Demfarm Serasi di Lahan Rawa Tingkatkan IP dan Produktivitas

oleh -75 views
Salah satu alsintan atau alat mesin pertanian yang digunakan di area Demfarm Serasi, persawahan Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Batola, Rabu (6/11/2019). (foto: donny irwan/koranbanjar.net)

BATOLA, koranbanjar.net – Tahun 2019 ini, pemerintah membuka area demonstrasi farming (demfarm) di lahan rawa seluas sekitar 500.000 hektar. Luasan lahan tersebut tersebar di tiga provinsi, yaitu 200.000 hektar di Kalimantan Selatan, 250.000 hektar di Sumatera Selatan, dan 50.000 ribu hektar di Sulawesi Selatan.

Demfarm dilaksanakan melalui program “Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani (Serasi)” dari Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan).

Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan hasil validasi terakhir yang dihimpun Kementan, area Demfarm Serasi yang mampu dikembangkan di Sumsel hanya sekitar 200.000 hektar. Sementara di Kalsel berjumlah 120.000 hektar, dan Sulsel sekitar 333.200 hektar.

“Sehingga kekurangannya kita tawarkan ke provinsi lain. Alokasi pembagiannya ada 25.000 hektar ke Kalteng, dan 25.600 hektar ke Lampung. Jadi semuanya tetap ada 500.000 hektar yang sebagai pilot project di 2019 ini,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian  (PSP) Kementan Sarwo Edhy, saat panen perdana padi di area Demfarm Serasi, persawahan Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel, Rabu (6/11/2019) siang tadi.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry (berdiri di mimbar), berbicara tentang optimalisasi lahan rawa saat temu wicara pada kegiatan panen perdana padi di area Demfarm Serasi, Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Batola, Rabu (6/11/2019). (foto: donny irwan/koranbanjar.net)

Edhy menjelaskan, tujuan Demfarm Serasi pada lahan rawa yang dilaksanakan Kementan, yang pertama untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP). Kedua, meningkatkan produktivitas hasil panen per hektar.

“Jadi yang semula panen satu kali, dan dengan produktivitas hanya sekitar satu setengah sampai dua ton per hektar, setelah adanya program optimalisasi lahan rawa ini bisa meningkat di atas lima ton per hektar,” ujarnya.

Tujuan yang ketiga, lanjut dijelaskan Edhy, normalisasi saluran-saluran pada optimalisasi lahan rawa untuk pembuatan tanggul dan perbaikan pintu air.

“Jadi prinsip lahan rawa ini bagaimana caranya air itu bisa terus berputar dan jalan,” jelasnya.

Upaya tersebut, dikatakan Eddy, di antaranya dapat dilakukan dengan penggunaan teknologi dan pemberian benih padi unggul bersertifikat.

Menurutnya, hasil dari optimalisasi lahan rawa yang dijalankan sudah banyak dirasakan masyarakat di Kalsel, baik di Kabupaten Batola, Banjar, Tanah Laut, maupun di kabupaten lainnya.

“Itu karena yang biasa panen satu kali, sekarang sudah bisa dua kali. Kemudian yang produktivitas per hektarnya hanya dua ton, sekarang bisa lima ton. Seperti tempo hari, kami panen di Desa Kandangan, Kabupaten Tanah Laut, hasilnya 5,6 ton per hektar,” ucapnya.

Kegiatan panen perdana padi pada area Demfarm Serasi di persawahan Desa Jejangkit Muara (eks lahan HPS 2018) siang tadi, di antaranya dirangkai dengan temu wicara yang melibatkan sekitar dua ribuan peserta, terdiri dari para petani, penyuluh pertanian, peneliti, masyarakat serta pejabat dan pihak terkait setempat lainnya. (dny)

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan