Seniman Panting Legendaris Banjarmasin Tahun 90-an Mulai Meniti Karir Sebagai Penjaga Malam

Salmani (Kai Mani) Pemusik Panting legendaris era 90 han.(foto: leon)
Salmani (Kai Mani) Pemusik Panting legendaris era 90 han.(foto: leon)

Lelaki tua bernama lengkap Salmani atau akrab dipanggil Kai Mani adalah seorang pemusik legendaris kesenian daerah Kalimantan Selatan, yakni musik panting di era tahun 90 an.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Salman saat diwawancarai koranbanjar.net baru-baru tadi di Eat Chantix Cafe & Resto, Kai Mani menceritakan secara singkat perjalanan dunia seni budaya yang digelutinya sejak zaman Gubernur Kalsel H. Muhammad Said (1984).

“Pada waktu itu saya hanya seorang penjaga malam di Sanggar Kesenian Taman Budaya selama 5 tahun,” ujarnya.

Seiring waktu, tahun 1985 ada pengangkatan pegawai, Kai Mani ternasuk salah satunya yang diangkat menjadi pegawai Taman Budaya di kantor yang beralamat Jalan Hasan Basri Kayu Tangi Banjarmasin.

Setelah menjadi pegawai Taman Budaya, menjadi sebuah kesempatan baginya untuk mempelajari musik gamelan dan panting kala itu secara otodidak.

“Hanya dengan melihat kawan main musik panting, dan mencoba  mengutak atik memainkannya dan itu saya lakukan setiap ada kesempatan di sela melaksanakan tugas,”  tuturnya.

Sekitar 1 tahun berjalan dan mulai lancar, Kai Mani bersama kawan – kawannya juga belajar secara otodidak membentuk kelompok seni, yakni ada tari, nyanyi, dan musik panting.

“Mulai dari situ kita diajak mengikuti festival dan beberapa kali meraih penghargaan lalu dibawa berkeliling ke pulau Jawa dan Sumatera memperkenalkan musik panting,”  kenangnya.

Kemudian tahun 1995  di  zaman pemerintahan Presiden Soeharto, Kai Mani bersama kelompoknya mewakili Kalsel mengikuti Festival Memperingati 50 tahun Indonesia Merdeka di Istana Negara.

Kelompok Kai Mani meraih juara umum katagori penyaji dan pemusik tradisional terbaik beserta 4 provinsi lainnya, yaki Jogyakarta, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalsel.

Selain keliling Indonesia, Kai Mani bersama kelompoknya juga pernah main di luar negeri,  yaitu 2 kali ke Australia, dan 6 kali ke Malaysia.

“Sejak itu, kita terus dipanggil untuk mengisi acara para pejabat pemerintahan maupun pejabat publik, kerap di Mahligai Pancasila,”  katanya.

Seiring waktu musik tradisional daerah jenis panting mulai berimprovisasi dengan musik modern. Dibanding tahun 90 han, musik panting selalu disukai dan diperlukan orang luar negeri khususnya luar Banua.

“Saya berharap musik kesenian daerah terus didukung, ditingkatkan dan harus dinomorsatukan, sebab orang luar paling suka dengan musik daerah yang memiliki khas ketimbang musik pop atau lainnya,” harap Kai Mani.

Sekarang anak – anaknya sebagai penerus melanjutkan menghidupkan kesenian daerah khususnya musik panting.(yon/sir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *