Riwayat Datu Nuraya, Wali Allah Pembawa Kitab Barencong Bermakam di Tapin

  • Bagikan
Makam Datu Nuraya atau Syekh Abdul Rauf di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, (foto: Khazanahassalaf.id)
Makam Datu Nuraya atau Syekh Abdul Rauf di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, (foto: Khazanahassalaf.id)

Riwayat Datu Nuraya memang tidak banyak diketahui oleh masyarakat, Kemunculannya pertama dan terakhir di daerah yang bernama Pantai Jati, Munggu Kerikil, Kabupaten Tapin sangat misterius. Bahkan pada pertama kali muncul, namanya juga tidak diketahui, sehingga nama Nuraya disematkan oleh Datu Suban sesuai dengan kedatangannya pada Hari Raya. Dialah pembawa Kitab Barencong yang kini terkenal. Legenda Datu Nuraya beredar dari mulut ke mulut, kini dia bermakam di Pantai Jati, Munggu Kerikil di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Datu Nuraya juga dikenal dengan nama Syekh Abdul Mu’in, sebagian adapula menyebut Syekh Abdul Jabbar serta menyebut Syekh Abdur Ra’uf.

Kemunculan Datu Nuraya

Dalam kisah rakyat yang beredar, kono di Pantai Jati, Munggu Karikil dekat Liang Macan, tetangga Desa Tatakan tinggal seorang guru miskin, namun sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya bernama Datu Suban. Karena kemiskinannya, Datu Suban dan istri hanya makan singkong setiap hari.

Pada saat lebaran Hari Raya, Datu Suban kedatangan 13 muridnya, yaitu: Datu Murkat, Datu Taming Karsa, Datu Niang Thalib, Datu Karipis, Datu Ganun, Datu Argih, Datu Ungku, Datu Labai Duliman, Datu Harun, Datu Arsanaya, Datu Rangga, Datu Galuh Diang Bulan dan Datu Sanggul.

Ketika sedang menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah, tiba-tiba datang seorang lelaki bertubuh sangat besar. Serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang tersebut.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” kata orang besar, sambil mendekat. “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab para Datu yang tengah berkumpul.

Lalu Datu Suban berkata kepada murid-muridnya bahwa orang yang memberi salam itu insya Allah akan berniat baik dan tidak membahayakan mereka.

“Maaf, siapa saudara yang datang dan darimana asalmu serta apa maksud saudara ?” tanya Datu Suban. Si raksasa hanya menjawab dengan ucapan dzikir, La ilaha illallah. Setiap Datu Suban bertanya selalu dijawab dengan kalimat tauhid La ilaha illallah, hingga 7 kali ditanya dan dijawab dengan 7 kali dzikir tauhid itu. Setelah 7 kali dzikir tersebut, tiba-tiba raksasa itu ambruk dan tidak bergerak.

Lalu para Datu menghampiri dan memeriksanya, ternyata orang besar itu telah meninggal dunia, serempak mereka berujar “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.”

Wafat dan Memakamkan Datu Nuraya

Melihat keadaan yang demikian, para Datu yang berjumlah 13 orang tadi bingung, bagaimana cara memandikan dan menguburkannya? Apalagi saat itu musim kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras, sedang lubang untuk penguburan harus lebar dan panjang sesuai dengan tubuhnya yang sangat besar. Dan untuk memandikannya juga diperlukan air yang sangat banyak.

Konon di tengah kebingungan para datu, tiba-tiba hujan turun dengan lebat dan ketika mereka mengangkat jenazah dengan mengerahkan tenaga penuh, ternyata tubuh orang besar itu sangat ringan, hanya seperti segumpal kapas. Serentak mereka berseru Subhanallah.

Sebelum mereka mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah tas selempang dari dalam pakaiannnya, setelah membukanya ternyata terdapat sebuah kitab yang akhirnya terkenal dengan sebutan “Kitab Barencong”.

Para Datu mulai membagi tugas, membersihkan mayat adalah Datu Argih, Datu Niang Thalib, Datu Ganun, Datu Labai Duliman, Datu Ungku, sedangkan Datu Karipis bertugas mencari batu nisan dari batu alam. Sedang yang lain membuat lubang kubur di gunung Munggu Karikil dekat Munggu Tayuh.

Konon lubang yang digali tidak cukup untuk mengubur jenazah itu, terpaksa kakinya harus dilipat sehingga tubuhnya seperti huruf hamzah.

Pemberian Nama Nuraya

Pada hari ketujuh setelah meninggalnya raksasa itu, Datu Suban membuka kitab yang ditemukan pada jenazah tersebut di hadapan 13 muridnya sambil mengucap basmalah, ternyata berisi bermacam-macam khasiat ilmu dunia dan akhirat.

Akhirnya orang besar atau raksasa tersebut di beri nama “Nur Raya” karena dia datang pada hari raya dan wafat pada hari itu juga dan sesuai dengan badannya yang “raya” atau sangat besar.

Nuraya berarti pembawa cahaya yang sangat luas seperti raya, dengan panjang kuburnya kurang lebih 60 meter (dengan kaki dilipat, kalau tidak dilipat mungkin bisa sampai 100 meter) dan lebar kurang lebih enam meter.

Setelah para Datu meninggal, tidak ada yang mengetahui di mana letak makam Datu Nuraya. Namun beberapa tahun kemudian penduduk Munggu Tayuh, Tatakan, ketika malam hari sering melihat cahaya yang memancar dari tanah di sekitar Benteng Munggu Tayuh naik ke atas langit. Salah seorang penduduk yang penasaran, berusaha mencari asal sumber cahaya tersebut, dan orang itu menemukan 2 batu yang besar dengan jarak 45 meter lebih, dan persis seperti batu nisan yang menghadap ke arah kiblat. Penduduk tersebut bernama Baseran yang bergelar Utuh Karikit.

Sekarang makam atau kubah Datu Nuraya telah menjadi kunjungan para penziarah dari berbagai daerah, tak hanya Kalimantan Selatan. Makamnya terletak di tanah yang agak tinggi, di tengah pepohonan yang rindang. Untuk dapat menuju makam Datu Nuraya di Kabupaten Tapin dari Bandara Syamsuddin Noor Kota Banjarbaru membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Jarak tempuh dari bandara ke lokasi makam diperkirakan antara 60 – 70 kilometer.(sumber; wikipedia.org)  

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *