Turunnya Produksi Padi, Petani Diminta Jangan Putus Asa

Kondisi padi di Banjarmasin gagal panen akibat diserang hama dan air pasang. (Foto: Koranbanjar.net)
Kondisi padi di Banjarmasin gagal panen akibat diserang hama dan air pasang. (Foto: Koranbanjar.net)

Tahun 2022 adalah tahun gagal panen bagi petani dan menurunnya produksi padi di Kaliamantan Selatan.

BANJARMASIN, koranbanjar.net Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin, M.Makhmud berharap petani bersabar dan jangan putus asa.

Pernyataan ini disampaikan Makhmud lewat wawancaranya kepada media ini, Senin (21/11/2022) di Kantornya, Jalan Pangeran Hidayatullah Banjarmasin.

Menurutnya kegagalan panen ini akibat faktor alam, sehingga juga berdampak kepada nasib petani.

“Pendapatan petani otomatis menurun. Saya berharap petani jangan putus asa tetap semangat bertanam padi pada tahun berikutnya,” tutur Makhmud.

Bahkan dirinya mengatakan bukan hanya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tetapi di luar Kalsel pun mengalami nasib serupa.

“Diantara penyebabnya adalah, adanya hama wereng atau virus dan air yang meninggi sepanjang tahun,” sebutnya.

Biasa dalam setahun produksi padi 6, 4 ton. Pada tahun 2022 ini hasilnya menurun hanya 4 ton atau 40 persen.

Dia mengatakan penurunan produksi padi tahun ini sangat terasa sekali, khususnya padi lokal.

“Karena kita ketahui padi lokal ini kan panennya satu tahun sekali dibanding padi unggul, setahun dua kali,” ucapnya.

“Itulah yang menyebabkan produksi tahun sangat menurun sekali,” ucapnya.

Namun demikian lanjut Makhmud, meskipun gagal panen, tidak ada petani yang berpikir beralih profesi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin, M. Makhmud. (Foto: Koranbanjar.net)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin, M. Makhmud. (Foto: Koranbanjar.net)

“Karena ini setahun sekali, jadi sambil menunggu panen, mereka masih bisa usaha sampingan lain,” terangnya.

Penurunan produksi padi inilah berujung pada kenaikan harga beras di pasaran saat ini.

“Berdampak sekali terhadap kenaikan beras, dan memang saat ini terjadi inflasi pada beras lokal,” ujarnya.

Akan tetapi pihaknya dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dipimpin Forkopimda Kota Banjarmasin memantau langsung harga beras di beberapa pasar.

“Ketersediaan beras cukup ternyata cukup, hanya kenaikan harga saja,” ucapnya.

Dirinya juga menyebut, kenaikan harga beras ini selain faktor gagal panen juga ada tambahan biaya distribusi.

“Kami berharap, inflasi beras lokal ini tidak lama,” tutup Makhmud. (yon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *