BNN

Webinar Literasi Digital Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Perbedaan Pendapat Seolah Haram: Tersingkirlah Demokrasi dan Toleransi

  • Bagikan

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar Webinar Literasi Digital Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan dengan tema “Bijak Beretika di Internet Dengan Literasi Yang Tepat,”  Rabu (11/8/2021) pagi.

HULU SUNGAI SELATAN, koranbanjar.net – Tentunya kecakapan digital harus lebih ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian.

Tantangan demi tantangan di ruang digital semakin besar, seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital.

Dalam kegiatan webinar Literasi Digital ini, dipandu oleh Amal Bastian, sebagai presenter dan master of ceremony dalam webinar juga ditampilkan sejumlah pembicara yang berkompeten dan tak kalah seru dalam penyampaian materinya.

Sebelum kegiatan webinar dimulai seluruh peserta dan narasumber diperkenankan untuk mendengarkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Dilanjutkan dengan sambutan Presiden RI, Joko Widodo. Lalu Direktur Jendral Aplikasi Informatika, Samuel Abrijani Pangerapan dan juga Bupati Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Drs H Achmad Fikry MAP.

Langsung saja materi pertama disampaikan oleh dr.Fiska Suratmono profesi ia sebagai Medical doctor and Entrepreneur serta owner dari @the_crown_clinic yang menampilkan materi seputar keamanan digital yakni “peran Orang Tua dalam keamanan Internet untuk anak.”

Sebelum masuk dalam pembahasan materi dr.Fiska menerangkan terlebih dahulu “Apa itu Internet”? Ia berkata Internet (interconnected Network) adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia.

BACA:  Hulu Sungai Selatan Resmi Tuan Rumah Porprov dan Peparprov

Dalam penggunaan internet, kini tak hanya orang tua saja yang menggunakannya. Namun, di era sekarang penggunaan internet juga diduduki oleh kalangan anak-anak, terlebih lagi dimasa pandemi seperti sekarang mau tak mau anak-anak dihadapkan oleh serba digital.

“Sekarang Negara kita menjadi pasar utama pengguna Internet, pengguna internet di Indonesia ada sebanyak 132,7 Juta. Peringkat pertama diduduki oleh Komputer dan mobile sebesar 67,2 Juta lalu mobile sebesar 63,1 juta dan komputer 2,2 juta,” jelas dokter Fiska.

Tak kalah menarik materi dari Fiska yang menerangkan jenis konten Internet apa saja diakses, “jadi ada media sosial sebesar 129,2 juta, hiburan 128,4 juta, berita 127,9 juta yang disusul oleh pendidikan yang sekarang kini beralih pada digital ada 124,4 juta, kemudian komersil 123,5 juta dan layanan publik 121,5 juta,” terangnya pada kegiatan webinar.

Lalu, mengapa peran Orang Tua dalam keamanan Internet untuk anak diperlukan, hal ini akibat dari Revolusi Digital yakni perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital (1980).

Dimana antara orang tua dan anak tak sinkron, dimana sering dikatakan kudet atau gaptek hal ini dipicu oleh Revolusi Digital sebagai contoh yang sering diketahui Handphone dulu fungsinya hanya sekedar menelpon, membalas, menerima dan mengirim pesan saja.

“Kini berubah menjadi banyaknya fitur dalam hal ini anak-anak ini perlu di awasi agar tak terjerumus dengan hal yang tak seharusnya dilihat,” tandasnya.

BACA:  Muhammad Noor Wakili HSS Rakorwasda Karhutla

Meski begitu, yang perlu diwaspadai dari media digital ini sangat disayangkan. Tidak semua pendidik, Orang Tua dan masyarakat memahami atau bahkan memiliki keterampilan dalam penggunaan media digital.

“Ketidak pahaman inilah yang melahirkan persoalan dalam penggunaan media digital secara positif dan proporsional,” bebernya.

Akan tetapi dampak positif internet pada anak juga dihasilkan yakni adanya akses informasi lebih cepat dan mudah, tumbuhnya inovasi teknologi digital yang memudahkan pembelajaran daring, meningkatkan kualitas SDM melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Terlebih munculnya berbagai sumber belajar seperti perpustakaan online, media pembelajaran online, serta diskusi online yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

“Akan tetapi juga memiliki dampak negatifnya juga seperti menjadi kecanduan, ada indikasi melihat konten negatif seperti itu maka perlu pentingnya anak didampingi orang tua serta pemahaman terhadap konten media digital yang sangat penting dilakukan oleh orang tua,” ujar Fiska.

Dilanjutkan oleh pemaparan materi dari narasumber kedua yang tak kalah asik yakni Arin Swandari, yang berprofesi sebagai penulis. Berbeda pembahasannya dari narasumber pertama, Arin membahas Budaya Digital “Menjaga Demokrasi, menyalakan Toleransi di Media Sosial.”

Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi informasi, berekspresi, bercengkerama jadang menjadi ruang perdebatan antar-kelompok, pro dan kontra. Bahkan antar lover dan hater hanya karna urusan idola, perbedaan pendapat seolah haram.

BACA:  Bantu Evakuasi Korban Banjir, Rescue Gabungan Kabupaten HSS Berangkat ke Kalteng

“Hanya saya atau kelompok saya yang benar. Jadi mereka harus ikut kita,” penjelasan Arin saat webinar.

Kemudian ia menambahkan dari perbedaan pendapat dapat mengakibatkan bermusuhan, merembet ke suku dan agama, saling menghina mengecam mendiskriminasi serta melontarkan ujaran kebencian.

“Publik terbelah terbitlah polarisasi, hoax yang menjungkirkan nalar dijadikan tradisi, hoax juga mampu membunuh demokrasi karena menebar kebohongan, memicu kebencian dan berujung lagi-lagi pada permusuhan, ujungnya hilang empati, reduplah toleransi.

“Kadang kita memperdebatkan hal yang sama-sama kita tidak ketahui, tidak kita ketahui,” akunya.

Stop permusuhan, stop hoax. “Yuk kita jadikan media sosial sebagai laboratorium tanpa batas, untuk menjaga demokrasi yang sehat dan menjujung keberagaman,” jelasnya.

Bicara demokrasi dan toleransi itu bukan demokrasi melulu soal pemilu atau terkait pemerintah.

Demokrasi itu menerima selera yang berbeda dan pilihan orang lain sebagai mana mereka ekspresikan di medsosnya.

Toleransi itu bukan hanya seputar agama, keyakinan dan suku. Toleransi itu juga tentang inklusifitas, kesetaraan tentang panggung yang setara untuk laki laki perempuan, disabilitas bukan disabilitas kesetaraan itu juga tentang kota desa, pesisir dan pegunungan.

“Perbedaan itu Indah jika semua merah, rasanya akan marah. Kuning seluruhnya akan silau, hitam segalanya akan kelam, putih dimana mana terasa hampa. Tapi saat kutemukan Makna Pelangi di postingan kamu Sungguh menyejukkan hatiku,” tutupnya. (mj-40/dya)

(Visited 11 times, 1 visits today)
  • Bagikan
(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *