Sebelum tahun 2020, kawasan pendulang intan di Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru masih ramai dengan para pendulang intan tradisional. Namun seiring merebaknya COVID-19, kawasan tersebut sudah mulai sangat sepi. Akhirnya, para pendulang intan beralih profesi, ada yang menjadi buruh pasir, berdagang batu mulia sampai menjadi buruh bangunan.
BANJARBARU, koranbanjar.net – Sebagian warga Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka kini beralih profesi menjadi buruh pasir.
Mereka menggunakan mesin penyedot pasir yang disebut mesin domping. Pasir disedot dari dasar kubangan bekas galian pendulangan intan sedalam 15 meter. Pasir akan tersedot dengan menggunakan pipa paralon yang menjulur ke susunan kayu. Pasir dijual dengan harga Rp80.000 per ret. Sedangkan dua ret seharga Rp150.000. Upah pengambilan pasir pun berbeda-beda, untuk pengeruk pasir sekitar Rp100.000.
Mata pencaharian lainnya, sebagian kecil masyarakat setempat masih mendulang intan. Menurut salah satu pendulang intan, Aini, Sabtu, (5/6/2021), kawasan tersebut masih digunakan mendulang intan, namun tidak seramai dulu.
“Masih dijadikan tempat pendulangan intan mbak, tapi sekarang masih istirahat para pendulangnya,” kata dia.
Intan-intan yang diperoleh akan dibawa ke Martapura untuk digosok agar tampilannya lebih menarik.
Sementara itu, warga lainnya, Ghoni menambahkan, selain intan disini juga terdapat batu mulia. “Selain intan di sini juga ada batu mulia mbak, seperti batu aquamarin, delima, magnet dan ada juga jenis lainnya, kalo dijual harganya mahal hingga jutaan rupiah,” tuturnya.
Dijelaskan, berbagai mata pencaharian dilakukan masyarakat setempat. Karena pendapatan para pendulang intan atau penjual pasir tidak menentu. Kadang mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa. Termasuk pembeli pasir tidak setiap hari ada. Namun mereka masih sabar dan terus mencari nafkah dengan menjadi buruh bangunan.(mj-35/sir)