Kewafatan Datu Kelampayan Terjadi di Musim Kemarau yang Diguyur Hujan

MARTAPURA, KORANBANJAR.NET- Ribuan  jamaah dari berbagai daerah menghadiri peringatan wafatnya atau Haul ke-212 ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal dengan sebutan Datu Kelampayan.

Bukan hanya masyarakat biasa yang mehadiri haul Datu Kelampayan, tapi turut hadir sejumlah pejabat daerah termasuk Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, Bupati Banjar H Khalilurahman , di Masjid Agung Tuhfaturrooqhibiin, Desa Dalam Pagar Ulu, Martapura, Rabu (20/06) pagi.

Meski diguyur hujan yang lumayan deras, namun hal itu tidak menyurutkan antusias masyarakat yang sangat cinta kepada  ulama fiqih mazhab Imam Syafi’i sekaligus tasawuf itu.

Diguyur hujan

Dari pantauan koranbanjar.net bahkan ada jamaah yang rela hujan-hujanan karena tidak dapat tempat duduk akibat banyaknya yang hadir.

“Saya dari Banjarmasin sengaja datang ke sini untuk ikut acara haul Datu Kelampayan, meski hujan, nanum tetap pada niat awal.” ujar Mani salah satu jamaah haul.

Sementara itu Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor dalam sambutan mengatakan, peringatan Haul Syekh Arsyad Al-Banjari ini adalah bukti kecintaan masyarakat Kalimantan selatan  terhadap ulama. Dan juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar sesama.

Gubernur H Sahbirin
Gubernur H Sahbirin

“Ini adalah bukti cinta kita semua terhadap para ulama yang telah berjasa besar dalam kehidupan kita semua, dan ini juga menjadi ajang silaturahmi untuk kita,” katanya

Sementara acara Haul Syeh Muhammad Arsyad Al-Banjari itu dipimpin salah satu ulama di Martapura yakni KH Wildan Salman.

Diketahui Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dedikasinya sangat luar biasa, yang kemudian menyandang gelar Datu Kalampayan ini merupakan ulama fiqih mazhab Imam Syafi’i sekaligus tasawuf. Kemudian, dari jalur nasab seperti ditulis Mufti Kerajaan Indragiri, Syekh Abdurrahman Siddiq tersambung hingga ke Rasulullah Saw, melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao, Filipina Selatan, melalui nasab Imam Sayyidina Husien bin Ali bin Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra.

Sebelum berpulang ke rahmatullah pada 03 Oktober 1812  pada umur 102 tahun, dikutip dari berbagai literatur,  Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari pernah berwasiat untuk dimakamkan di daerah Tungkaran Tengah, Martapura, itu kalau musim kemarau. Namun, jika musim air (ba’ah), ulama besar yang sangat mewarnai perkembangan Islam di Tanah Banjar dan Kalimantan ini, mewasiatkan dimakamkan di Kalampayan, Kabupaten Banjar.

Ternyata, beliau yang hidupnya bagaikan berlian bersinar menghadap keharibaan Allah Swt pada musim kemarau. Sebagai seorang waliyullah, meski saat itu musim kemarau, ternyata hujan turun deras, sehingga membuat air sungai berlimpah ruah. Akhirnya, jasad orang mulia ini pun dikebumikan di Kalampayan, yang kini menjadi pusat ziarah umat Islam Tanah Banjar dan daerah lainnya.(sai/sir)