oleh

Modal Rp 3 Juta, Penjual Nasi Goreng Ini Bisa Kuliah dan Hidupi Keluarga

Siapa sangka, hanya dengan modal usaha Rp3 juta, penjual nasi goreng bergerobak ini sekarang sedang menyelesaikan kuliah S1, bahkan mampu kredit rumah serta menghidupi istri dan 1 anak. Bagaimana ceritanya? Simak tulisan berikut.

DENNY SETIAWAN, Martapura

Awal cerita, setelah lulus SMA, lelaki asal Tuban Jawa Timur bernama asli Andre Yahya (27) ini ingin minta belikan sebuah sepeda motor kepada orangtuanya. Oleh orangtuanya, permintaan tersebut ditolak.

Keinginan besar untuk memiliki sepeda motor membuat dia nekad merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan tahun 2011, hanya ingin bekerja, kemudian bisa membeli sepeda motor.

Suatu ketika dia makan nasi goreng yang menjual bergerobak di kawasan Banjarmasin. Sangat kebetulan penjual nasi goreng itu sedang membutuhkan tenaga baru untuk menemaninya berjualan. Singkat cerita, sejak itu Andre ikut berjualan nasi goreng.

Rupanya tatkala ikut berjualan, dia sambil belajar dan menyerap ilmu membikin menu makanan yang dijual, mulai nasi goreng, mi goreng, cap cay maupun mi kuah.

Bukan hanya itu, dia jua telah mengumpulkan tabungan sebesar Rp3 juta yang tadinya akan dibelikan sepeda motor, seperti cita-citanya. Akan tetapi, setelah dia pertimbangkan, tabungan Rp3 juta tersebut sudah cukup bikin usaha yang sama.

Akhirmya hanya berjalan 1 tahun, dia memutuskan untuk mandiri, bikin usaha sendiri sebagaimana penjual nasi goreng yang menggunakan gerobak. Hanya saja modal Rp3 juta tersebut, dia harus membikin gerobak sendiri, tanpa harus diupahkan. Serta membeli bahan dan perlengkapan untuk berjualan.

Sejak itu dia mulai berjualan nasi goreng bergerobak di sekitar perempatan Sekumpul, persisnya sekitar galeri Az Zahra sekarang. Kemudian tinggal di rumah sewa. Seiring waktu, rupanya menu makanan yang dijualnya cocok dengan selera pembeli, sehingga hasil sebagai penjual nasi goreng mampu menutupi kebutuhanya sehari-hari.

Selama berjualan di kawasan tersebut dia “kecantol” dengan seorang gadis yang kebetulan menjadi karyawan toko bernama Nida yang kini sudah diperistrinya. Karena istrinya memiliki pendidikan D3 Analis, sehingga mendapat kesempatan bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah Puskesmas di wilayah Martapura Kota.

Perlahan namun pasti, profesi sebagai penjual nasi goreng terus digeluti Andre hingga sekarang. Kini dia berjualan di sekitar TK Imtinan Sekumpul dengan menyewa lokasi sebesar Rp300.000 perbulan.

Selain menjalani profesi sebagai penjual nasi goreng, Andre Yahya menggunakan paruh waktunya untuk meneruskan pendidikan S1 Jurusan Komunikasi Informasi di Uniska. Bahkan saat ini dia sudah kuliah di semester VI.

Tanggung jawabnya pun semakin bertambah. Selain membiayai kuliah, dia juga harus menyisihkan penghasilan untuk membayar kredit rumah yang sudah berjalan selama 4 tahun di kawasan Perumahan Seribu Desa Sungai Sipai, Martapura. Selain itu menghidupi keluarga yang sudah dikarunia anak berumur 4 bulan. Sepeda motor yang dia cita-citakan pun sekarang sudah terbeli.

“Kalau istri saya bekerja sebagai honorer di Puskesmas. Penghasilannya cukuplah untuk dia sendiri,” ucapnya polos.

Disinggung mengenai cita-citanya ke depan, pertama Andre ingin membuka warung makan. Namun untuk sekarang dia belum mampu menyewa sebuah warung. Kedua, dia ingin bekerja sesuai pendidikannya jurusan Komunikasi dan Informatika. “Saya ingin sekali buka warung, tetapi sewanya mahal, sebesar Rp30 juta setahun,” katanya.

Akan tetapi jika ada pihak yang minat kerjasama dengannya, dia bersedia seumpama dengan sistem bagi hasil. “Omset saya sekarang sekitar Rp500.000 per hari, kalau keuntungannya sekitar Rp150.000, kalau dikumpulkan 1 bulan ya sekitar Rp4.500.000,” bebernya.

Sementara ini dia berjualan hanya menggunakan gerobak, rata-rata pulang hingga pukul 01.00 wita / dinihari.(*)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: