oleh

Pilkada dan Cerita Angin Warik

Oleh: Hairiyadi alias Iday Ranban

——————————————————-

HairiyadiSEPERTI kita ketahui bersama, Provinsi Kalimantan Selatan saat ini sedang bersiap melaksanakan pemilihan kepala daerah di tahun 2020 mendatang. Bersamaan dengan itu pula tujuh kabupaten/kota di Kalsel turut melaksanakan hal serupa.

Diantara 7 kabupaten/kota itu adalah, Banjarmasin, Banjarbaru, kemudian di wilayah paling ujung Kalimantan Selatan dengan panorama keindahan pantai dan laut cantik yakni Kabupaten Kotabaru. Disusul daerah pemekaran Kotabaru yang terus signifikan pertumbuhan ekonominya, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).

Pelaksanaan dipersiapkan juga di kabupaten berjuluk Serambi Mekkah yang bertabur ulama dan santri, Kabupaten Banjar. Lantas, kabupaten yang memiliki julukan Borneo Van Java, Hulu Sungai Tengah (HST). Selanjutnya, hasil pemekaran Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang sekarang konon katanya lebih maju dari induknya, Kabupaten Balangan.

Meski banyak pihak menilai pelaksanaan pesta demokrasi di Kalsel masih lumayan lama, berbagai pemberitaan membuktikan bahwa saat ini, baik pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) di tingkat wilayah provinsi dan tujuh kabupaten kota di atas, termasuk para bakal calon kepala daerah mulai unjuk muka atau diam-diam mulai tebar pesona.

Demikian pula riak dan gelombang politik di level masyarakat juga mulai terasa. Dukungan itu bisa berupa gaya militan, sesuai arah mata angin, sampai pendukung ikut di batang timbul, pendukung musiman, barisan relawan, kelompok hingga komunitas saling menyatakan diri turut mendukung dan mendorong kandidatnya agar maju dalam kontestasi.

Dari semua gambaran di atas, teringatlah saya tentang cerita angin warik (monyet). Istilah satir tersebut dikenal dalam masyarakat Banjar sebagai, ambung bakul  atau ambung warik yang dalam prakteknya adalah memberikan dukungan kepada si bakal calon, dan dukungan itu ibarat tiupan angin surga.

Sejauh bisa mengingat, cerita angin warik mengisahkan tentang tiga angin yang berlomba menjatuhkan si warik yang sedang duduk santai di atas pohon. Ketiga angin tersebut adalah, angin kencang, angin badai, dan angin sepoi.

Singkat cerita, angin kencang lebih dulu mencoba kemampuannya namun gagal karena si warik telah siap sangat kuat berpegangan.

Giliran kedua, angin badai juga unjuk kemampuan dan akhirnya menyerah karena warik bertambah kuat memeluk pohon.

Tibalah angin sepoi unjuk kebolehan. Angin sepoi yang kekuatan tiupannya paling lemah sempat ditertawakan si angin kencang dan angin badai. Justru ketenangan angin sepoi dengan tiupan perlahanmampu membuat warik terlena dan mengantuk, tertidur dan lengah terhadap hembusan angin sepoi yang pintar.

Dari gambaran cerita di atas, sebenarnya kita bisa mengambil hikmah terkait dukungan yang dihembuskan kepada para bakal calon kepala daerah. Sikap hati-hati dan waspada para kandidat sangat diperlukan, agar tidak tergelincir dan berakibat fatal, menjerumuskan kandidat dalam kehancuran.  Memang positive thinking tetap dipegang. Namun, kita tak pernah tahu ternyata ada hembusan angin sepoi di sekitar kita. Waspadalah! []

Komentar

Jangan Lewatkan