Tanggapi Proyek Jalan Liang Anggang, Ketua Gapensi Kalsel Geram; Kerja tak Becus, Kontraktor Luar Kalau Tak Mampu, BlackList!

H Edy Suryadi
H Edy Suryadi

Menanggapi pelaksanaan proyek rehabilitasi jalan Liang Anggang, Kota Banjarbaru hingga Simpang Tiga Bati-bati, Tanah Laut di Kalsel yang kini amburadul, Ketua Gabungan Pelaksana Nasional Konstruksi Seluruh Indonesia (Gapensi) Kalimantan Selatan, H Edy Suryadi mengaku sangat geram.

KALSEL, koranbanjar.net – Ketua Gabungan Pelaksana Nasional Konstruksi Seluruh Indonesia (Gapensi) Kalimantan Selatan, H Edy Suryadi meminta kepada pihak berwenang agar memblacklist 2 kontraktor luar yang mengerjakan proyek jalan tersebut, karena dinilai tidak becus.

“Kami menilai pengerjaan proyek jalan itu dilaksanakan asal-asalan. Balai jalan juga harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor itu, khususnya proyek jalan di Liang Anggang dan Bati-Bati. Sebab, kontraktor luar yang mengerjakan tak becus dan asal-asalan, harus diblacklist! Kami pengusaha daerah mengawasi pekerjaan itu secara full,” ujar H Edy Suryadi dalam keterangannya kepada koranbanjar.net, Jumat (17/12/2021).

Edi menilai, BP2JK Kalsel dan Balan Jalan kurang teliti dalam menentukan kontraktor atau  memenangkan kontraktor yang tdk memeiliki peralatan di daerah. “Peralatan yang dimasukan dalam penawaran tidak mampu ditunjukkan atau didatangkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.

“BP2JK Kalsel dalam klarifikasi, baik alat maupun personil lapangan sesuai dokumenya disebut terpenuhi. Artinya, memilih kontraktor kurang teliti, sehingga berdampak terhadap pekerjaan yg merugikan masyarakat Kalsel .Bayangkan pekerjaan jalan asal-asalan, maka masyarakat tidak dapat menikmati jalan yang nyaman,” bebernya.

Edy Suryadi menegaskan, jika Balai Jalan tak mampu memberikan sanksi terhadap kontraktor itu, maka para pengusaha daerah akan turun ke jalan untuk memprotes bersama.

“Jadi kami ingatkan kepada Balai Jalan agar tidak membuat CCO atau keputusan apapun untuk menghindari target penyelesaian pekerjaan sesuai kontrak,” kata Edy Suryadi.

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, proyek rehabilitasi jalan Liang Anggang, Kota Banjarbaru hingga simpang tiga Bati-bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan senilai Rp74 miliar, bukannya mempermudah jalur transportasi bagi pengguna jalan. Sebaliknya, pengerjaan proyek rehab jalan tersebut justru mempersulit pengguna jalan.

Penelusuran koranbanjar.net di lokasi proyek rehabilitasi Jalan Liang Anggang hingga simpang tiga Bati-bati, belum lama tadi, sekarang hampir sepanjang jalan yang dikerjakan hancur. Seluruh ruas jalan menjadi kubangan lumpur dan becek. Kendaraan roda empat yang rendah dipastikan tidak bisa melewati jalan tersebut, kalau pun dipaksakan maka berpotensi terhenti di tengah kubangan lumpur.

Proyek rehabilitasi jalan Liang Anggang - Bati-bati. (sumber foto: Tribunnews.com)
Proyek rehabilitasi jalan Liang Anggang – Bati-bati. (sumber foto: Tribunnews.com)

Ironisnya, di pintu masuk menuju lokasi perbaikan tidak ada pengumuman yang memberitahukan bahwa kerusakan jalan teramat parah. Pengumuman hanya berisi pemberitahuan, berupa permohonan maaf jalan sedang terganggu.

Selain sepanjang jalan menjadi hancur, pembangunan siring jalan (bahu jalan) diduga tidak memiliki kualitas yang bagus. Pasalnya, ditemukan sejumlah bangunan siring yang retak hingga terbelah. Padahal, pembuatan siring itu sepertinya baru saja diselesaikan.

Kondisi jalan dari Liang Anggang hingga simpang tiga Bati-bati kini dipastikan hanya bisa dilintasi mobil angkutan berat atau mobil medan berat, seperti truk atau mobil yang tinggi. Selebihnya sulit untuk melintas, kecuali ‘merangkak’ dengan resiko terhenti di tengah jalan.

Seorang pengemudi mobil yang terjebak di lokasi jalan itu, Muhdi mengungkapkan, ketika memasuki lokasi pengerjaan itu, dia tidak menyangka akan melintasi jalan yang mengalami kerusakan teramat parah.

“Saya pakai mobil kecil, bawa penumpang tiga orang. Karena mobil kecil dan rendah, sehingga mobil nyangkut di kubangan dan amblas. Terpaksa saya turunkan semua penumpang, agar mereka jalan kaki melewati lokasi kerusakan jalan. Karena kalau tidak begitu, mobil saya tidak bisa melintas,” ujarnya.

Ditambahkan, jika perjalanan diteruskan dengan kondisi mobil penuh penumpang, diperkirakan mobil hanya mutar-mutar di lokasi kubangan. “Aneh, ini kan perbaikan jalan, sebelum diperbaiki jalan ini baik-baik saja. Eh, begitu diperbaiki, kenapa malah hancur begini? Meskinya kan tambah baik,” ucapnya kebingungan.

Untuk diketahui, proyek jalan yang ditangani sepanjang 2,7 Km. Paket pekerjaan menelan dana APBN sebesar Rp74 miliar.(sir)

 

Respon (4)

  1. Memang harus ada orang daerah yg kritis seperti pak Edi ini, kondisi pembangunan jalan itu memang parah. Anehnya tdk ada pejabat daerah yg care dg kondisi itu.
    Terimakasih pak Edi. Atas perhatiannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *