oleh

Banjarbaru Belum Menggambarkan Smart City

BANJARBARU, KORANBANJAR.NET – Wakil Walikota Banjarbaru, H. Darmawan Jaya Setiawan membuka secara resmi Bimbingan Teknis Tahap 1 untuk Tim Pelaksana Gerakan 100 Smart City, Rabu (04/07) yang dilaksanakan di Aula Gawi Sabarataan, Sekretariat Daerah Kota Banjarbaru.

Dalam sambutannya, Jaya mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta bimtek. Jaya mengungkapkan bahwa bimbingan teknis ini sangat penting bagi kita semua dalam memajukan masyarakat dan masing-masing kita di masa mendatang.

“Karena kemajuan teknologi ini harus kita sikapi dengan baik dan benar sehingga berdampak positif,” ucapnya.

Salah satu faktor pendukung penilaian smart city adalah culture atau kebudayaan, Jaya mengatakan bahwa culture ini termuat di dalam visi dan misi Kota Banjarbaru yaitu mewujudkan Kota Pelayanan yang Berkarakter. “Yang kemudian misinya adalah mewujudkan sumber daya manusia yang terdidik, sehat, berdaya saing dan berakhlak mulia. Saya kira ini akan mendukung smart city,” ujarnya.

Banjarbaru sudah seperti smart city, lanjut Jaya, walaupun belum seperti yang kita semua harapkan. Misalnya dalam indikator teknis pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi di Banjarbaru paling tinggi di Kalimantan Selatan, ini membuktikan bahwa kota ini cerdas yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kemudian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Banjarbaru termasuk yang paling tinggi dari standar pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Namun, ternyata dengan itu kita tidak bisa menyebutkan bahwa kita telah menjadi smart city, masih banyak faktor lain dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkannya,” jelas Jaya.

Dari sosialisasi smart city yang lalu, kata Jaya, kita dapat menyederhanakan pertanyaan, apakah kita sudah masuk sebagai smart city atau belum?

“Ada beberapa pertanyaan yang kalau kita jawab bisa menggambarkan kita smart city atau belum. Pertama adalah masyarakat tahu harus pergi kemana bila sakit dan tidak harus menunggu lama untuk dilayani, masyarakatnya mendapatkan penghasilan yang mencukupi, tidak ada pengemis dan gelandangan, tidak ada anak yang putus sekolah, tidak ada demonstrasi, tidak ada pemadaman listrik dan pompa bensin tidak pernah kehabisan bahan bakar minyak,” jelasnya lagi.

Dan pertanyaan-pertanyaan ini, lanjut Jaya, sudah bisa kita jawab namun ada beberapa jawaban yang menandakan bahwa kita belum smart city.

Di akhir acara pembukaan, Jaya menyerahkan kenang-kenangkan kepada Pembimbing Gerakan 100 Smart City dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Nicodemus Simu.(ana)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: