Pedagang Takut Pindah ke RO Ulin, Kalau Dagangan Tidak Laku

oleh -78 views
SAMBUTAN - Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani
SAMBUTAN - Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani

BANJARBARU, KORANBANJAR.NET – Rencana Pemerintah Kota Banjarbaru untuk merelokasi pasar Bauntung ke Stadion Mini ida di jl RO ulin, Loktabat Selatan tampaknya masih terganjal sebagian pedagang yang masih belum 100% menginginkan pindah.

Seperti beberapa pedagang sampaikan dalam pertemuan dengan orang nomor 1 di Banjarbaru, H. Nadjmi Adhani selaku Walikota Banjarbaru dan beberapa pihak terkait, seperti DPRD dan Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru di gedung Bina Satria siang tadi (29/11/2018) belum lama tadi.

Pasalnya, banyak dari mereka masih takut  dan tidak yakin bahwa tempat baru ramai pengunjung. Selain hal tersebut, berapa dari pedagang merasa banyak kenangan dan kisah-kisah perjuangan mereka menjadi pedagang sejak puluhan tahun silam.

Seperti Tuti, pedagang yang menempati di blok sayur Pasar Bauntung ini mengaku kemacetan sebenarnya tidak dirasakan mereka, seperti yang diucapkan pihak pemerintah kota.

“Setiap pagi saya berangkat setelah subuh ke pasar dan tidak macet, begitu juga pas pulang siang hari juga lancar-lancar saja. Kegiatan jual-beli di Pasar Bauntung juga tidak mengganggu lalu lintas di jalan utama A. Yani kan pak?” ungkap Tuti di hadapan Walikota dalam sesi tanya-jawab.

Kritikan juga ia sampaikan kepada Satpol PP, karena mereka dianggap tidak tegas, mereka tegas hanya pada saat Adipura. Ia berharap agar aparat (Satpol PP) tegas dalam bertugas menertibkan kawasan pasar.

Tak sampai di situ, beberapa pedagang lain juga tidak membuang kesempatan untuk memberikan aspirasinya kepada Walikota Banjarbaru. Pertanyaan apakah tidak bisa dana yang direncanakan untuk membangun pasar baru digunakan untuk memperbaiki pasar yang sudah ada, juga terlontar dari salah seorang bapak tua, perwakilan pedagang di blok konveksi yang merupakan istrinya, setelah berjualan sejak puluhan tahun dan begitu banyak kenangan sedari dulu bersama pedagang lain.

Setelah selesai mendengar ungkapan perasaan para pedagang, Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani tersenyum seraya dengan santai menjawab pertanyaan sekaligus memberikan penjelasan lebih lanjut.

Nadjmi menjelaskan, kemacetan tersebut dirasakan di sekitar dan di area pasar, di Jl. Kemuning dan di dalam pasar, sembari menunjukkan gambar yang tampil di LCD.

“Coba dilihat di jalan Kemuning, jalan semakin sempit, kasihan para pengguna jalan kanan kiri penuh kendaraan terparkir. Sedang di dalam pasar sendiri, motor, becak semua masuk ke dalam pasar, suasananya sudah tidak nyaman untuk berjual-beli. Kasihan pedagang dan pembeli yang berjalan kena asap motor kan,” terang Nadjmi.

“Selanjutnya, ini bukan soal tidak tegas, para pedagang kecil di sekitar pasar yang menjadi mata pencaharian mereka, dan  penghasilan tidak seberapa, kasihan kalau harus dilarang, itu juga warga Banjarbaru, warga kita juga,” ungkapnya.

“Iya, kalau Anda sudah bertoko di dalam bisa bilang seperti itu, nah bagaimana yang di luar? Kami juga memikirkan hal tersebut, jadi dimaksudkan pasar baru nanti bisa menampung baik pedagang yang di dalam, maupun di luar area Pasar Bauntung yang telah didata,” imbuhnya.

Di samping itu, diakui Nadjmi memang bagi sebagian pedagang yang telah lama pasti memiliki kenangan, namun apakah dengan kondisi pasar Bauntung sekarang, yang sumpek, kotor, macet, dan tidak nyaman lagi harus dibiarkan? Atau gunakan dana untuk memperbaiki saja? Tidak, kendala terbesar yaitu luas pasar yang sudah tidak muat untuk menampung jumlah keseluruhan pedagang yang ada. Diketahui luas pasar bauntung hanya sekitar 1.4 Ha, dan pasar baru nantinya memiliki luas sekitar 4 Ha. Jadi dipastikan akan dapat menampung para pedagang yang sudah terdata oleh pemerintah.

Kemudian, kenapa tidak direnovasi dan dijadikan bangunan pasar bertingkat saja? Nadjmi menjelaskan bahwa untuk hal itu tidak cocok dengan jenis pasar yang sebenarnya.

“Yang pergi ke pasar itu biasanya tidak semuanya muda, tidak semuanya memiliki fisik kuat, coba dibayangkan kalau orang tua yang akan berbelanja, harus naik turun tangga ditambah barang belanjaannya? Apakah orang mau? Dan yang pasti akan terjadi kesenjangan sosial, karena pasar di bagian atas merasa kurang laku pada akhirnya” ujar Nadjmi

Di akhir sesi tanya-jawab tersebut, tak lupa Nadjmi menjelaskan bahwa jauh sebelum sosialisasi dilakukan, telah terlebih dulu dilakukan pendataan, survei, dan dipelajari dengan seksama oleh pihak-pihak terkait yang berkompeten di bidangnya, guna mencari pertimbangan dan menjadi solusi terbaik kepada para pedagang Pasar Bauntung, baik yang bertoko maupun yang di area luar pasar dan kemajuan perekonomian di Banjarbaru.

“Jadi, demi perekonomian yang baik untuk ke depan, bagi para pedagang yang sudah bertoko maupun yang di area luar pasar, mari coba kita lihat permasalahan ini lebih jernih lagi, manfaatnya ke depan bagi bapak/ibu para pedagang Pasar Bauntung dan warga di Banjarbaru,” pungkasnya. (ren/sir)

 

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan