oleh

SDN 4 Haruyan Dayak, Secercah ‘Angin Segar’ Pendidikan di Meratus

Tambahan sedikit ‘angin segar’ bagi pendidikan masyarakat penghuni hutan Meratus. Berlokasi di daerah sangat terisolir, dengan akses jalanan tak ‘bersahabat’, telah dibangun Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Haruyan Dayak.

MUHAMNAD HIDAYAT, Hantakan

SILIR suasana pegunungan, ‘jangkirik’ di ladang-ladang Meratus meraung ditiup angin, terdengar hingga SDN 4 Haruyan Dayak, yang baru diresmikan, Selasa (14/1/2020) lalu.

SD Negeri yang berada di tengah hutan Meratus itu, jawaban atas harapan pendidikan diidamkan masyarakatnya, yang selama ini sedikit tertinggal.

SDN 4 Haruyan Dayak, Secercah 'Angin Segar' Pendidikan di Meratus
Masyarakat hadir menyaksikan peresmian SDN 4 Haruyan Dayak, Selasa (14/1/2020) siang

Sebelum adanya sekolah itu, anak-anak harus menempuh perjalanan jauh turun naik gunung, jika ingin ke sekolah terdekat SDN 3 Haruyan Dayak.

Atau mereka bisa juga memilih SDN Muara Ulang, juga jaraknya tidak dekat.

Di sekitar SDN 4 Haruyan Dayak yang baru dibangun, terdapat sedikitnya 3 kampung adat, yakni Kumuh 1, Kumuh 2 secara administratif wilayah Desa Haruyan Dayak, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Lalu, SD Negeri sangat dekat dengan kampung adat Bangkaun, yang merupakan wilayah administratif Desa Ulang, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Kabarnya, sempat terjadi kesalahpahaman antara 2 daerah mengenai batas, namun keputusan dalam Permendagri menyatakan wilayah kampung Kumuh 1 dan 2 adalah milik HST.

Dibangunnya SDN 4 Haruyan Dayak, yang didirikan tepat 50 meter, sebelum batas antara 2 Kabupaten itu, juga bisa jadi menegaskan kepastian batas.

SDN 4 Haruyan Dayak dibangun pada April, dan selesai Oktober 2019 lalu, dengan dana Rp 2.021.846.000.

Bangunan merupakan program bantuan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hal itu merupakan satu-satunya diberikan di Kalimantan Selatan, atau hanya 6 SD se Indonesia.

Terdapat 6 ruangan kelas, ruangan guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan, ruangan serbaguna, ruangan UKS, serta rumah dinas pengajar, bahkan dilengkapi lapangan voli.

Plt Kepala SDN 4 Haruyan Dayak M Zaini menerangkan, pembelajaran dilakukan Senin hingga Sabtu. Tetapi terangnya, tiap Jumat 2 guru yang mengajar digantikan 2 guru honorer.

Jumlah siswa 31 orang, terdiri 18 orang kelas 1 dan 13 orang kelas 2.

Beberapa peserta didik di luar jumlah, ada yang sudah remaja. Diungkapkan Zaini mereka hanya ikut belajar, namun ijazahnya nanti dari pendidikan ketertinggalan (Paket).

Hal itu terangnya, dimaksudkan supaya semua masyarakat di daerah bisa baca tulis, dan tidak dibodohi orang.

Zaini mengisahkan, sejak sekolah mulai aktif Juli 2019 lalu Juli 2019, sudah sering jatuh bahkan bahu dan lengan kiri-kanannya cedera.

Belum lagi alat transportasi yang digunakan dikeluhkannya, seperti rantai sering bermasalah.

“Saya harap nantinya, minimal ada motor dinas untuk kepala sekolah,” harapnya.

Bupati HST Chairiasyah mengenai kesejahteraan guru mengatakan, sudah tunjangan guru untuk sekolah terpencil dan sekolah sangat terpencil.

Ke depan ujarnya, setelah melihat kondisinya akan mengupayakan fasilitas transportasi, utamanya jalanan yang nyaman.

Chairiansyah berharap dengan adanya sekolah yang representatif, siswa menjadi semangat belajar.

“Akan beda hasilnya, belajar di sekolah bagus dengan yang kurang layak atau hanya di bawah pohon. Bahkan guru-guru juga akan merasa lebih enjoy mengajar,” ujarnya.

Lahan pembangunan sekolah merupakan hibah dari tokoh adat setempat bernama Ijum, Chairiansyah mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, atas kepedulian pada pendidikan untuk masyarakat. (dya)

Komentar

Jangan Lewatkan