Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Webinar Literasi Digital HSS; Memahami Sosial Media dengan Aman dan Nyaman

  • Bagikan

Indonesia Makin Cakap Digital, Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), webinar bertajuk “Memahami Sosia Media dengan Aman dan Nyaman”, Rabu (14/7/2021) pagi, host Amal Bastian, dibuka Presiden Jokowi bersama Bupati HSS, H Achmad Fikry MAP.

KANDANGAN, Koranbanjar.net – Jejak digital adalah pencerminan siapa diri kita. Pernah berkomentar apa, pernah mengunjungi website di mana, akan terekam semuanya. Apa itu jejak digital?

Nara sumber webinar Malik Atmadja, seorang founder and CEO Malik Entertaiment membuka dengan menyebut pekerjaan yang menyenangkan ketika hobi kita bisa menjadi cuan. Karena itu fahami dan kenali rekam jejak digital.

“Jejak digital, diantaranya ketika kita mencari lokasi, belanja online, termasuk apa saja yang kita like atau komentari. Status yang kita tulis di FB, status di WhatsApp, video yang kita uploud, juga siapa yang kita follow, termasuk website yang kita kunjungi, semuanya termasuk dalam rekam jejak digital kita,” beber Malik.

Jejak digital ada yang aktif ada yang pasif. “Yang masuk jejak digital aktif, seperti akun instagram, facebook, komentar kita yang kita tulis, bercanda, serius ataupun membully di kolom-kolom komentar di media sosial,” beber Malik.

Contoh jejak digital pasif, diantaranya kebiasan ketika kita browser web, mengaktifkan GPS aktif. “Aplikasi akan merekam kemana pun kita pergi,” kata Malik.

Ketika mengaktifkan GPS di perangkat -smartphone- Google kemana saja merekamnya. Menginstal aplikasi yang tidak terpercaya. “Kita tidak sengaja memberikan data diri kita, contohnya aplikasi pinjol (Pinjaman online, red),” sebut Malik.

Dengan algoritma, apapun yang sering kita akses akan ditawarkan ke timeline atau beranda sosial media yang kita punya.
Keuntungan jejak digital, pihak perusahaan akan mengecek apa saja yang diposting, apa saja yang diikuti dari media sosial calon pekerja. “Harus berhati-hati dengan media sosial yang sudah kita buat oleh perusahaan,” sebut Malik.

Kerugian jejak digital, seperti kebocoran data. “Contohnya skandal kebocoran data Facebook di Pilpres Amerika Serikat,” sambung Malik.

Tips menjaga jejak digital positif. “Privasi kita harus dibedakan, menguplod foto misalnya harus dengan pakaian sopan. Konten tidak merugikan diri sendiri, juga komentar kita harus positif,” anjur Malik.

Saring sebelum sharing, jarimu harimaumu.
Nara sumber lainnya, Muhammad Suaidi Firdaus, broadcaster, penyiar Radio Amandit Kandangan. Kecakapan digital, bangun personal brandingmu lewat media sosialmu.

Apa itu personal branding? Perkenalan diri, value dalam diri kita. “Profesi kita, attitude kita,” kata Suaidi. “Sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik,”.

Attitude harus dijaga. Tujuan personal branding, kepercayaan. Job datang sendiri. Akan mempengaruhi orang lain. “Sama ketika berjualan, agar mempengaruhi orang membeli produk kita, itu dimulai dari personal branding,” sebut Suaidi.

Membangun branding sekarang, dulu lewat televisi, koran, atau harus masuk radio, nah sekarang simple, ada di tangan masing-masing. “Yakni smartphone kalian,” kata Suaidi.

Maka jangan heran ketika tiktoker hanya joget-joget bisa, tiba-tiba diundang stasiun televisi.

“Misal membikin konten lucu di Youtube, ingat tetap harus memakai norma agama dan norma sosial,” kata Suaidi. Saatnya bangun personal branding kamu di sosial media kamu dengan konten kreatif dan positif.

Nara sumber, dr Akbar Ghaus, influencer dan konten kreator membahas internet addiction. “Sama kaya obat kalau kebanyakan akan tidak baik, begitu juga kebanyakan internet akan tidak baik, jadi adiksi atau kecanduan,” buka dr Akbar.
Generasi sekarang lebih dekat dengan depresi. “Mungkin juga kebanyakan internet,” sebut dr Akbar.

Apa itu kecanduan? Contoh, mau makan, lihat makanan bagus di-foto dulu, kemudian di-uploud. “Kecanduan internet itu sebenarnya sama dengan kecanduan alkohol dan gambling (Judi, red),” kata dr Akbar.

Penyebab adiksi atau kecanduan adalah dopamin. Manusia didesain untuk berjuang mendapatkan rasa bahagia. Dopamin mirip cafein.

“Segala bentuk rasa nyaman tanpa berjuang, tanpa berusaha lebih dulu, itu sudah toxic, jadi pengen lagi, itu jadi candu,” kata dr Akbar.

Awalnya sosial media dulu, like lalu komentar. Akhirnya duduk saja, tubuh tidak gerak. Dapat hiburan terus, akhirnya dopamin naik, main gadget sambil rebahan.

Tanda depresi dari sosial media, banyak menyendiri karena sosial media. Malah isolasi tidak mau beraktivias ke luar.

“Minta komentar, minta validasi orang di sosial media, itu tanda adiksi internet atau kecanduan internet,” kata dr Akbar. Semakin tidak punya empati juga termasuk kecanduan internet.

“Tipsnya, kurangi dosisnya, batasi penggunaan sosmed, kurangi penggunaan internet, itu kuncinya,” kata dr Akbar.

“Jangan gunakan sosmed sebagai tempat narsis atau pamer diri kita,” pungkas dr Akbar.

Nara sumber Laila Agustina, penyiar Radio Amandit Kandangan, bijak di kolom komentar.

Orang Indonesia dikenal ramah, tapi di internet netizen Indonesia dikenal paling tidak ramah di dunia. Beretika di media sosial, harus memperhatikan privasi, akurasi, dan properti. (and)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *