Tapin  

Wujudkan Swasembada, Kementan Gelar ToT Antisipasi Darurat Pangan Nasional

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi. (Foto : BBPP Binuang)

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), menggelar Training of Trainers (ToT) bertajuk ‘Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional’ bagi Widyaiswara, Dosen, Guru, Penyuluh Pertanian dan Bintara Pembina Desa (Babinsa).

TAPIN, Koranbanjar.net – Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan, serta pemanfaatan lahan perkebunan untuk padi gogo.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menyampaikan, sektor yang paling siap membangun kehidupan Indonesia yang lebih baik besok maupun yang akan datang adalah pertanian dan SDM menjadi tulang punggung penggerak pembangunannya.

“Krisis pangan sama dengan krisis keamanan dan politik. Pangan adalah senjata kita, dan kita harus menekan impor bahkan harus bisa menyetop impor, kita harus ekspor,” ujar Mentan Amran.

“SDM Pertanian mulai dari penyuluh hingga para petani harus bergerak cepat mengambil bagian menjaga ketahanan pangan,” sambung dia.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, kondisi pangan global saat ini tidak biasa-biasa aja. Tidak kurang 900 juta penduduk dunia dan tidak kurang 60 negara mengalami krisis pangan.

“Di Indonesia, sejak Februari tahun lalu hingga Maret tahun ini, kita mengalami fenomena alam yang disebut El Nino, kemarau yang berkepanjangan. Akibat El Nino produksi beras kita turun signifikan, sementara jumlah yang memerlukan beras setiap tahun bertambah sekitar 1,1 persen atau 400 ribu orang,” kata Dedi di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, Kamis (2/5).

Dedi menjelaskan, komsumsi beras dalam negeri setiap bulannya tidak kurang dari 2,6 juta ton atau sekitar 31,4 juta ton beras setiap tahunnya. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan beras 30,2 juta ton per tahun.

“Artinya kita masih defisit 1 juta beras. Belum lagi cadangan beras pemerintah (CBP) 2,5 juta ton, berarti dijumlah kurang lebih 3,5 juta ton beras setiap tahun. Itu setara dengan 7 juta ton gabah kering giling (GKG),” jelas Dedi.

Oleh karena itu, sambung Dedi, mau tidak mau, suka tidak suka Indonesia harus memenuhi kebutuhan beras sendiri alias swasembada. Caranya, pertama, meningkatakan produksi beras dengan peningkatan produktivitas.

“Produksi Beras bisa ditingkatkan dengang peningkatan produktivitas. Ini rata-rata produktivitas nasional 5,2 ton per hektare, apalagi di lahan rawa, apalagi di lahan tadah hujan hasilnya di bawah sekitar 3-4 ton per hektare,” kata Dedi.

Kedua, meningkatkan areal tanam. Peningakatan areal tanam ini dinilai lebih cepat dan mudah dibandingkan peningkatan produktivitas.

“Kita harus meningkatkan areal tanam. Kalau kita tingkatkan areal tanam berarti kita tingkatkan areal panen, kalau kita tingkatkan areal panen berarti kita tingkatkan produktivitas padi dan gabah kita,” kata Dedi.

Menurut Dedi, sudah lebih dari 10 tahun produktivitas padi nasional hanya di angkat 5,2 ton per hektare. Sehingga, Kementan saat ini terus menggerakkan perluasan areal tanam melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP).

“Ada lahan rawa kita. Lahan rawa kita umumnya cuman tanam satu kali dalam satu tahun. Makanya IP 1,2 kali dalam satu tahun.
Lahan Rawa kalau kita tingkatkan IP dari satu kali menjadi DUA dalam satu tahun berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya,” sambung dia.

“Kedua, lahan tahan hujan kita 3-4 juta hektare baru tanam satu kali dalam satu karena apa, irigasinya hanya mengandalkan hujan,” sambungnya.

Menurut Dedi, segala sumber daya dan dukungan perlu difokuskan dalam peningkatan produksi pada musim tanam yang sedang berlangsung maupun yang akan datang. Dedi juga mengatakan, Kementan selama ini telah menerapkan pendekatan yang holistik dalam mendukung budidaya padi termasuk jagung.

“Dukungan sarana dan prasarana ditujukan pada proses hulu sampai hilir, dari penyiapan lahan sampai pengolahan. Pada setiap proses ini, upaya peningkatan kapasitas SDM juga terus dilakukan,” kata dia.

Dedi pun berharap, melalui kegiatan ToT ini dapat saling bersinergi untuk meningkatkan kualitas kegiatan pelatihan pertanian, yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kemajuan pertanian di Indonesia secara berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dari 2 – 4 Mei 2024 ini, digelar secara tatap muka di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang dan secara online serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor KORAMIL di seluruh Indonesia.

Kegiatan diikuti 120.641 peserta yang terdiri dari 187 widyaiswara, 262 dosen, 70 guru UPT Pendidikan Pertanian, 24.607 penyuluh pertanian PNS, 12.480 penyuluh pertanian PPPK, 1.385 penyuluh pertanian THL Pusat, 8.775 penyuluh pertanian THL Daerah, serta 72.875 Bintara Pembina Desa (BABINSA).

Dari jumlah tersebut, 100 peserta mengikuti pelatihan secara tatap muka yang terdiri atas 12 widyaiswara, 4 guru, 64 penyuluh pertanian, 16 babinsa, dan 4 dosen.

(hms BBPP Binuang/IRF/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *