oleh

Paradoks Anak Punk dan Kota Martapura. Menafsirkan Keberadaan Mereka.

Oleh: Harie Insani Putra

————————————

Sudah sejak lama kita mengenal betapa Martapura adalah kota yang agamis. Banyak alim ulama bermukim di sana, pondok pesantren dan para santri yang tak mengenal lelah belajar ilmu agama.

Jika orang-orang senang menjuluki Martapura sebagai kota santri, kota serambi mekah, maka secara pribadi dengan kemesraan yang tulus saya menyebutnya sebagai kota yang shalih.

Beberapa waktu lalu, persisnya malam minggu, saya sengaja ingin menghabiskan waktu luang untuk mengunjungi teman yang baru buka warung di alun-alun Martapura.

Di sinilah kemudian saya masih merasakan keshalihan warga Martapura yang religius. Bukan karena para perempuannya mayoritas berhijab, atau lalu lalang para santri yang mengenakan sarung, juga bukan karena arsitektur bangunannya bermotif islami. Bukan. Bukan itu.

Saat sedang asyik bercengkerama menikmati pentol bakar dan seduhan lembut kopi hitam, datanglah sekawanan pengamen bernyanyi dengan suara lantang. Sebuah nyanyian tak berirama jelas, jauh dari kata bagus. Tepatnya, cempreng.

Malam minggu di Martapura saya terganggu oleh sekawanan pengamen berambut warna warni. Siapa mereka dan bagaimana bisa ada di sana?

Jujur, saya tak memiliki data akurat laiknya catatan kependudukan. Saya hanya menebak keberadaan mereka dari sekian banyaknya pemberitaan tentang aksi para Satpol PP Kab. Banjar menanggulangi kenakalan anak-anak Punk di wilayah Martapura, Kabupaten Banjar.

Sebenarnya saya tak ingin menyebut mereka sebagai anak Punk. Itu serupa pujian dan terlalu bagus. Memang, secara fashion atau penampilan, mereka seperti anak Punk. Namun jika membaca sejarah lahirnya Punk sebagai sub kultur, mereka sarat dengan ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Dengan kata lain, mereka hadir membawa agenda besar, sebentuk perlawanan kepada penguasa yang tak mampu menangani kemiskinan, korupsi, kesenjangan sosial dan lain-lain.

Lantas bagaimana dengan anak-anak Punk yang ada di Martapura? Apakah kehadiran mereka sebenarnya merepresentasikan hal itu atau sebaliknya? Saya pikir, perlu penelitian lebih lanjut tentang ini.

Dulu, di Inggris, tempat lahirnya Punk pun penuh polemik. Agenda besar menyuarakan perlawanan kepada penguasa melalui fashion dan musik dicemari anak-anak muda yang hanya mengambil kebiasaan anak Punk.

Seperti rambut berwarna-warni, potongan rambut mohawk, mengenakan rantai,celana jeans ketat dan baju lusuh. Namun dalam prakteknya, mereka tidak menyuarakan apa-apa. Hanya berkeliaran di jalanan dan melakukan tindak kriminal.

Sampai di sini, sebelum catatan ini semakin memanjang, satu hal yang ingin saya garis bawahi. Masyarakat Martapura sejak dulu telah memiliki kultur atau identitas sendiri, yakni sebagai masyarakat yang agamis. Lantas, ketika sub kultur Punk menyeruak di Martapura, bagi saya itu sangat paradoks.

Keberadaan mereka cukup lama saya amati dari beragam pemberitaan. Rata-rata anak Punk di Martapura lebih cenderung melakukan aksi kriminalitas (meski tidak semua) atau penyimpangan moral. Ada yang ngelem, pelecehan seksual, atau kencing sembarangan di sudut-taman atau perkantoran.

Dari informasi yang saya peroleh melalui petugas Satpol PP Kabupaten Banjar, sebagian banyak di antara mereka justru bukan warga Kabupaten Banjar.

Melanjutkan cerita saya di atas. Religiusitas Martapura yang saya rasakan persis ketika para pengamen asyik bernyanyi dengan nada sumbang, sementara di mushola sedang melaksanakan sholat Isya.

Pada waktu bersamaan, salah seorang pedagang setempat menegur keras para pengamen tersebut. Awalnya mereka cuek dan terus bernyanyi. Sampai akhirnya saya pun membantu pedagang tersebut dengan ikut menegur dan mengingatkan mereka.

Ada beberapa pengamen yang sempat tak terima atas teguran tersebut dan mendatangi si pedagang. Entah apa yang mereka bicarakan, namun mereka lantas pergi menjauh.

Saat itu saya sempat termenung. Separah itukah? Sampai-sampai adab atau sikap menghormati orang lain melaksanakan ibadah sholat pun tak mereka miliki.

Pertanyaan penting yang tak harus dijawab, sejak kapan mereka ada di Martapura? Tak sanggupkah pemda setempat menyelesaikan dengan tegas persoalan sosial masyarakat sesederhana seperti ini?

Jika kelak mereka semakin tumbuh subur, dan mendadak Martapura seakan-akan ‘surga’ bagi mereka, semoga tak terjadi benturan kultural serius di Martapura. Semoga.

Komentar

Berita Terkini