Sejumlah Koleksi Museum Kalsel, Antara Lain Tulang Gajah Berusia 10 Ribu Tahun

Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Jl Ahmad Yani Km 35,5 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Jl Ahmad Yani Km 35,5 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Museum Lambung Mangkurat di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan yang berlokasi di Jl A Yani Km 35,5 Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru memiliki berbagai koleksi yang bernilai sejarah. Antara lain, mulai tulang gajah sampai dengan peralatan untuk acara adat suku dayak.

BANJARBARU, koranbanjar.net –  Museum Kalimantan Selatan ini berusia cukup tua. Bahkan Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan tercatat dalam sejarah sebagai museum tertua di bagian Selatan. Museum yang pertama kali di resmikan tahun 1907 dengan nama Museum Bornoe.

Setelah penjajahan Jepang benda-benda bersejarah diporakporandakan. Koleksi-koleksi yang tersimpan diambil, kemudian artefak-artefak itu hilang dan musnah.  Tahun 1907 museum terletak di Masjid Raya atau sekarang disebut Masjid Sabilal Muhtadin. Dulu disitu adalah tempat bentengnya Belanda.

Di catatan sejarah tahun 1907 merupakan museum pertama. Selanjutnya di era kemerdakaan di tahun 1955 dibangun membangun kembali Museum Kalimantan. Kemudian Museum Kalimantan tidak bertahan lama, karena museum mengalami kebakaran. Sehingga semua koleksi terbakar semua.

Kemudian ada Kongres Kebudayaan Banjar di Banjarmasin mendorong untuk membuat museum baru lagi. Setelah dibangun kembali tahun 1974 dan diresmikan pada 10 Januari 1979 dengan nama Museun Lambung Mangkurat. Asal-mula nama Lambung Mangkurat diambil dari tokoh cerita masyarakat yaitu Hikayat Banjar.

Ada sejumlah koleksi yang terdapat pada Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, berikut yang ditulis koranbanjar.net.

Tulang Gajah

Tulang Gajah koleksi di Museum Kalsel. (foto: koranbanjar.net)
Tulang Gajah koleksi di Museum Kalsel. (foto: koranbanjar.net)

Berdasarkan catatan yang tertera pada artefak di Museum Lambung Mangkurat Kalsel, bahwa temuan tulang gajah yang sudah memfosil di Kecamatan Tamban di Kabupaten Barito Kuala. Menunjukkan pada zaman dahulu pernah hidup binatang gajah yang merupakan kekayaan fauna daerah Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil penelitian di laboratorium pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, diketahui pertanggalan keberadaan gajah ini berasal dari masa sepuluh ribu tahun lalu. Temuan serupa juga pernah terjadi di Sabah dan sarawak (Malaysia Timur).

Buaya Sapit

Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air. Buaya umumnya menghuni sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun adapula yang hidup di air payau. Makanan buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia. Buaya merupakan hewan purba, yang hanya sedikit berubah pada saat evolusi semenjak zaman dinosaurus. Di Kalimantan terdapat beberapa jenis buaya oleh masyarakat setempat dinamakan Buaya Sapit. Disebut demikian, karena mulutnya kecil memanjang menyerupai sapit (penjepit). Buaya jenis ini umumnya hidup di sungai dan rawa.

Rumah Banjar Bubungan Tinggi

Miniatur rumah bubungan Banjar. (foto: koranbanjar.net)
Miniatur rumah bubungan Banjar. (foto: koranbanjar.net)

Rumah adat Banjar yang ditempati khusus oleh keluarga bangsawan terbuat dari kayu ulin dengan ciri-ciri rumah di atas tiang dan atapnya yang menjulang tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan simbol-simbol semiotik yang diambil dari kepercayaan kuno suku bangsa Dayak Ngaju antara lain pada ukiran “Jamang” dan “Sungkul”.

Simbol-simbol nenek moyang ini menggambarkan kehidupan mitologi dari “pohon kehidupan batang garing” di mana leluhur mereka diyakinkan terlahir dari pohon kehidupan itu.

Kerajinan Kuningan Nagara

Kerajinan Kuningan Nagara di Museum Kalsel. (foto: koranbanjar.net)
Kerajinan Kuningan Nagara di Museum Kalsel. (foto: koranbanjar.net)

Kerajinan Kuningan Nagara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan keahlian teknik mencampur logam dengan metode cetak tuang (procede a cire perdue). Benda-benda kuningan di Nagara dibuat dengan cara tradisional, yaitu dibuat bentuk benda yang dikehendaki dengan bahan lilin lebah, dilapisi tanah liat dan diberi lubang, kemudian dibakar sehingga tanah liat menjadi keras dan mencair.

Cetakan dari tanah liat itu dituangi cairan kuningan, didinginkan dipecah cetakannya, kemudian hasil cetakan dihaluskan menggunakan kikir atau gurinda. Kerajinan Kuningan yang dihasilkan antara lain : alat rumah tangga dan baling-baling perahu.

Artefak lainnya adalah Lilin Wanyi,Cetakan Lilin Pola, Palu Kayu, Anak Pirikan, Ceret, Katam, Sasangan Kecil, Lasung Kuningan dan Alu, Roda Kapal, Piala dan Pola Cetakan.

Peralatan Religi Suku Dayak

Koleksi Museum Kalsel perlengkapan suku dayak. (foto: koranbanjar.net)
Koleksi Museum Kalsel perlengkapan suku dayak. (foto: koranbanjar.net)

Suku-bangsa Dayak merupakan penduduk asli Kalimantan Selatan yang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Bentuk religi mereka dapat dibedakan antara Balian (paderi) yang memimpin upacara keagamaan dengan Shaman (dukun desa) yang melakukan upacara pengobatan dan ilmu hitam.

Untuk melaksanakan upacara religi itu dipergunakan bermacam-macam alat upacara, item budaya dalam pakaian, gelang, ikat pinggang dan manik-manik, alat musik, patung dan senjata.

Seperti, Agung, Babun, Lumba, Kanong, Kalampat, Sarunai Bukit, Rantai Agung, Patung Bukit, Patung Pamili, Patung Panjaga Padi, Kalung Balian, Lamiang, Gelang Balian dan Ikat Pinggang.

Itulah sebagian benda-benda bersejarah yang terdapat di Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Kota Banjarbaru. Anda dapat melihat secara langsung artefak-artefak bersejarah Kalimantan di Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan yang beralamat di Jl Ahmada Yani Km 35,5 Kota Banjarbaru. (mj-36/sir)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *