Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Presiden Jokowi Mau ke Kalsel, Budayawan Sindir Pemerintah Daerah; Tak Perlu Manipulasi Keadaan

  • Bagikan
Budayawan Bahasa Banjar Kalimantan Selatan, Noorhalis Majid. (foto: ist)
Budayawan Bahasa Banjar Kalimantan Selatan, Noorhalis Majid. (foto: ist)

Presiden Jokowi akan kembali datang ke Kalimantan Selatan untuk meresmikan Jembatan Sungai Alalak di Kabupaten Barito Kuala. Sementara itu, Pemerintah Daerah sibuk berbenah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan tamu agung. Hal demikian mengundang perhatian Budayawan Kalsel, Noorhalis Majid, hingga menyampaikan komentar bernada sindiran.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Pernyataan bernada sindiran dikemukakan Budayawan Banjar Kalimantan Selatan, Noorhalis Majid kepada media ini di Banjarmasin, Rabu (20/10/2021).

“Seperti halnya di rumah tangga juga, kalau ada tamu yang sangat dihormati datang, kita akan menyiapkan rumah, menatanya supaya nampak layak didatangi,” tuturnya.

Apalagi lanjut mantan Kepala Ombusdman RI Kalimantan Selatan ini, misalkan kondisinya tidak siap kedatangan tamu, maka akan nampak semakin panik mempersiapkan diri.

“Semakin panik, menggambarkan semakin tidak siap,” katanya.

Artinya, rumah tersebut tidak siap menerima tamu agung. Kalau semuanya sudah tertata rapi, tidak perlu banyak persiapan.

Noorhalis menambahkan, tugas menata dan membenahi daerah itu merupakan tugas wajib bagi pemerintah, dalam hal ini kepala daerah. Maka, kapanpun tamu agung datang, selalu siap.

Jalan sudah mulus, kota bersih dari sampah. Bahkan yang paling penting, jangan sampai “kemiskinan” tampak bertebaran dalam berbagai wujud, misalnya dalam bentuk banyaknya peminta-minta, gelandangan dan lainnya.

Karena tugas pemerintah adalah menangani masyarakat agar hidup tidak miskin. Bila kemiskinan semakin nampak dan sudut-sudt kota, termasuk perempatan jalan menjadi “etalase” kemiskinan, menggambarkan pemerintah tidak bekerja serius.

“Kalalu panik, kebudayaan banjar menyindirnya, handak bahira, hanyar mencari luang, sudah terdesak, serba mepet, baru berbenah dan menata. Karena serba terdesak,” tuturnya lagi.

Karena itu pula, imbuhnnya, pasti yang dilakukan agar tidak kehilangan muka di hadapan tamu agung. Setelah tamunya pulang, segala hal yang tidak tertata, terurus dan tertangani dengan serius, akan kembali pada kondisi sebenarnya.

Di akhir narasinya, Noorhalis berharap ada baiknya ini menjadi refleksi, bahwa kita harus serius menata dan mengurus berbagai persoalan kota dan banua kita.

“Sehingga kapanpun tamu agung datang, kondisinya sama baiknya, tidak perlu panik mempersiapkan diri. Tidak perlu pula memanipulasi keadaan agar terkesan baik,” tutupnya.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *