oleh

Peserta Pelatihan Tematik Budidaya Padi Lahan Rawa Bebas Residu Dibekali Keterampilan Pembuatan Pestisida Nabati

Peserta pelatihan Tematik Budidaya Padi Lahan Rawa Bebas Residu dibekali dengan materi pembuatan pestisida nabati, PGPR dan umpan pengendali hama tikus.

PULANG PISAU,koranbanjar.net – Tuntutan produksi dan produktivitas hasil yang tinggi dan kekhawatiran petani akan terjadinya serangan hama dan penyakit (HPT) karena dapat menyebabkan kegagalan panen.

Memaksa petani untuk menggunakan pestisida kimia dalam melaksanakan usaha taninya.

Sebagian petani mengaku melakukan pengendalian tanpa memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu.

Takut gagal panen karena serangan HPT membuat mereka melakukan penyemprotan secara rutin dengan frekuensi tinggi dan bertumpu pada penggunaan pestisida kimia.

Dalam aplikasinya ada kecenderungan mengabaikan prinsip pengendalian yang memperhatikan keamanan bagi lingkungan bahkan diri sendiri.

Bahkan agar cepat terlihat hasilnya, dosis yang digunakan lebih tinggi dari yang direkomendasikan serta dengan mengoplos berbagai merk dan bahan aktif pestisida.

Penting, hama dan penyakit dapat dibasmi dan cepat terlihat hasilnya.

Namun, kondisi tersebut tentu saja tidak dapat dibiarkan terus-menerus, karena dalam jangka panjang efek residu dari bahan kimia yang tertinggal di lingkungan tanah, air.

Bahkan dalam produk pertanian yang dikonsumsi dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Dalam rangka memberikan pemahaman sekaligus alternatif upaya pengendalian hama dan penyakit pada tanaman budidaya khususnya padi yang lebih ramah lingkungan.

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, BPPSDMP, Kementan bekali peserta pelatihan Tematik Budidaya Padi Lahan Rawa Bebas Residu dengan materi pembuatan pestisida nabati, PGPR dan umpan pengendali hama tikus.

Pelatihan yang dilaksanakan selama 3 hari dari Tanggal 21 sampai dengan 23 September 2020 bertempat di Kawasan Program Food Estate Desa Belanti Siam Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah.

Diikuti oleh 32 orang petani anggota Kelompok Tani yang berasal dari di Kecamatan Pandih Batu dan Maliku.

Pelatihan dilaksanakan sebagai wujud dukungan Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian.

Dalam meningkatkan kapasitas SDM Pertanian di wilayah pengembangan program food estate yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Fasilitator yang memberi materi tersebut adalah widyaiswara BBPP Binuang berkolaborasi dengan widyaiswara BBPP Ketindan Malang.

Penyampaian materi dengan metode ceramah dan langsung praktik membuatnya.

Dengan langsung mempraktikkan cara pembuatan pestisida nabati, PGPR dan umpan pengendali hama tikus berbahan dasar gadung.

 

“Diharapkan peserta dapat lebih mudah memahami dan mempraktikkannya kembali ketika sudah kembali ke tempat masing-masing,”jelas Adi Widiyanto selaku koordinator akademik pelatihan.

Peserta sangat antusias dalam praktik pembuatan pestisida nabati yang dibimbing oleh fasilitator Lutfi Tri Andriyani widyaisawara dari BBPP Ketindan Malang.

“Buktinya beberapa peserta bahkan menyatakan siap membuat pestisida nabati dan mengaplikasikannya sebagai uji coba di pertanaman budidaya padi lahan rawa miliknya,” pungkas Adi. (Adi/bbppbinuang/dya)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: