Baznas

DUWI RELA KAKINYA DIAMPUTASI

- Tak Berkategori
  • Bagikan

BANJARBARU – Memperihatinkan. Itulah keadaan yang dialami Duwi Suprianto (22), warga Jl. Ir PM Noor RT. 20 RW.05 Kecamatan Sungai Ulin Kota Banjarbaru. Dia menderita kanker tulang selama 2 tahun. Berbagai pengobatan sudah dilakukan Duwi, mulai pengobatan medis hingga pengobatan tradisional. Namun sampai sekarang usaha tersebut belum membuahkan hasil yang mengembirakan. Selama kurang lebih dua tahun ini, Duwi hanya bisa menghabisan waktu di tempat tidur, dan kalau ke mana-mana dia harus menggunakan kursi roda.

“Kejadian tersebut bermula tahun 2015, Duwi awalnya diserempet mobil pick up jenis Carry ketika mau berangkat kerja. Waktu itu, saya menyarankan untuk diurut (pijit) saja. Namun lama kelamaan pahanya
semakin mengecil. Saya langsung membawanya ke Puskesmas untuk meminta rujukan ke rumah sakit, setelah itu dibawa ke RSUD Banjarbaru. Di rumah sakit, dirontgen dan ditemukan ada sel tumor, sehingga dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin,” ungkap Orang Tua Duwi, Miswati (47).

Waktu itu, pihak rumah sakit menyarankan untuk dioperasi. Tapi sayang, rencana operasi tertunda, karena harus menunggu dokternya yang masih seminar. “Padahal saat itu sudah dipasangkan gelang pasien, kami pun pulang karena Duwi tidak bisa tahan lama berada di rumah sakit. Pelayanan pelayanan rumah sakit terkesan lambat, masa cuma ada satu dokter, kan ngga mungkin?”ujar Miswati.

Dia menambahkan, saat ingin dioperasi, pihak dokter selalu menunda-menunda hingga selama 3 bulan, sampai Duwi emosi. Nah, kelamaan menunggu, Duwi kembali dibawa ke RSUD Banjarbaru.  Kemudian pihak RSUD Banjarbaru menghubungkan dengan Dinas Kesehatan Banjarbaru.

Dinas Kesehatan Banjarbaru memberikan rujukan ke RS Dr.Suoetomo Surabaya. Namun tidak langsung dibawa ke Surabaya, mengingat pihak Dinas Kesehatan Banjarbaru belum memiliki anggaran, sehingga Duwi kembali menunggu selama 6 bulan.

Sementara menunggu, Duwi hanya mendapatkan obat-obatan dari pihak RSUD Banjarbaru. Begitu tiba waktu menunggu selama 6 bulan, Duwi dibawa ke RS Dr.Suetomo Surbaya. Selama 27 hari Duwi menjalani pengobatan, sampai akhirnya dokter menyarankan untuk mengamputasi kakinya, karena sel kanker terus menyebar dan tidak bisa diobati lagi. Akan tetapi Duwi menolak untuk
diamputasi.

Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Banjarbaru menghentikan bantuan, sebab Duwi menolak untuk diamputasi. Sejak itulah, dia harus berobat dengan biaya sendiri. “Harapan saya pemerintah bisa memberikan bantuan kembali agar anak saya bisa sembuh, tidak apa-apa bila harus diamputasi. Cukup di Banjarmasin saja, tidak usah jauh sampai ke Surabaya. Karena kalau di sini saya bisa lebih dekat dengan anak, dan ongkosnya tidak berat,”ungkap Misnawati.

Dia juga masih berharap kepada pemerintah agar bisa memberi bantuan kepadanya, namun tidak sampai menjalani amputasi. “Kalau tidak ada cara lain, mau tidak mau saya harus siap dengan tindakan amputasi, demi kesembuhan agar tidak kesakitan lagi setiap malam,”pungkas Duwi.

Selain menderita kanker tulang, Duwi juga disulitkan oleh keadaan ekonomi. Dia hidup bersama ayah dan ibu serta seorang adiknya. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari maupun biaya berobat, Duwi hanya berharap dari penghasilan orangtuanya yang hanya sebagai petani.

Untuk itu bagi pihak derwmawan yang berminat untuk menyalurkan bantuan dapat langsung menyalurkan ke rekening No Rekening BRI : 323201002170526 An. Misnawati. Atau dapat langsung menghubungi orang tua Duwi ke nomor telepon 081254998083. (rif/ana)

  • Bagikan