Kantor Imigrasi

Telantar di Barabai, Sepasang Lansia Ini Tinggal di Alam Terbuka Hanya Tertutup Kelambu, Setelah Gubuk Mereka Dibakar

  • Bagikan
Sepasang lansia yang telantar hidup di Kota Barabai, Kalsel. (foto: ramli)
Sepasang lansia yang telantar hidup di Kota Barabai, Kalsel. (foto: ramli)

Sungguh memprihatinkan nasib yang dialami sepasang orang tua lanjut usia ini. Setelah gubuk mereka dibakar orang tak bertanggung jawab, mereka terpaksa tinggal di alam terbuka, tepatnya di pinggir sungai Kota Barabai, tepatnya di Kelurahan Barabai Timur, bersebelahan dengan rumah jabatan Bupati HST.

HULUSUNGAITENGAH, koranbanjar.net – Lebih ironi, mereka tinggal di tempat eks warung tanpa dinding, hanya beralaskan tikar pelastik, kemudian tertutup oleh kelambu butut.

Orang tua ini adalah Syamsudin (95) dan istrinya Arpiah (60), asal Desa Tabuan Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Wartawan koranbanjar.net bersama anggota Relawan Peduli Sesama HST mengunjungi sepasang suami-istri ini ke lokasi, Jum’at (18/9/2021) pukul 22.00 WITA. Terlihat dua orang tua ini berada dalam sebuah  kelambu yang diikatkan pada tiang-tiang bekas warung di tempat tersebut.

Kelambu itu berukuran kurang lebih 1×1,5 meter hanya beralaskan tikar karet tipis, tidak ada pelindung apapun untuk melindungi dinginnya malam, selain kelambu yang dipasang di tempat tersebut.

Di samping kelambu terdapat barang-barang mereka yang ditumpuk, berupa pakaian, peralatan mandi dan juga peralatan dapur.

Ketika itu, terlihat beberapa orang memberi makanan dan minuman, saat itulah koranbanjar.net menghampiri mereka dan bertanya kepada mereka hingga tidur di tempat itu.

Arpiah menceritakan sedikit tentang asal mula mereka tinggal di sana beberapa hari ini, sedangkan suaminya Syamsudin sudah tertidur.

“Kami berasal dari Desa Tabuan Kecamatan Halong Kabupaten Balangan, dua bulan lalu, pondok (rumah kecil di hutan)  kami dibakar dengan sengaja oleh orang di sana. Saat kami sedang berada di tempat hajatan di kampung, setelah pulang, rumah kami sudah menjadi arang.  Bangunan pondok kami yang hangus berukur 4X4, seluruh barang yang ada, KTP, Kartu Keluarga juga habis terbakar,” ungkap Arpiah.

Wartawan koranbanjar.net, Ramli saat melakukan wawancara kepada sepasang lansia ini. (foto: koranbanjar.net)
Wartawan koranbanjar.net, Ramli saat melakukan wawancara kepada sepasang lansia ini. (foto: koranbanjar.net)

Sudah dua bulan ini mereka berada di Kota Barabai, namun hanya enam hari tidur malam di lokasi sekarang. Sebelumnya berada di Desa Taras Padang Kecamatan Labuan Amas Selatan dan tinggal di pondok tengah persawahan. Lalu, suaminya tidak enak dengan perlakuan pemilik pondok, sehingga mereka pergi ke lokasi sekarang.

Selagi Arpiah bercerita, kemudian Syamsudin terjaga dari tidurnya, bangunlah kakek tersebut dan ikut berbicara, sementara nenek kembali berbaring di dalam kelambu.

Syamsudin juga menceritakan sama halnya dengan istrinya, namun kakek ini lebih panjang bercerita.

:Kalau Barabai ini saya sudah kenal, tahun 1970 saya pernah juga di sini dan bekerja. Setelah itu kembali ke Halong, setelah kebakaran tersebut saya kembali lagi ke sini untuk mencari anak saya dan keluarga istri saya di sini,” katanya.

“Beberapa kali saya mencari anak di kediamannya, tidak pernah bertemu. Bahkan dia menghindari saya, padahal anak saya kehidupannya di bilang sudah mapan. Mungkin melihat kondisi saya seperti ini, jadi dia tidak menerima saya lagi, saya tidak ridha dunia akhirat,” ujar Syamsuddin.

Mendengar perkataan kakek seperti itu, wartawan ini hanya diam, dan merasakan jantung yang tak karuan.

Syamsuddin melanjutkan ceritanya, keluarga istrinya di Desa Mandingin namun tidak pernah memprdulikan mereka. “Istri saya ke sana saja seperti tidak dihargai, jangan kan mamandiri (di ajak berbicara) menyuruh naik ke rumah pun tidak, seperti dikucilkan,” ujarnya.

“Saat ini kami hanya berharap belas kasihan orang-orang, syukurnya ada yang mau membantu kami, dari bantuan orang tersebut kami kumpulkan dan kalau sudah cukup kami menyewa rumah nantinya, biar harganya yang murah, namun punya tempat tinggal,” harapnya.

Saat disinggung apakah ada pemerintah ataupun instansi terkait yang mengunjungi, jawabannya ada, kemarin ada dari Dinas Sosial dari Banjarbaru dan akan membawa kami ke Banjarbaru, namun hingga malam ini tidak ada yang menjemput.

Jam di Masjid Shulaha Barabai berbunyi menunjukan waktu pukul 23.00 WITA, wartawan  pamit kepada kedua orang tua ini, dan mempersilahkan mereka beristirahat.

Sementara informasi terkini, atas bantuan pihak relawan, sepasang suami-istri ini sudah dibantu mendapatkan rumah sewa untuk tempat tinggal yang masih berada di Kota Barabai.(mj-41/sir)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *