oleh

HST Punya Tradisi Sepak Bola Api Di Malam 17 Agustus

HULU SUNGAI TENGAH,koranbanjar.net – Selain tradisi perang meriam karbit di malam hari raya Idulfitri di Kecamatan Pandawan, ternyata Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) juga mempunyai tradisi 17 Agustusan yang unik di Desa Banua Jingah, Kecamatan Barabai.

Tradisi yang dilakukan masyarakat Desa Banua Jingah di malam 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia itu adalah bermain sepak bola api.

Permainanya tak jauh berbeda dengan sepak bola biasa. Namun bola yang digunakan bukanlah bola biasa. Bola terbuat dari buah kelapa kering yang bagian kulitnya sudah dikupas.

Sebelum digunakan, kelapa juga harus direndam dengan minyak tanah selama satu hari agar api bisa menyala dengan awet. Satu biji kelapa bisa dimainkan selama 7 sampai 10 menit. Jika nyala api sudah mulai berkurang saat dimainkan, bola langsung diganti dengan yang baru.

Bola api tampak dari dekat. (foto: muhammad ramli/koranbanjar.net)

Satu tim sepak bola api dimainkan 7 orang pemain. Permainan berjalan tanpa aturan waktu. Selama pemain masih ada dan persediaan bola belum habis, sepak bola api terus dimainkan. Dalam waktu dua jam, setidaknya ada 20 biji kelapa yang harus disediakan.

Meski tak mudah dan cukup mengundang bahaya, tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun di Desa Banua Jigah itu selalu menarik perhatian banyak masyarakat setempat.

Menurut salah satu panitia acara, Norman, kepada koranbanjar.net, Sabtu (17/8/2019) malam, tradisi sepak bola api masyarakat Desa Banua Jingah sudah ada sejak sepuluh tahunan yang lalu.

“Sepak bola api ini sudah jadi tradisi rutin masyarakat Desa Banua Jingah setiap tahun di malam 17 Agustus,” katanya . (mdr/dny)

Komentar

Jangan Lewatkan