oleh

Menjenguk Korban Selamat Musibah Jembatan Gantung Putus di Pengaron

Berpegang Tali Jembatan dan Ditolong Warga di Tepi Sungai

 

Tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh ibu dan anak ini, mereka akan menjadi korban dalam musibah jembatan gantung yang terputus di Desa Benteng Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar.
Beruntung dalam musibah Senin (18/5/2020) sore, sang ibu sempat berpegang tali jembatan dan ditolong warga yang lebih dulu menyelamatkan anaknya.

 

Jembatan gantung paska putus dari sisi Desa Benteng. (Foto: iday/koranbanjar.net)
Jembatan gantung paska putus dari sisi Desa Benteng. (Foto: iday/koranbanjar.net)

 

HAIRIYADI, Pengaron

 

BERANGKAT dari ibukota Kabuaten Banjar, Kota Martapura pada Selasa (19/5/2020) sekitar pukul 09.30 Wita dan saya tiba satu jam kemudian di tempat musibah kejadian jembatan gantung yang terputus di Kecamatan Pengaron, penghubung Desa Benteng dan Benteng Seberang.

Di sana, saya bertemu dengan Danramil 1006-02 Pengaron Kapten inf Kurmanto dan jajaran Koramil 1006-02 Pengaron, juga perwakilan Dinas PUPR Kabupaten Banjar Purwanto yang sedang melakukan peninjauan lokasi kejadian.

Berikutnya sekitar 30 menit kemudian, saya beranjak ke Desa Benteng Seberang dan menyambangi dua korban selamat dari musibah putusnya jembatan gantung. Ibu dan anak, yakni Kartinah alias Titin dan Kansya Akilla atau Ila, kondisi fisiknya tampak sehat. Memang kening Ila, anak perempuan usia 8 tahun itu, terlihat luka memar.

Dipaparkan Titin, sebelum kejadian itu, ia bersama anaknya berniat untuk ke Pasar Pengaron membeli menu berbuka puasa. Cuaca sedang hujan rintik kala itu, dengan menggunakan payung mereka berjalan hendak menyeberang jembatan dari tempat tinggalnya di RT 03 Desa Benteng Seberang menuju pasar Pengaron, RT 02 Desa Benteng.

Namun, sesampainya di tengah jembatan gantung, terdengar bunyi keras dan tak disangka disusul putusnya jembatan. Ia dan anaknya dalam posisi di atas jembatan, terjatuh dan tercebur ke Sungai Riam Kiwa bersama-sama jembatan di bagian tengah.

Ia berteriak sekuatnya meminta pertolongan. Menjadi semakin panik manakala ia tak melihat anaknya. Tak berapa lama, anaknya muncul ke permukaan, ia langsung memegang tubuh anaknya dan mengangkat bagian kepala untuk tetap terdongak ke atas agar bisa menghirup udara dan bernapas. “Alhamdulillah masih selamat, semula saya mengira tenggelam,” ucapnya, mengungkapkan puji syukur.

Dua lembar nyawa mereka berdua terselamatkan setelah Ahmad Husein dan beberapa warga lainnya–di antaranya Muhidi, Ilmi, Ruli, Bandi–begitu cepat berenang ke tengah jembatan gantung. Hal tersebut mereka lakukan karena mendengar suara teriakan Titin alias Itin.

“Ulun pegang kepala Ila (anak), diangkat bagian wajah ke atas supaya bisa bernapas. Badan Ila sudah lemas dan pucat,” sebut Itin.

Diutarakan Ahmad Husein, ia waktu itu sedang berada di belakang rumah. Ketika mendegar teriakan, ia langsung menceburkan diri dan berenang ke tengah jembatan gantung. Lalu, bersama-sama dengan yang lainnya menolong kedua korban tersebut.

“Ada lainnya juga mencoba membantu, kami suruh balik karena rekan yang ada sudah cukup. Lagi pula airnya deras,” kata Ahmad Husein, tokoh masyarakat Desa Benteng Kecamatan Pengaron. *

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: