oleh

Kisah Tragis Pengamen Tuna Netra yang Mangkal di POM Bensin

Mengenal lebih dekat suka dukanya seorang pengamen tuna netra yang selama ini memilih menjual suaranya ketimbang hanya meminta-minta sumbangan kepada orang lain, kali ini koranbanjar.net mewawancarai pengamen musik tuna netra di Jalan A Yani KM.2,8, Sabtu (29/6/2019)

YULIANDRI KUSUMA WARDANI. Banjarbaru

Pengamen musik tuna netra, Siti Zahrah (45) mengatakan, dia kurang lebih mengamen selama 3 tahun mulai dari jam 7 pagi sampai 11 siang, pindah-pindah tempat. Kadang-kadang di Loktabat, kadang di sini dan di rumah makan warung, kadang di taman. Setiap harinya naik angkot langganan antar jemput dikasih harga tiga puluh ribu sudah dibantu sampai ke tujuan. “Pokoknya karena kan saya tidak bisa melihat jadi ya perlu bantuan orang lain bahkan kalau tidak ada angkot saya naik ojek juga langganan,” ujarnya.

“Saya tuna netra mulai dari umur 2 tahun dan sempat mengikuti pendidikan sekolah hanya sampai SMP, setelah itu saya ambil kursus pijat lalu saya membuka jasa pijat di rumah yaitu di Jalan Kuranji Landasan Ulin. Itu pun jarang juga yang pijat jadi ya terpaksa harus ngamen seperti ini. Dulunya kan pijat saja profesinya, namun tahun 2008 suami saya mengalami kecelakaan di depan Jalan Kuranji waktu mau nyebrang, jadi dia tidak bisa lagi kerja,” ungkapnya.

Dia juga sama seperti saya tuna netra sebelum kecelakaan itu, awalnya dia keliling ke hotel-hotel lalu setelah kejadian itu saya yang harus turun ke lapangan, tetapi alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh dan kerjanya sama seperti saya,” ujarnya kepada koranbanjar.net.

Ia juga menjelaskan,  ikut organisasi namanya Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Nusantara yang diketuai Dody Suryanto, tuna netra juga di sana juga ada narasumbernya tuna netra. “Di sana kami dibina untuk keahlian macam-macam, namun yang musik ini kami yang mulai serta kami diajarkan untuk tidak hanya meminta-minta saja, serta ada juga kami mengadakan pengajian setengah bulan sekali di Jalan Gotong Royong Banjarbaru, Yayasan itu sudah disahkan ketua RT, RW dan kecamatan setempat.

“Alasan saya memilih mengamen menurut pendapat saya ada kerjanya menjual suara daripada harus mengemis hanya minta-minta gitu aja, sedangkan untuk tunjangan atau bantuan di yayasan kami tidak ada, hanya kami saja yang inisiatif membuat kotak amal ditaruh ke warung-warung dan toko,” tuturnya.

“Penghasilan 100 ribu kotornya sama angkot, kalau harinya hujan atau pom bensin tutup kan kadang-kadang tidak ada pemasukkan gitu ya, tapi ya kalau sudah terbiasa penghasilan sedikit ya mau gimana lagi gitu,” imbuhnya.

“Saya punya anak 1 cewek alhamdulillah normal tidak seperti kami, sekarang dia masih sekolah tsanawiyah di Guntung Manggis. Harapan ke depan mudah-mudahan orang-orang disabilitas seperti saya ini diperhatikan,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terkini