oleh

Putri Sultan Banjar Hadiri Undangan Presiden RI, 17 Agustus Di Istana Negara

JAKARTA,koranbanjar.net – Untuk kesekian kalinya Kesultanan Banjar mendapatkan undangan kehormatan dari Presiden RI Ir H Joko Widodo menghadiri peringatan detik-detik Dirgahayu Proklamasi Kemerdekaan RI.

Di tahun 2019 ini, Kesultanan Banjar menitahkan kepada Yang Mulia Putri Dhia Karima memenuhi undangan orang nomor satu di Republik Indonesia melalui pemerintah pusat menghadiri perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Sabtu (17/8/2019).

Putri Sultan Banjar Hadiri Undangan Presiden RI, 17 Agustus Di Istana Negara
Dua anggota BWU membawa panji Kesultanan Banjar dalam kirab budaya pada 17 Agustus 2019.

Selain tuan putri pewaris pelestari adat istiadat dan budaya Banjar yang hadir pada puncak peringatan HUT KE-74 Kemerdekaan RI, didampingi juga para perwakilan dan kerabat Kesultanan Banjar, serta dua prajurit dari Batalyon Infanteri (Yonif) 623/Bhakti Wira Utama untuk mengawal panji Kesultanan Banjar dalam kirab budaya nusantara bersama kesultanan dan kerajaan lainnya di Indonesia, dari lapangan Monas menuju Istana Negara.

Kedua prajurit yang mendapatkan amanah ialah Serda Abijar dan Prada Pujiana Safaat.

Sempat tenggelam ratusan tahun lalu, Kesultanan Banjar yang dideklarasikan kebangkitannya 6 Desember hingga 10 Desember 2011 lalu oleh Raja Muda Kesultanan Banjar, Sultan Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah membuahkan hasil melebihi ekspektasi.

Barakat cangkal dan gigih, upaya Sultan beserta seluruh kerabat kesultanan di seluruh Indonesia, khususnya di Banua Banjar Kalimantan Selatan, Kesultanan Banjar telah diakui keberadaannya oleh negara. Tidak hanya pengakuan lisan dan formil administratif, tapi juga pengakuan peran pentingnya dalam struktur kebangsaan.

Sultan Banjar, Sultan Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah dipercaya memimpin Forum Sultan dan Keraton Nusantara (FSKN) sebagai bukti pengakuan dari masyarakat keraton tidak hanya di Indonesia tapi juga wilayah Nusantara seperti Sabah, Brunei, Vietnam dan lainnya.

“Kerapatan Kerajaan Nusantara memiliki peran penting menjadi katalisator budaya dan menjadi jalan tengah yang mempersatukan bangsa-bangsa Nusantara agar tidak dilanda perpecahan”, terang Sultan Khairul Saleh.

Sejak 4 tahun terakhir Kesultanan Banjar  tidak pernah absen diundang berhadir dalam Upacara Kenegaraan Peringatan Hari Kemerdekaan RI di Istana Negara. Panji kebesaran Kesultanan Banjar menjadi bagian tak terpisahkan dari Kirab Kebudayaan Kemerdekaan Indonesia di Lapangan Monas, Jakarta.

Dihari Kemerdekaan ke-74 RI kali ini, Kesultanan Banjar memasuki era baru. Pesan kuat tentang generasi muda disampaikan secara simbolik agung oleh Sultan Banjar dengan mengutus generasi muda Kesultanan untuk berhadir di Istana Negara.

“Tahun ini Ulun memutuskan mengutus Putri Karima hadir di Istana Negara. Putri Karima telah siap dan dipersiapkan untuk menjadi salah satu pembawa pesan baik Kesultanan kepada negara dan bangsa,” ucap Sultan.

Di era yang lalu Sultan mengutus generasi pengayom untuk berhadir pada acara-acara kenegaraan, diwakili oleh Almarhum Pangeran Nooryakin yang telah mangkat beberapa waktu lalu.

Kali ini utusan dipimpin langsung Yang Mulia Tuan Puteri Dhia Karima didampingi dua praajurit Yonif 623/Bhakti Wira Utama sebagai penggiring Panji Kesultanan.

Fakta ini menunjukkan komitmen besar Sultan Banjar untuk melibatkan generasi muda dalam pergulatan budaya dan tradisi di era millenial. Sultan sadar betul bahwa deklarasi maangkat batang tarandam Kesultanan Banjar tidak akan lestari jika tidak melibatkan generasi muda.

Yang Mulia Putri Dhia Karima, putri bungsu Sultan Banjar telah tumbuh menjadi simbol Putri Kesultanan Banjar yang teguh pendirian namun tetap tunduk dan tenggelam dalam kelembutan sopan santun tata krama keraton. Kehadiran Putri Karima di Istana Negara menjadi titik cerah dalam sejarah pewarisan budaya di Kesultanan Banjar.

Sultan Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah yakin betul bahwa keputusannya mengangkat Putri Karima kepermukaan di usia yang sangat muda adalah hal yang tepat saat ini. Indonesia ke depan adalah Indonesia yang bertumpu pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, terutama generasi muda.

Untuk itu Sultan menghendaki generasi muda tidak boleh tercerabut dari akar tradisi dan budaya.

“Putri Karima harus dapat menjadi contoh generasi muda yang berpendidikan, modern, maju tapi tetap sopan dan santun dalam tradisi dan budaya”, pungkasnya. (dya)

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: