oleh

Soal Sungai Amandit Keruh, Kades Jelatang: Pemerintah Sudah Melihat Tapi Tidak Ada Hasil!

PADANG BATUNG, KORANBANJAR.NET – Desa Jelatang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) merupakan desa pertama merasakan dampak keruhnya Sungai Amandit. Kepala Desa (Kades) Jelatang Kaderiansyah Abiet mengaku bingung apa penyebabnya hingga saat ini tidak ada solusi.

Keruhnya sungai Amandit diduga berasal dari aktifitas pertambangan batubara beberapa perusahaan maupun pertambangan liar yang mana limbahnya mengalir di Sungai Amandit beberapa ratus meter dari bendung Amandit.

Kades Jelatang Kaderiansyah Abiet mengatakan sudah melapor ke Dinas LH. Ia mengaku sudah turun memantau beberapa kali, bahkan bersama camat, tetapi ia berujar itu tidak ada hasilnya.

“Bila hujan air sungai keruh ada mobil LH masuk, terus menerus seperti itu air tetap keruh,” ujarnya.

Soal Sungai Amandit Keruh, Kades Jelatang Pemerintah Sudah Melihat Tapi Tidak Ada Hasil!
Kepala Desa Jelatang Kaderiansyah Abiet. (foto: hidayat/koranbanjar.net)

Kendati mendapat dampak negatif, ia berujar tidak ada sama sekali menerima bantuan seperti dana CSR atau sejenisnya. “Kami tidak pernah menerima bantuan baik bantuan sama seperti desa Malutu dan Malilingin, ada tas pendidikan buat sekolah, hanya dapat keruhnya air dan teriaknya kemana?” tuturnya.

Ia menegaskan, hidup mati tetap membela masyarakat karena ia dipilih oleh masyarakat untuk memimpin. Ia berkomitmen sejak periode pertama menjabat sebagai kepala desa ia menolak “pemberian” dari pertambangan.

“Kalau mau memberi solusi silahkan cari tokoh masyarakat, jangan libatkan pambakal (Kades), apalagi mau memberi fee saya tidak mau menerima,” ujarnya menyindir pertambangan.

Ia mengungkapkan, beberapa tahun lalu pernah ada masyarakat yang mau mendemo tetapi dari Desa Malutu tidak berani karena takut dianggap memprovokasi sehingga dibatalkan.

Namun belakangan diketahui, menurut salah satu warga Desa Jelatang yang enggan publikasikan identitasnya menyebutkan; karena saat kelompok pendemo akan memasuki wilayah pertambangan, mereka sudah dihadang beberapa preman bersenjata tajam dengan tubuh kekar.

Kembali kepada pernyataan Kades Jelatang, ia menurutkan apabila warga ingin memprotes harus dilakukan secara spontan. “Kukatakan pada masyarakat, habis umurku tetap air ini keruh. Dan kalau menggerak harus spontan missal desa Lungau yang di ujung atau warga Muara Banta (Kandangan Kota) datang langsung saja bergabung dengan masyarakat sini,” imbaunya.

Diungkapkannya, saat ini ia sudah mencarikan solusi dengan membuat sumur per- tiga rumah penduduk untuk air bersih dan ia menegaskan pembuatan sumur itu nantinya bukan dari pihak pertambangan.

Ia berujar jika ada cap penambang liar hanya tumbal saja, sebab PKP2B-nya sudah jelas punya siapa dan mereka juga menjual batubaranya kepada siapa sudah jelas. “Itu hanya tumbal jika ada razia tambang illegal,” ujarnya.

Pantauan Koranbanjar.net langsung ke Desa Malutu, banyak lalu lalang truk kuning, ada beberapa titik sungai kecil aliran air keruh menuju sungai Amandit dan yang terbanyak dari aliran yang masyarakat menyebutnya Sungai Keminting. Di depan pintu masuk sebuah perusahaan bertuliskan; ‘larangan masuk bagi yang tidak berkepentingan’ dan tidak ada pos penjagaan hanya masyarakat berbaju biasa.

Karena bertepatan dinas sedang libur, selanjutnya koranbanjar,net akan melakukan konfirmasi kepada pihak terkait yakni Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (Dispera KPLH) HSS. (yat/dra)

Komentar

Berita Terkini