Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Webinar Literasi Digital Kabupaten Barito Kuala; Literasi Digital itu Mudah dan Menyenangkan

  • Bagikan
Ket: Webinar Literasi Digital Kabupaten Barito Kuala: Literasi Digital itu Mudah dan Menyenangkan. (Sumber foto: tangkapan layar)
Ket: Webinar Literasi Digital Kabupaten Barito Kuala: Literasi Digital itu Mudah dan Menyenangkan. (Sumber foto: tangkapan layar)

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengadakan webinar bertema “Literasi Digital itu Mudah dan Menyenangkan.” di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Sabtu (20/11/2021) pukul 14.00 Wita.

BATOLA, Koranbanjar.net – Acara dibuka Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Samuel Abrijani Pangerapan dan Bupati Batola Noormiliyani, ini menampilkan sejumlah pembicara kompeten.

Dipandu oleh moderator Dika Putra Wijaya, yang menghadirkan narasumber pertama Muhammad Alfiansyah mengatakan, revisi undang-undang ITE ialah, berpotensi membelenggu kebebasan berpendapat. Menghindari multitafsir terhadap penerapan pasal 27 ayat 3 yang mengatur mengenai penghinaan dan pencemaran nama baik.

Narasumber kedua Irwansyah dengan materi tentang ‘Bijak Bermedia Sosial’.

Irwansyah mengatakan, pengguna internet di Indonesia tembus hingga 202 juta jiwa. Total penduduk republik Indonesia 274 juta jiwa artinya 73,7 persen warga Indonesia aktif di dunia internet dan sosial media,” tuturnya.

Dampak positif media sosial ialah menambah teman, tempat berkomunikasi, tempat berbagi, pengetahuan luas, dan tempat beropini atau menyampaikan pendapat.

“Sedangkan, dampak negatifnya yaitu, hoax dan fitnah merajalela, banyak akun cloning, kecanduan dan munculnya tindak kejahatan,” ucapnya.

Cara bijak menggunakan media sosial yang perlu diketahui adalah jangan asal posting content, posting informasi yang akurat, jaga etika, selalu waspada juga jangan langsung percaya untuk meneruskan informasi, dan berikan informasi yang bermanfaat.

Narasumber ketiga Jihan Novitasari dengan materi tentang ‘penggunaan bahasa yang baik dan benar di dunia digital’.

“Gaya berbahasa di media sosial yakni formal, informal, bahasa gaul dan juga bahasa daerah,” ucapnya.

Ancaman akibat kesalahan dalam berbahasa di dunia digital ialah, sasaran cyberbullying, pelaku penyebaran hoax, pelaku provokator, buruknya rekam jejak digital, terjadi missed miskomunikasi, dan terjerat hukum pidana.

Tips menghindari kesalahan berbahasa di media sosial adalah gunakan bahasa yang sesuai tata bahasa dan efektif, hindari penggunaan huruf kapital di seluruh kalimat, tanamkan saling menghargai, selalu berpikir positif, sadari akan ada rekam jejak digital.

“Juga bijak menanggapi komentar, hindari penulisan yang mengandung sara dan menggiring opini, dan hindari penggunaan emoticon yang tidak sesuai,” tuturnya.

Terakhir narasumber Ica Lisnawati dengan materi tentang ‘literasi digital bagi tenaga didik dan anak didik di era digital’.

Ica mengatakan, literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi.

“Pentingnya literasi digital yakni untuk berpikir kritis, kreatif juga inovatif, memecahkan masalah berkomunikasi dengan lebih lancar, dan berkolaborasi dengan lebih banyak orang,” ucapnya.

Karakteristik pendidik guru atau dosen cerdas harus kreatif yakni, mengubah situasi pembelajaran menjadi menarik dan efektif sekaligus mengajak siswa lebih aktif.

Selanjutnya inovatif, berhasil mengambil peluang-peluang untuk mewujudkan gagasan gagasan yang ada dan secara realita dapat dikembangkan.

“Dan pembelajaran, guru ideal yang terus belajar dan mengembangkan atau mengupgrade diri di setiap saat dan dimanapun,” tuturnya.

Tips membuat bahan ajar yang menarik di era digital adalah gunakan multimedia, manfaatkan platform platform online, pembelajaran berbasis game, pembelajaran lintas disiplin, utamakan kolaborasi yang melibatkan siswa, kurangi ceramah, dan perbanyak diskusi. (Jwt)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *