasin khususnya, yang pada zaman dulu menggunakan jukung sebagai sarana transportasi. Bahkan, masih sampai sekarang seperti di pasar terapung dan wisata susur sungai. Serta di bagian bawah ada lambang gelombang yang menggambarkan sungai, yang dimaknai sebagai wilayah seribu sungai, selain itu pola pada logo zasirangan itu sendiri berbentuk bundar yang dimaknai sebagai rotasi kehidupan selalu berputar, sama seperti produk zasirangan. Kita harus selalu berinovasi dan memberikan produk dan kualitas yang terbaik untuk customer (pelanggan) kita. Serta terakhir, warna hitam dan putih logo tersebut memiliki makna dalam berproses, kita kadang mengalami banyak hal entah suka maupun duka,” bebernya.

Berbagai macam produk zasirangan yang dijajakannya; dari strip Sasirangan, kemudian bertambah kaos, kain sasirangan, syal, sajadah sasirangan, kerudung dan souvenir khas sasirangan lainnya.

“Dampak yang dirasakan tentunya sekarang bisa hidup mandiri, tidak terlalu menggantungkan diri kepada orang tua dalam hal keuangan untuk sehari-hari. Semoga kedepannya, bisnis dari zasirangan ini dapat membantu dan berbagi rezeki bagi orang banyak,” pungkasnya. (Maf)

Komentar

Berita Terkini