BNN

Wanita Indonesia di AS Buka Bisnis Laundry, Khusus Pekerjaan Waria yang Lansia

  • Bagikan
Seorang transpuan mencuci pakaian di FKWI Laundry di Depok (foto: courtesy).
Seorang transpuan mencuci pakaian di FKWI Laundry di Depok (foto: courtesy).

Jiwa sosial membuat seorang wanita asal Indonesia di Maryland, AS membuka bisnis laundry untuk mempekerjakan para warian yang sudah lanjut usia. Wanita ini memperoleh dana hibah ratusan juta rupiah dari kampusnya untuk memberdayakan komunitas transgender lansia di Indonesia.

JAKARTA, koranbanjar.net – Wanita bernama Nia English tersebut mendirikan usaha laundry kiloan untuk dikelola kelompok marjinal itu agar mereka lebih mandiri dan berdaya.

Nia English berusaha memberi kail, bukan ikan, untuk mensejahterakan para transgender lansia.

Perempuan di negara bagian Maryland ini membuka bisnis laundry kiloan di Depok, Jawa Barat. Ia menyewa kios, membeli mesin cuci dan peralatan lain, serta membayar listrik dan air untuk enam bulan ke depan. Semua proses ini dilakukan secara jarak jauh karena pembatasan sosial akibat pandemi.

Setelah berdiri, bisnisnya diserahkan kepada sebuah komunitas waria setempat.

“Laundry kiloan usaha yang pantas buat waria-waria tua karena mereka berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali. Jadi, usaha dengan tenaga lebih masuk akal,” ujarnya ketika diwawancarai VOA di Gaithersburg, Maryland.

Lewat usaha yang diresmikan pada Agustus ini, Nia ingin memberi pekerjaan sekaligus penghasilan kepada kelompok marjinal ini. “Karena kelompok ini tersisihkan karena pilihan-pilihan terkait gender, tidak sesuai dengan common idea what is sex and gender di society.”

Dikelola Komunitas Waria Lansia

Operasional sehari-harinya dipegang oleh Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI), sebuah organisasi nirlaba di Depok. Ketuanya, Yulianus Rettblaut, mengatakan dukungan semacam ini sangat tak terduga.

“Kami menganggap ini suatu mujizat yang diberikan Tuhan. Mudah-mudahan karya ini bisa menjadi berkah, sehingga temen setidaknya bisa berangkat dari usaha ini, biar bisa membuat sesuatu yang bisa dilihat orang banyak bahwa kita juga bisa berkarya,” ujarnya ketika diwawancarai jarak jauh dengan VOA.

FKWI memiliki rumah singgah yang menampung lebih dari 800 waria, sebagian besar berusia lanjut. Sebagian di antaranya dipekerjakan di kios laundry ini, ada yang mencuci, menyetrika dan melipat baju. Mereka juga mengasah keterampilan lain.

“Aku ajarin mereka bagaimana memenej keuangannya secara sederhana, kemudian bagaimana mempertahankan mutu dari pekerjaan mereka juga harus kita tanamkan, kemudian kita ajarkan mereka bagaimana beretika secara sederhana kepada para pelangan,” ujar transpuan yang akrab disapa Mami Yuli ini.

Dari yang tadinya hanya menerima enam pelanggan per hari, kini FKWI Laundry melayani hampir 30 per hari. Nia berharap keadaan ini bisa terus berlanjut, agar bisnis ini bisa memiliki dampak sosial.

“Tujuannya adalah supaya revenue dan profit dari usaha ini bisa membantu rumah singgah supaya terus bisa melakukan pelayanan sosial kepada waria-waria tua yang datang ke rumah singgah untuk mendapat bantuan.”

Dapat Dana Hibah $10.000

Upaya yang dilakukan Nia ini bisa terwujud berkat dana hibah 10.000 dolar atau sekitar 140 juta rupiah yang diterimanya dari Davis Project for Peace — inisiatif yang berbasis di AS, yang bertujuan memajukan perdamaian.

Proposalnya terpilih setelah mengikuti seleksi yang diadakan oleh kampusnya, Hood College, Maryland dimana ia menjalani program sarjana jurusan Studi Global.

Scott Pincikowski, penanggung jawab program Davis Project di Hood College, mengaku sangat bangga atas pencapaian dan kontribusi mahasiswinya.

“Saya pikir Nia merupakan tipe orang yang kita semua cita-citakan. Dia memiliki visi untuk dirinya sendiri yang juga sangat inklusif terhadap orang lain, hidupnya berdampak pada orang lain, dia bisa melakukan perubahan atau meningkatkan kualitas hidup orang lain,” ujarnya kepada VOA.

Dosen bahasa Jerman ini juga memuji semangat belajar dan prestasi akademiknya.

Nia, ibu tiga anak yang menyebut dirinya sebagai ‘adult learner’ atau pembelajar dewasa ini, meraih gelar Bachelor of Arts dengan predikat magna cum laude pada usia 43 tahun. Ia membuktikan bahwa, “Tidak ada kata terlambat untuk belajar.” (voa)

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × three =