Dengan langkah gemulai, lelaki berumur itu berjalan menuju mobil taksi yang sudah butut untuk mencari nafkah keluarganya. Iya benar, dia seorang sopir taksi antar Kota dengan tujuan Banjarbaru – Martapura.
Laporan Jurnalis Koranbanjar.net
Hasanudin – Banjarbaru
Menaksi (kerjaan menjadi sopir taksi) ini ia geluti sudah lama sejak puluh tahun lalu.
“Ya kaini pang sudah gawian (beginilah kerjaan),” ujarnya sambil menepis peluh di wajah.
“Mang Rani antar ulun,” ucap seorang perempuan yang ingin diantar oleh Rani.
Yap, Lelaki tua itu bernama Basrani warga Martapura. Seusai mengantarkan langganannya, ia kembali mangkal di depan Taman Air Mancur Banjarbaru.
Saat saya bertanya bagaimana kondisi pendapatan di tengah serangan wabah corona yang makin merambat? Rani menjawab dengan lirih.
“Sangat merusut bahkan tidak dapat apa-apa. Ulun mangkal di sini agar dapat makanan gratis gasan (untuk) ulun dan anak bini ulun,” rintihnya.
Ia merasa tidak takut lagi dengan wabah yang sedang melanda di dunia.
“Ulun lebih takut lapar daripada corona ini,” cetusnya dengan lantang.
Keadaan saat ini, memang sangat menghambat mata pencaharian masyarakat. Seperti halnya Rani, sangag mengeluhkan keadaan seperti ini.
Saat ini, dirinya merasa banyak ruginya dari pada untungnya. Dari uang beli bahan bakar untuk taksinya saja, merasa sulit.
“Mengharapkan bantuan dari Pemerintah. Mana baras habis, bulik (pulang) kadada (tidak ada) membawa duit,” ucapnya dengan lesu.(bersambung)