oleh

Perkebunan Semangka di Tanah Daha, Bagian Siklus Tradisi Kehidupan

Meski tidak bisa mencari ikan saat kemarau, namun ‘anugerah’ lain menghampiri. Pasalnya, musim kering adalah kesempatan bagi masayarakat Daha berkebun semangka. Mereka bisa menghasilkan ribuan ton sekali panen. Sepanjang tahun rezeki masyarakat terus mengalir di tanah peninggalan Kerajaan Daha itu. Tapi, jika disuruh beralih berkebun sawit?

Muhammad Hidayat, Daha Selatan

MASYARAKAT Daha atau Urang Nagara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) yang hidupnya di rawa dan dikelilingi air, bahkan rumah pun dibangun di atas air dengan tiang kayu ulin. Saat musim hujan, air dalam, maka pekerjaan mereka kebanyakan nelayan.

Jika sekarang sudah banyak dibangun jalan beraspal, meski sebagian masih sempit, tetapi dalam satu-dua dekade lalu transportasi utama mereka kendaraan air. Adapula wilayah yang saat ini masih hanya bisa dilalui transportasi air.

Hamparan rawa saat puncak musim hujan bisa berair dengan kedalaman lebih dari satu meter, sehingga tiada lain kebanyakan mereka menjadi nelayan untuk menjalankan roda perekonomian.

Sebaliknya, saat kemarau tiba, bukanlah suatu masalah, justru saat air sedang kering daratan muncul. Mereka manfaatkan menjadi lahan perkebunan. Semangka salah satu buah mayoritas yang ditanam masyarakat, disamping tanaman yang sudah paten seperti Gumbili Nagara dan Kacang Nagara.

Cuaca di wilayah itu sangat menyengat panasnya. Di tengah rawa tidak ada tempat berteduh selain gubuk buatan warga, sangat jarang ada pepohonan karena hamparan rawa kebanyakan hanya ditumbuhi rumput dan semak.

Satu Desa saja bisa mengahsilkan lebih dari 1.000 ton semangka sekali panen, terdapat lebih dari dua desa yang bertani semangka secara besar.

Baca: Perkebunan Semangka di Tanah Daha, Bagian Siklus Tradisi Kehidupan

Desa Muning Baru Kecamatan Daha Selatan, mulai menanam semangka setiap Juni hingga Juli. Dalam siklusnya merupakan panen terakhir, sebab saat produksi di desa lain sudah habis maka di Muning Baru akan panen.

“Rata-rata mulai menanam bulan Juli. Memang ada yang sampai Agustus tetapi itu tergolong silang (nekat, red), untung-untungan jika tidak sempat panen lahannya sudah tenggelam,” ucap Gusriadi Kepala Desa Muning Baru Kecamatan Daha Selatan. Begitulah siklusnya. Namun belakangan sesuai prediksi BMKG Kalsel mengabarkan, bahwa musim kemarau berlangsung hingga September mendatang.

Baca: Desa Muning Baru Berencana Bangun Dermaga Untuk Penjualan Semangka

Uniknya, bukan untuk menyombongkan, tetapi harus diakui semangka Muning terkenal dengan rasa lebih manis dari daerah lainnya. Di Pasar Kandangan contohnya, masyarakat yang akan membeli semangka tidak pikir-pikir jika mendengar nama Semangka Muning.

“Tidak ada rahasia atau teknik khusus, tetapi berkah yang maha kuasa, tanahnya lebih padat, gembur dan subur dari daerah lain, apalagi dibandingkan daerah pegunungan,” ungkapnya.

Siklus kehidupan itu sudah dilakukan turun temurun antar generasi, sehingga bisa dikatakan sebagai tradisi yang terus mereka pertahankan.

Keadaan Desa Muning Baru, Kecamatan Daha Selatan saat musim kemarau. (foto: hidayat/koranbanjar.net)

Entah di masa depan masyarakat Kalsel masih bisa merasakan manisnya semangka Nagara, sebab lahan perkebunan masyarakat setiap tahun semakin menyusut.

Akibat berkurangnya lahan itu diakui Selatan Gusriadi, petani di desa lain, saat ini ada yang kebetulan memiliki tanah di desanya lalu berkebun semangka di Desa Muning Baru.

Sebagian mereka merelakan lahan miliknya dijual untuk perkebunan kelapa sawit, yang semakin bertambah banyak.

Bahkan Gusriadi mengakui sebagian lahan di desa nya sudah memiliki hak guna usaha (HGU) untuk perkebunan kelapa sawit, tetapi saat ini lahan ber HGU itu masih digunakan masyarakat berkebun semangka.

Ia mengungkapkan masyarakat masih ingin terus bertani semangka, dan akan mempertahankan lahan-lahan yang tersisa untuk anak cucu mereka masa akan datang. (dra)

Komentar

Berita Terkini