oleh

Marcella Simon Bagikan Cara Menulis Bahkan Menjadi Seorang Penulis

Aktris sekaligus Penulis Marcella Simon mengatakan, membaca bermanfaat bagi orang yang mau menulis.

AGUS HASANUDDIN, Banjarmasin

UNTUK menjadi penulis harus hobi membaca dulu. Begitulah pesan pertama di ucapkan bintang FTV ini kepada ratusan mahasiswa serta tamu undangan lainnya saat Meet and Greet di Ruang Aula Dispersip Kalsel, Banjarmasin KM 6, Sabtu (11/1/2020).

Ia mengungkapkan, kalau berminat menulis buku.

Pertama yang dilakukan ialah membaca, kemudian pelajari.

“Misal baca novel dulu, kemudian kita bisa mengambil style penulisannya antara beberapa kalimat,” ungkap aktris cantik yang sering disapa Marcella ini.

Setelah itu, perhatikan buku sedang laris di pasaran, lihat bukunya, dan jika Anda membaca bisa membuat tertarik berarti kemungkinan besar buku yang akan dibuat juga laris kalau mengikuti style tersebut.

“Jadi kita harus belajar dari yang sudah laku. Dan terpenting, mulai lah menulis, jangan pernah ragu, coba saja menulis, pokoknya mau terbikin atau tidak ya coba saja tulis,” lanjut dia.

Karena nanti sesuatu yang sudah ditulis, tiba-tiba ada kesempatan ada penerbit yang buka di sana mereka nanti bisa menilai.

Oleh sebab itu, Marcella memberikan beberapa tips untuk menulis agar jadi seorang penulis.

Pertama ialah harus pedekate dengan penerbit.

“Kita harus tau penerbit itu maunya apa, penerbit itu mau menerbitkannya yang seperti apa,” ungkap penulis buku anak Fairydise telah menghasilkan delapan buku untuk edisi tersebut, ditambah satu buku Mollen.

Ditambahkan dia, harus bisa negosiasi dengan editor.

“Kita harus tahu selera pasar itu seperti apa. Jadi, untuk buku supaya bisa jadi komersil, bisa di terbitkan, bukan cuma ide yang baik, cuma bisa diterima masyarakat dan bisa laku,” jelasnya.

Ia mengharapkan, kedepan buku bisa menjadi lifestyle bagi orang banyak.

Orang membawa buku itu bisa bangga membawanya sama seperti orang bisa memakai tas mahal.

“Kalau orang baca buku di transportasi umum itu kelihatan lebih keren sama kaya orang pake baju yang necis, jadi kalau melihat di luar negeri, orang di pinggir pantai saja baca buku sambil santai, orang bule banyak begitu, mereka bisa nyaman dengan baca buku,” ujarnya.

Ia menerangkan, orang di Indonesia masih kebanyakan takut.

Dalam artian, misal ia membawa buku dikatain orang lain sebagai kutu buku.

“Sebenarnya stigma seperti ini yang harus kita hilangkan, jadi baca buku itu keren, itu lifestyle, itu sih kemauan pribadi dari saya,” tuturnya.

Sedangkan untuk buku digital sendiri, ia menerangkan, buku digital bisa lebih menarik daripada buku cetak, lantaran tidak bolak balik.

“Ada banyak hal yang bisa disediakan oleh digital itu sendiri, jadi sebenarnya. Kita juga seiring perkembangan teknologi, juga tetap harus idealis, pokoknya buku ya harus buku,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, membaca buku digital sebenarnya tidak masalah, karenanya hal tersebut sama-sama menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.

“Cuma balik lagi, akan lebih indah kalau buku itu bisa jadi lifestyle,” paparnya.

Sementara itu, ia menilai langkah telah dilakukan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Kalsel H Nurlianie Dardie untuk meningkatkan dunia literasi di Kalsel, sudah sangat baik.

“Dengan mendekorasi ruangan perpustakaan supaya lebih fotogenic, lebih instagramable, dan benar-benar kekinian banget, jadi anak muda mau datang ke sini untuk baca, posting foto, bareng sama rak buku, atau baca buku, di tempat yang bagus,” ujarnya.

Mereka posting foto itu akan menjadi semacam daya tarik nantinya bagi yang belum pernah melihat.

“Dengan mereka posting foto di sini, lalu orang lain ikut-ikutan dan nanya dimana tempatnya, dan akhirnya semakin banyak orang ke Perpus untuk baca buku dan foto-foto,” tukasnya. (dya)

Komentar

Jangan Lewatkan