oleh

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI ke-6 Resmi Dibuka, Ini Harapan Menag

BANJARBARU, KORANBANJAR.NET – Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Syaifudin yang menjadi pembuka secara resmi acara Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI ke-6 se Indonesia di Kalimantan Selatan, menyampaikan beberapa hal dalam sambutannya.

Lukman mengatakan para ulama ini memiliki setidaknya dua keistimewaan, dan keistimewaan itulah yang membuat mereka sangat berhati-hati dalam mengambil pendapat atau fatwa. Oleh karena itu, fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama akan membawa dampak besar bagi umat. Bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat.

“Mengeluarkan sebuah fatwa bukanlah hal mudah, bahkan lebih sulit karena pertanggung jawabannya bukan hanya di dunia, namun fatwa itu nantinya juga harus dipertanggung jawabkan di akhirat. Oleh karena itu pula, sejumlah ulama membuat persyaratan yang cukup ketat untuk mengeluarkan sebuah fatwa,” ujarnya.

Mereka para ulama berkumpul di sini, bukan hanya sekedar berkumpul melainkan berkumpul untuk merespon persoalan-persoalan keumatan. Dalam forum ijtima ulama ini berbagai masalah akan dicarikan solusinya.

“Relasi antara ulama dan umara dalam konteks Indonesia yang religius adalah sebuah keniscayaan, tetapi pemerintah atau umara akan terus membutuhkan ulama dalam hal nasehat-nasehat atau fatwa-fatwa keagamaan yang konstruktif dan produktif. Sementara, ulama membutuhkan umara untuk mendukung aktifitas mereka, dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, sosial dan hal-hal strategis lainnya. Karena itu, baik buruknya ulama dan umara akan menentukan baik buruknya sebuah bangsa,” jelasnya.

Lukman juga menjelaskan bahwa dalam konteks sejarah nusantara secara historis sinergi ulama dan umara hingga saat ini terjalin sangat mesra dan kuat. Relasi ulama dan umara yang sudah sangat intim ini, seakan sudah menjadi DNA bagi masyarakat Indonesia yang terwariskan dari generasi ke generasi.

“Sehingga, kendati terjadi dinamika dan pasang surut, tetapi secara umum itu tetap terjalin dan terlihat indah. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus kepemimpinan, keulamaan para pendahulu pendiri bangsa tidak ada pilihan lain bagi kita semua, kecuali terus mengkonservasi dan melestarikan relasi ulama dan umara ini dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.

Maka terkait dengan hal itulah, mulai hari ini hingga tiga hari ke depan pesantren al-falah Banjarbaru, di Kalimantan Selatan ini akan menjadi bukti, relasi mesra ulama dan umara untuk kesekian kalinya. Para ulama dan cendikia akan membahas sejumlah masalah faktual, baik isu-isu yang terkait dengan kebangsaan maupun isu-isu kegamaan komtemporer dan masalah peraturan perundang-undangan.

“Dengan beasaskan pancasila, bangsa ini mampu merangkum hukum agama dengan hukum lokal sehingga keduanya bersenyawa menjadi semacam simfoni negara bangsa yang khas di bumi persada. Saya berharap semoga acara ijtima ulama komisi fatwa MUI se Indonesia ke-6 yang diselenggarakan oleh MUI ini, menghasilkan fatwa-fatwa yang kontruktif dan mencerahkan. Sehingga kita dalam memimpin umat, bisa berdampak pada berbangsa dan bernegara yang lebih baik,” tutupnya.

Pada kesempatan itu, juga diadakan acara penyerahan bantuan untuk Palestina dari warga Tapin dan sekitarnya. Yang diserahkan langsung kepada perwakilan ulama dari Palestina.(ana)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: