oleh

Nasi Humbal; Tradisi Memasak Masyarakat Meratus Dalam Hutan

Beras gunung dimasukkan dalam bambu, kemudian dibakar hingga matang. Jadilah nasi humbal. Itu adalah salah satu cara masyarakat Loksado dan sekitarnya membuat makanan tradisional dengan memaknai kearifan lokal menggunakan bahan yang disediakan alam.

Muhammad Hidayat, Loksado

Beras gunung khas Meratus jika dimasak dengan wajan biasa ataupun rice cooker saja sudah beraroma wangi. Apalagi jika dimasak tradisional dengan cara dibungkus daun, belum lagi jika memasaknya di dalam bambu, gurihnya membuat lidah dimanjakan. Dan terasa semakin nikmat disantap di tengah rindangnya hutan Meratus.

Nasi humbal mempunyai cerita sejarah. Zaman dahulu masyarakat tidak memiliki peralatan memasak seperti sekarang, sehingga bambu dijadikan media untuk memasak.

Selain itu, sejak dahulu hingga sekarang, saat berada di tengah hutan baik berburu maupun bertani, masyarakat tidak mungkin membawa peralatan memasak. Sehingga jika ingin makan makanan yang dimasak mereka akan mencari bambu yang tersedia melimpah di alam Meratus.

Memasak nasi humbal tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan kalangan anak muda penduduk lokal saat ini pun masih banyak yang belum mahir, ada yang rasanya kurang lezat hingga hasilnya tidak matang.

Proses memasak nasi humbal, pertama memilih bambu buluh Kalimantan ukuran sedang. Bambu buluh dipilih karena memiliki ruas yang lebih panjang dari bambu biasa, sehingga satu ruas bisa menampung banyak beras.

Selain itu, buluh lebih tipis dari bambu lainnya, sehingga panas dari api cepat diserap. Yang lebih penting, serat pada buluh memiliki kadar air lebih banyak, sehingga sangat cocok dan akan memberikan aroma khas.

Buluh dipotong per satu ruas, bisa dibersihkan dahulu bagian luarnya dari bulu-bulu yang membuat kulit gatal saat tersentuh, bisa juga dicuci atau digosok dengan daun.

Berikutnya beras dicuci dan dibungkus dalam daun, biasanya dipakai daun yang masyarakat di sana menyebutnya daun ‘riri’ atau daun ‘batu’. Daun itu tumbuh liar di hutan Meratus, biasanya di tepi sungai atau dekat dengan sumber air.

Membungkus beras secukup daun bisa dilipat. Kemudian dimasukkan ke buluh, biasanya satu potong buluh cukup untuk memasukkan 6 bungkus beras. Setelah itu masukkan air secukupnya tanpa penuh agar tidak meluber saat air mendidih.

Lalu bakar buluh di atas api secara berdiri tegak sedikit condong ke arah api, untuk itu dibuat tiang dari kayu memanjang di atas api. Tunggu hingga matang, tandanya air akan mendidih dan buluh hangus sepanjang kulitnya.

“Biasanya, mahumbal pasangannya adalah (lauknya) mamalan iwak,” ujar Roby, Kasubbag Unpeg di Kecamatan Loksado, saat acara refreshing masak-masak bersama beberapa perangkat desa dan aparat se Kecamatan Loksado di Air Terjun Kilap Api, Kamis (8/8/2019) sore lalu.

Iwak Bapalan adalah lauk yang memasaknya hampir sama dengan nasi humbal, hanya saja yang dimasukkan ke buluh adalah ikan tangkapan di sungai, ayam, atau binatang buruan lainnya. Ditambahkan pula bumbu dan rempah-rempah untuk menyedapkan rasa.

Menurut Roby, saat ini memang sudah jarang ditemui orang memasak nasi humbal, yang dulu sering dilakukan masyarakat Loksado saat berada di tengah hutan. Ia tidak bisa memastikan asalnya dari mana, sebab tidak hanya di Loksado, tetapi semua wilayah Meratus ada ditemukan masyarakat memasak nasi dengan cara dibakar di dalam bambu ini.

Tetapi menurutnya, bisa saja berasal dari wilayah Loksado, sebab masyarakat Meratus hidupnya berpindah-pindah. Warga daerah pedalaman lain yang sudah menetap, juga banyak yang asalnya dari wilayah Kecamatan Loksado. Hal itu pula yang membuat kekerabatan masyarakat Meratus sangat erat.*

Komentar

Berita Terkini