Debit Air Surut, Pembudidaya Ikan di Karang Intan Menjerit

MARTAPURA, KORANBANJAR.NET – Dampak kemarau panjang yang terjadi beberapa pekan terakhir di wilayah Kalimantan Selatan, mengakibatkan kekeringan. Hal itu tentunya sangat merugikan sebagian besar kalangan, di antaranya para pembudidaya ikan di Desa Mali-Mali, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Ribuan ikan yang dibudidayakan masyarakat tiba-tiba mati masal yang diduga akibat debit air yang semakin surut.

Hal itu tentu dikeluhkan masyarakat setempat, salah satunya Tanwir (40), dia berharap pemerintah setempat dapat membantu para pembudidaya ikan yang saat ini mengalami kerugian akibat budidaya ikan mereka mati masal dan batal panen.

“Tolong instansi pemerintah provinsi terkait untuk bisa membantu kami pembudidaya ikan yang berada di sungai Martapura tepat di daerah Kecamatan Karang Intan yang saat ini mengalami kekeringan diakibatkan debit air bendungan Riam Kanan, khususnya bendungan irigasi Karang Intan yang surut, sehingga tidak bisa membagikan airnya kepada kami masyarakat yang berada di belakang bendungan Karang Intan,” ujarnya kepada koranbanjar.net, Jumat (24/08/2018) via telepon.

Banyaknya ikan yang mati ini menyebabkan pembudidaya menjual ikan di luar harga normal. Jika biasanya ikan dalam kondisi segar dapat dijual Rp 30 ribu /kg, ikan yang dalam kondisi mati turun harga menjadi Rp 20 ribu /kg.

Walhasil, kerugian yang harus dialami pemilik tambak bisa mencapai puluhan juta.

“Bisa dihitung saja berapa kerugiannya jika kondisinya seperti ini. Paling tidak bisa puluhan juta,” ungkapnya

Untuk menghindari lebih banyak ikan yang mati, para petambak mengurangi kepadatan isi ikan dalam keramba dan menjual ikan yang sehat secepatnya kepada pembeli.

Hal senada dikemukakan petambak ikan asal Mali-mali, Rohmi. Menurutnya, pengurangan debit air selalu terjadi pabila musim kemarau, biasanya bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

“Mungkin petugas yang biasa membuka dan menutup pintu irigasi libur, sehingga debit air tidak terkontrol. Meskinya ada pengaturan atau pembagian air ke sungai Riam Kiwa, agar para pembudidaya ikan tidak dirugikan. Kalau seperti ini kasihan para petambak.  Rata-rata petambak ikan mengalami kerugian akibat ikan-ikan mati mencapai 1 ton per orang. Itu artinya nilai kerugian mencapai Rp 28 juta per orang. Bayangkan kalau hal ini dialami semua petambak ikan, jangankan untung, balik modal saja belum tentu,” ujarnya.

Oleh sebab itu, harapnya, pemerintah daerah agar lebih memperhatikan nasib mereka, karena sebagian masyarakat Desa Mali-Mali mayoritasnya berprofesi sebagai petambak ikan.

Sementara  Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Banjar, Robby Azwar mengimbau para petambak yang siap panen segera mencari pembelinya atau menjual ikannya. Sedangkan ikan yang mati mengapung dan mati di dasar keramba jaring apung agar dapat segera diangkat, kemudian benih ikan yang masih kecil diletakkan agak ke tengah.

“Kami imbau untuk menjual ikan yang sudah layak konsumsi supaya dapat menghindari kerugian lebih besar,” katanya.

Dia menambahkan, kekurangan debit air dan kondisi cuaca panas memang bisa menyebabkan ikan-ikan menjadi mati. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kedalaman air di sungai Alang mencapai 40 hingga 80 sentimeter.(sai/sir)