oleh

KINA SI OBAT ANTIMALARIA

Penemuan obat adalah sebuah usaha yang diarahkan pada suatu target biologis, yang telah diketahui berperan penting dalam perkembangan penyakit atau dimulai dari suatu molekul dengan aktivitas biologi yang menarik. Rancangan obat adalah usaha untuk mengembangkan obat yang telah ada, yang sudah diketahui struktur molekul dan aktivitas biologisnya, atas dasar penalaran yang sistematik dan rasional, dengan mengurangi faktor coba-coba seminimal mungkin. Pada awalnya tujuan perancangan obat adalah mendapatkan obat baru dengan aktivitas yang lebih baik dengan biaya yang layak secara ekonomi, kemudian berkembang untuk mendapatkan obat dengan efek samping yang minimal (aman digunakan), bekerja lebih selektif, masa kerja yang lebih lama, dan meningkatkan kenyamanan pemakaian obat.

Rancangan obat sering digambarkan sebagai proses elaborasi sistematik untuk mengembangkan lebih lanjut obat yang sudah ada, dengan tujuan mendapatkan obat baru dengan efek biologis yang di ingnkan dan mengurangi atau menghilangkan efek samping yang ada melalui manipulasi molekul. Manipulasi molekul adalah sebuah proses rekayasa penambahan, pengurangan, atau penghilangan keseluruhan atom yang saling berkaitan kuat dalam susunan tertentu dan bermuatan netral dan stabil. Manipulasi molekul merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan obat baru dengan aktivitas yang dikehendaki, yaitu meningkatkan aktivitas obat, menurunkan efek samping atau toksisitas. Desain obat adalah proses iteratif yang berawal dari suatu senyawa yang mempunyai aktivitas biologi dan diakhiri dengan mengoptimasi baik kemampuan aktivitas molekul tersebutĀ  maupun cara sintesisnya.

Kina adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria. Obat ini pertama kali ditemukan dari pohon kina (Peruvian atau Cinconabark) di daerah tropis, dengan kandungan alkaloid kinin. Korteks kina mengandung berbagai alkaloid, antara lain kinin, kinidin, sinkonin dan sinkonidin yang termasuk golongan kinolin. Kinin merupakan bahan untuk tonikum, anti piretikum dan antimalaria. Kina merupakan obat antimalaria, penyakit ini disebabkan oleh parasit yang dikenal dengan plasmodium. Kelompok alkaloid kinkona yang bersifat skisontosida darah untuk semua jenis plasmodium manusia dan gamettosida P. vivax dan P. malariare. Obat ini merupakan obat antimalaria alternatif untuk pengobatan radikal malaria falciparum tanpa komplikasi yang resisten terhadap klorokuin dan sulfadoksin-pirimetanin (multidrug).

Kina bekerja dengan membunuh parasit malaria yang menetap di dalam sel darah merah setelah memasuki tubuh manusia. Terkadang kina juga digabungkan dengan obat-obatan lain, seperti primaquine untuk membunuh malaria yang menetap di jaringan tubuh lain. Selain obat malaria kina juga dapat digunakan sebagai obat penyakit jantung, influenza, dan pembesaran limpa. Obat kina sendiri memiliki beberapa efek samping seperti sakit kepala, perut terasa tidak nyaman, diare, muntah, pengelihatan buram, telinga berdengung, dan nyeri lambung. Reaksi alergi biasanya juga dapat muncul segera setelah seseorang diberikan obat kina. Reaksi alergi bisa berupa kemerahan atau ruam pada kulit, kesulitan bernapas, denyut jantung meningkat, dan nyeri dada.

Kebutuhan akan obat antimalaria yang meningkat menyebabkan perlunya peningkatan produksi kinolin dari kina. Pohon kina baru bisa di panen setelah minimal berusia 7 tahun dan akan menghasilkan kadar kinolin maksimal pada usia 20 tahun. Lambatnya produksi kinolin ini memicu produksi antimalaria sintetik. Antimalaria sintetik ternyata menimbulkan resistensi sehingga permintaan kinolin kina kembali meningkat, sehingga menyebabkan obat kina menjadi langka. Kasus kelangkaan ini disebabkan oleh pohon kina yang penghasilannya memerlukan waktu sekitar 20 tahun untuk tumbuh dewasa, sehingga kasus iniĀ  menantang para scientist untuk mengembangkannya di laboratorium. Sampai ditemukan teknik in vitro melalui penggandaan tunas pucuk dan tunas aksiler karena teknik tersebut merupakan metode alternatif untuk perbanyakan tanaman kina secara cepat. Namun ada kendala yaitu masih adanya impurity (pengotor).

Struktur kinin mempunyai 2 bagian, yaitu cincin kinin dan kinolin. Diperlukan suatu pemisahan dan pemurnian pada cincin kinolin karena terdapat 2 atom C asimetrik sehingga produknya berupa campuran dengan struktur dalam ruang yang berbeda. Sampai sekarang, obat kina yang sering kita dapati di apotek adalah hasil isolasi atau disebut juga dengan hasil suatu senyawa yang menghasilkan senyawa tunggal murni. Penyalahgunaan obat terjadi secara luas diberbagai belahan dunia. Penyalahgunaaan obat ini terkait erat dengan masalah adiksi atau ketagihan yang selanjutnya bisa berkembang menjadi ketergantungan obat (drug dependence). Pengguna umumnya mereka telah sadar bahwa mereka melakukan kesalahan, namun mereka sudah tidak dapat menghindarkan diri dari masalah penyalahgunaan obat-obatan. Istilah penyalahgunaan obat merujuk pada keadaan dimana obat digunakan secara berlebihan tanpa tujuan medis atau indikasi tertentu.

Masalah di atas perlu penyelesaian, maka dikembangkanlah obat kina dengan istilah desain obat. Pada struktur kina, setelah diteliti menunjukkan bahwa walaupun bagian cincin kinolin (bidang senyawa kiral) dihilangkan dari strukturnya, kina tetap menunjukkan aktivitas. Sehingga para scientist desain obat mengembangkan obat primakuin dan klorokuin. Primakuin adalah turunan 4-hidroksi aminokinolin, sedangkan klorokuin adalah turunan 8-hidroksi aminokinolin. Ciri khas senyawa adalah mempunyai jembatan peroksida. Nama IUPAC nya adalah (3R, 5As, 6R, 8As, 9R, 12S, 12Ar)- oktahidro-3, 6, 9- trimetil-3, 12-epoksi12H- piranol [4,3-j]-1,2- benzodioxepin-10 (3H)- on. Untuk optimasi modifikasi senyawa dilakukan penelitian dan dilaporkan bahwa semua model persamaan terbaik mengandung deskriptor muatan bersih atom O 16, C 10, C 12, dan O 18, keempat atom tersebut merupakan pusat aktif dari turunan artemisinin. Oleh karena itu, keempat atom tersebut tidak boleh dihilangkan dari struktur obat antimalaria.

Obat kina sudah lama dipercaya sebagai obat yang tepat dan efektif untuk mengobati malaria. Namun umumnya obat ini tidak diindikasikan untuk mencegah malaria, melainkan menjadi obat untuk mengatasi infeksi malaria. Penggunaannya dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau dibarengi dengan terapi obat malaria lainnya. Ternyata saat ini obat kina dianggap kurang efektif untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk ini. Selain itu obat kina dianggap dapat memicu efek samping yang berbahaya sehingga sudah tidak digunakan lagi pada zona merah endemis malaria. Akan tetapi obat kina masih bisa digunakan sebagai opsi kedua untuk mengobati penyakit malaria atau sebagai obat antimalaria. Obat kina sendiri masih bisa ditemui di beberapa rumah sakit, atau bila ingin menggunakan obat ini bisa konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Dikutip dari berbagai sumber.

Annisa Widya Rahmawati, Muhammad Rojab, Oktavia Hesti Fauzy, Azidi Irwan

(Mahasiswa dan Dosen Program Studi Kimia FMIPA ULM).

Komentar

Jangan Lewatkan