BNN

Tumor Ganas Itu Akhirnya Merenggut Nyawa Norhayati

  • Bagikan
Norhayati, perempuan penderita tumor ganas sewaktu masih hidup. (foto: leon)
Norhayati, perempuan penderita tumor ganas sewaktu masih hidup. (foto: leon)

Setelah sekian lama menahan penderitaan, akhirnya tumor ganas itu merenggut nyawa Norhayati, seorang perempuan penjual buah asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sekitar 7 tahun perempuan malang ini harus melawan tumor ganas yang bersarang di mulutnya.

BANJARMASIN, Leonsyah – Maksud hati, reporter koranbanjar.net ingin melihat kondisi penderita tumor ganas, Norhayati di Jalan Belitung Darat, Gang Pelangi Banjarmasin Minggu (10/10/2021) sore. Namun tak disangka, setelah tiba di rumah yang sangat sederhana itu, seorang laki-laki bertubuh gemuk, anak dari Norhayati bernama Mulyadi mengatakan, ibunya sudah tiada sejak sekitar 3 bulan lalu.

Seorang laki-laki lainnya muncul dari kamar, dia tidak mengenakan pakaian. Lelaki ini adalah suami Norhayati yang bernama Fahmi noor.

Tersentak, itulah kesan pertama yang dialami reporter ketika mendapat kabar bahwa perempuan yang dicari dan akan diwawancarai ini telah lama meninggal dunia.

“Sudah meninggal istriku, sudah lama, kira – kira ini sudah seratus hari,” ujar sang suami Fahmi Noor.

Dia pun menjelaskan, perempuan berusia 48 tahun itu telah meninggalkan dua laki-laki belahan jiwa. Adapun sebab dia meninggal dunia, diduga akibat pengobatan terapi menggunakan laser di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin.

“Padahal aku sudah melarang jangan dilaser, sebab makin bertambah parah, kondisinya makin drop,” ucapnya.

Semakin hari badan Norhayati yang menderita tumor ganas selama 7 tahun ini semakin kurus bahkan nyaris tinggal tulang. Menurut sang suami, di leher almarhum sampai-sampai menimbulkan warna hitam seperti gosong.

“Sakit, tidak bisa makan, katanya sakit tenggorokan, dan itu jelas bisa akibat laser itu,” ucapnya dengan wajah memerah.

Lanjut diceritakan, semenjak 7 hari dilaser, almarhumah sudah tidak normal lagi, baik makan, minum, mandi yang biasa dapat dilakukan sendiri, sudah tidak bisa lagi, hanya berbaring di kasur.

“Sempat dipanggil dokter spesialis ke rumah, lalu disarankan infus selama tiga hari,” katanya.

Namun kondisi Norhayati tetap tak mengalami perubahan, bahkan malah semakin melemah. Akhirnya sang suami bergegas membawa sang istri ke RSUD Ulin untuk menjalani perawatan.

“Namun pagi di bawa ke rumah sakit, sore hari istriku meninggal,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Usia perkawinan mereka kurang lebih 15 tahun, Fahmi noor merajut rumah tangga dengan Norhayati sejak 2006 sampai maut memisahkan dengan istri tercintanya itu.

Fahmi Noor mengenal Norhayati semenjak almarhumah bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan kayu lapis, yakni PT Hendratna di Banjarmasin.

Seiring perkembangan zaman, PT Hendratna mengalami failit, sebagian karyawan kena PHK, dan Norhayati termasuk salah seorang di antaranya. Sementara sang suami pada waktu itu hanyalah pekerja kasar sebagai buruh bangunan.

Akhirnya untuk melanjutkan biaya hidup keluarga, Norhayati bersama suami berdagang buah di Pasar Banjar Raya Jalan PM Noor Pelambuan Kota Banjarmasin.

Lama kelamaan, hasil berjualan buah ternyata mampu mengongkosi anak semata wayangnya, baik untuk biaya sekolah hingga kebutuhan rumah tangga.

Sekarang anak laki-laki bertubuh gemuk ini sudah menginjak remaja, dan bersekolah di SMPN 5 Belitung Banjarmasin.

Satu kalimat singkat keluar dari mulut putranya, Mulyadi, “sedih sekali tanpa mama,” ucapnya lirih sembari menitikan air mata.

Kalimat itu menutup wawancara reporter koranbanjar.net dengan suami dan anak Norhayati sang sudah tiada.(koranbanjar.net)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − 1 =